
Pengkhianat.
Waktu merambah menuju dini hari, ketika Bella nyaris terlelap dalam tidurnya. Sebagai pengantin baru yang harusnya mereguk sari manis madu pernikahan, nyatanya harus gugur harapan, akibat Ethan terlampau sibuk didepan layar laptopnya.
"Bella, bangunlah. Aku memiliki kejutan untukmu," ucap Ethan pelan, dengan sorot mata tajam seperti biasa. Oh tidak, bahkan ini lain dari biasanya.
Bella yang setengah sadar dan setengah mengantuk, mencoba bangun dan menuruti keinginan sang suami. Wanita itu mengerjapkan matanya beberapa kali, untuk menggapai kesadarannya kembali.
"Bangunlah. Aku menemukan bukti yang akurat mengenai mata-mata musuh yang menyusup ke dalam kediamanmu. Cepat ke kamar mandi dan basuh wajahmu agar kau lebih sadar," perintah Ethan, yang lantas kembali menekuri layar laptopnya.
Bella bangkit tanpa menjawab dan banyak kata, sebelum akhirnya ia ke kamar mandi. Inginnya marah dan merutuk Ethan saat itu juga, sayangnya, Bella merasakan aura lain yang Ethan miliki saat ini, membuat nyali Bella menciut seketika.
"Ada apa?" Tanya Bella dengan duduk di tempatnya tidur tadi. Ethan yang duduk sambil memangku laptopnya, membawa laptopnya ke meja dan Ethan duduk di sofa. Tanpa diminta, Bella menyusul Ethan, untuk ikut duduk di sofa.
"Aku menemukan chat dua orang terdekatmu, yang sangat gamblang. Kedua wanita itu saling terhubung satu sama lain, dan berpusat pada seseorang lelaki bernama Luiz Edward. Lihat, baca ini dan pahami arti kata-katanya. Ini terlalu jelas, kau keterlaluan jika tak bisa mengartikan," ucap Ethan kemudian.
Si pembunuh bayaran itu memutar laptopnya, mengarahkannya pada Bella agar Bella mengerti. Dan benar saja, Bella membuka matanya lebar-lebar.
Jantung Bella serasa di hentak begitu saja dari rongga dadanya. Nyeri terasa menjalari kepala Bella, dan membuat Bella merasakan sesak saat itu juga. Mata Bella memanas, meski ia berusaha menahan mati-matian, agar air matanya tak jatuh tanpa tahu malu. Mengapa harus ada pengkhianat yang selama ini Bella sayangi dan hargai di rumahnya?
"Kau sudah mengerti sekarang?" Tanya Ethan, yang lantas meraih sebuah permen diatas meja, membukanya dan melahapnya dengan cara anggun.
Ada beberapa situasi, yang mengharuskan Ethan mengonsumsi permen saja, dibandingkan harus merokok. Seperti malam ini misalnya.
__ADS_1
"Ini ... ya Tuhan," pekik Bella dengan suara tertahan. Bella berharap, ini hanyalah mimpi, agar Bella tak merasakan sakit hati secara nyata.
"Sebuah kepercayaan yang kau tanam dan kau berikan pada seseorang, jangan terlalu besar, Bella. Lihat hasilnya ketika kau di khianati olehnya. Baca di paragraf paling atas pesannya pada lelaki yang bernama Luis itu. Dia yang membantu Luis dan membocorkan informasi mengenai agenda harian mendiang suamimu. Kau tahu sekarang? Bahkan orang terdekatmu bisa menjadi ular dan buaya yang bisa menerkammu, menghabisimu kapanpun yang mereka mau," ungkap Ethan lagi.
Lelaki itu lantas bangkit, meraih dan memainkan ponselnya sebentar.
"Ethan ... astaga, aku tidak menyangka. Mengapa mereka tega menusuk suamiku dari belakang, selepas semua kebaikan yang suamiku lakukan. Aku memang benar-benar bodoh, Daniel. Mengapa aku tak curiga?" lirih Bella dalam sesal.
"Adakah yang mencurigakan sebelumnya, Bella?" tanya Ethan datar. Lelaki itu meletakkan ponselnya, dan kembali mengotak-atik laptopnya.
"Lihat, bahkan mereka juga tengah merencanakan kematian Max dan Ramon, yang menjadi pelindungmu, mereka dalam bahaya dan bisa mati kapan saja," tambah Ethan lagi.
