Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran

Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran
Episode 22


__ADS_3

Bella menatap bangunan megah di tengah hutan itu. Sebuah bangunan yang berdiri kokoh di tengah hutan, yang tak akan ada yang berani melewati tersebab ketakutan akan terornya.


Bella sendiri tidak hapal, arah jalan menuju tempat ini. Yang menjadi tanya Bella, bagaimana mungkin seorang pembunuh memiliki selera yang demikian tinggi? Terlebih, pasca pernikahan Bella, Bella juga menyimpulkan tentang selera Ethan, yang memilihkan gaun mewah untuknya.


Bahkan Max juga pernah berkata, bahwa Ethan adalah pribadi yang lembut dan begitu perduli. Ah, jika dipikir-pikir, masa bodoh dengan semua itu. Bella merasakan lelah, akibat tubuhnya yang tak beristirahat selama semalaman.


"Ayo, ikut aku ke kamar. Aku akan tunjukkan," ungkap Ethan kemudian


Hingga tak lama kemudian, Bella tiba di sebuah kamar yang begitu teduh dan asri. Semacam kamar terbuka dengan akses alam yang begitu menyejukkan.


Ranjang putih dengan selimut putih polos layaknya fasilitas hotel, dengan taman mini di tengah ruangan. Atap kaca tembus pandang yang lurus mengitari taman, membuat Bella dapat leluasa memandang langit lepas. Sungguh, kamar ini tampak di desain oleh seseorang dengan selera setinggi langit.


"Ethan, ini .... " Bella tak melanjutkan kalimatnya. Wanita itu lantas mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, sambil memandang menu daging panggang diatas meja.


"Aku hanya memasak ini untuk sarapan sekaligus makan siang kita. Hanya apa kadarnya," ujar Ethan kemudian.


"Kapan kau memasaknya? Bukankah kau baru saja ke dapur?" tanya Bella keheranan.


Aura yang biasanya gelap dan mengerikan yang Ethan miliki, kini telah pergi entah kemana, dan itu terjadi di luar kesadaran Bella. Bella seolah nyaman, dan bisa mengobrol lebih leluasa dengan Ethan, layaknya suami normal.


"Di kulkas sudah tersaji. Sebelum berangkat ke altar, aku memasaknya dan memang berniat untuk memakannya hari ini," jawab Ethan.


Kening Bella berkerut, seolah heran sekaligus tak percaya.

__ADS_1


"Kau memasaknya? kau, kau bisa segalanya?"


Termasuk menjadi hacker dan pembunuh bayaran?


Tambah Bella dalam hati.


"Ya, tentu saja. Ayo makan, Bella. Setelah ini istirahatkan tubuhmu. Di luar rumah ini sudah ada anak buahku yang berjaga, dan aku akan pergi ke suatu tempat. Kau, jangan pergi kemana pun sebelum aku kembali," ungkap Ethan kemudian.


"Memangnya kau mau ke mana?" yang Bella lagi.


Dan tatapan tajam Ethan, Bella dapatkan.


"Itu menjadi urusan dan rahasiaku. Jadi kau diamlah dan jangan banyak tanya. Aku akan memburu Luis Edward. Cepat atau lambat, lelaki itu pasti tahu bahwa dua mata-matanya telah tewas di tangan kita, dan akan mengambil tindakan drastis untuk memburumu," jawab Ethan lagi.


"Ya, baiklah," jawab Bella lirih.


Sejak menyepakati kesepakatan dengan Ethan, Bella lebih sering melakukan kebohongan. Tak jarang, Bella juga merasa bahwa dirinya menjadi pribadi yang jauh berubah.


"Ethan, kau ... apakah kau tak keberatan bila aku meminta untuk Leticia datang kemari? Jika kau pergi, aku tak memiliki teman yang bisa kuajak bicara," tanya Bella lirih.


Tak bisa Bella membayangkan, jika dirinya harus sendiri, mematung tanpa teman bicara, atau sekedar pelayan yang melayani.


"Ini adalah salah satu tempat tinggalku yang tak diketahui oleh Leticia, Bella. Jadi lebih baik kau bersabar dulu," ungkap Ethan pelan.

__ADS_1


Mau tak mau, Bella mengangguk, tak ingin ada perdebatan antara dirinya dan juga Ethan.


**


Di sebuah ruangan yang cukup luas, seorang lelaki tengah bicara dengan salah satu bawahannya. Dia adalah Luis Edward, lelaki yang tengah mengawasi Bella dan segala aktivitas harian janda mendiang Daniel itu.


Selain ada sesuatu yang terhubung antara mendiang Daniel dan dirinya, Luis juga mempertimbangkan banyak hal sebagai alasan tak segera menghabisi Bella. Tetapi kali ini, Luis semakin dilanda was-was, akibat dua mata-matanya yang bekerja di kediaman Bella, tak kuah memberi kabar.


Ponsel mereka pun sudah dilapisi dengan sistem keamanan yang tinggi. Mustahil jika sesuatu tidak terjadi pada mereka.


"Maaf, Tuan. Dua mata-mata kita tidak bisa dihubungi sama sekali. Sepertinya mereka tengah berada di suatu tempat yang sulit jangkauan signal," ungkap salah satu bawahannya, yang memiliki keahlian di bidang informasi komunikasi.


Lusi menatap dua orang yang tengah menghadap dirinya.


"Aku curiga, mereka di sekap. Jangan-jangan, ada seseorang yang mengetahui misiku. Apakah terjadi kesibukan atau keributan di dalam kediaman janda mendiang Daniel itu? Aku hanya khawatir, Max si kaki tangan mendiang Daniel itu, tahu tentang pelayan dan sahabatnya yang telah mengkhianatinya," ungkap Lusi.


"Maaf, Tuan, tetapi tak ada aktivitas apapun disana. Yang saya tahu, Nyonya Bella dan suami barunya tak pulang ke rumah, dan masih ada di hotel tempatnya mengelar resepsi semalam," jawab pengawal kepercayaan Luis.


"Ini mencurigakan. Mereka tak pernah lama mematikan ponselnya. Dan parahnya, kali ini mereka mematikan ponsel secara bersamaan. Instingku, mengatakan, ada sesuatu yang tak baik-baik saja," kata Luis.


Baru saja Luis memakai jubah hitam kebesarannya, lelaki itu mendapatkan sebuah pesan notifikasi dari ponselnya. Sebuah pesan yang berhasil membuat Luis mematung di tempatnya.


"****! Apa ini?" Umpat Luis lirih.

__ADS_1


**


__ADS_2