Bella makin syok, saat membaca sebuah pesan yang tertera di sana.
"Jangan khawatir, di setiap sudut rumahmu, sudah terpasang sistem keamanan yang sudah aku desain sedemikian rupa. Tak akan ada yang menyadari, bahwa mereka tengah diawasi sekarang. Sekarang yang perlu aku tahu adalah, kau akan apakan dua pengkhianat di rumahmu itu?" tanya Ethan kemudian.
Bella terdiam, merasa tercenung dan seolah tidak tahu harus bagaimana. Ada selaksa kecewa yang kini tengah menggeluti hatinya.
"Aku ingin, hadapkan dia padaku sebagai tersangka, Ethan. Aku ingin mereka mengakui dan memberikan alasan, mengapa mereka tega menghabisi aku dan anakku," pinta Bella dengan suara bergetar.
Ethan menatap Bella cukup lama. Wanita itu meski tampak lemah, tetapi memiliki tekad dan pendirian kuat. Namun disisi lain, kerapuhan wanita itu, seolah menarik Ethan untuk melindunginya. Ethan sendiri bingung. Bahkan bersama Leticia selama dua tahun terakhir, tak juga membuat Ethan memiliki emosi aneh ini padanya.
"Sudahkah kau pikirkan risiko dan konsekuensinya? Jika kau bertemu dengannya nanti, tak boleh bila mereka masih menghembuskan napas setelahnya, Bella, jika kau ingin kau yang selamat. Akan tetapi jika kau menunda, menghabisi mereka lebih lama lagi, kau bisa menempuh jalan lain untuk memberi mereka efek jera. Terserah padamu atas keputusan ini. Hanya saja, aku memberi sedikit gambaran, meminimalisir luka dan kenangan yang akan kau tanggung di masa depan," ungkap Ethan dengan tenang.
__ADS_1
Bella menatap Ethan, menampakan sorot luka yang tak bisa Bella sembunyikan lagi.
"Tidak akan lagi, Ethan. Aku tak akan menyesali keputusanku. Nyawa anakku dan mendiang suamiku, seolah tak lagi berharga di mata mereka, padahal mereka tahu bahwa aku sangat menyayangi mereka. Jangan menunda waktu lagi!" seru Bella dengan dendam menyala.
"Baiklah, Bella. Anak buahku yang akan membawamu ke suatu tempat setelah ini. Aku sendiri yang akan membawa dua pengkhianat itu, untuk bertemu denganmu," Ethan bangkit, meraih jaket dan jubah kebesarannya, dengan gerakan cepat.
Tak pernah Bella bayangkan sebelumnya, sosok yang selama ini ia beri kepercayaan sepenuh hati, harus mengkhianatinya dan memberi Bella banyak luka. Bahkan dengan kejamnya, dua pengkhianat itu juga tega, melibatkan diri untuk menghabisi mendiang Daniel dan putra Bella.
Jangan tanya bagaimana luka yang harusnya Bella sembuhkan, sampai kini pun, tak bisa dan justru menambah deretan luka baru.
Dulu Bella berpikir, bersikap baik pada dua wanita itu mungkin saja bisa mendapatkan balasan baik pula untuk Bella. Sayangnya, semua yang Bella pikirkan itu salah. Alih-alih kebaikan, Bella jutsru mendapatkan perlakuan begini.
Jika hanya difitnah, dimaki, dicaci, dibenci tanpa sebab, dikucilkan apalagi direndahkan dan diremehkan, Bella masih bisa memberi toleransi. Tetapi ini nyawa yang menjadi tukarnya. Bukankah nyawa begitu sangat berharga?
Tak ingin terlalu larut dalam luka dan tangis, Bella lantas segera berganti pakaian, menunggu anak buah suaminya yang akan menjemputnya.
Bella gemetar. Kantuk yang sedari tadi dirasakannya, kini seolah musnah. Rasanya menyakitkan, tetapi Bella harus tetap mendapatkan keadilan sendiri untuk dua nyawa yang sangat berharga di matanya itu.
'Aku akan memberikan keadilan untukmu Daniel, dan juga pada putra kita. Kuharap setelah ini, kau bisa beristirahat dengan tenang di sisi Tuhan. Mereka, harus merasakan luka yang aku dan kau rasakan.'
Batin Bella perih.
**
__ADS_1
Tebak, siapa dua orang yang terlibat menjadi mata-mata itu?