Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran

Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran
Episode 18


__ADS_3

Pemberkatan.


Dalam sebuah kehidupan, kerap kali kita menemukan tindak kejahatan yang dianggap sebagai sebuah lelucon. Bagi sebagian orang, menyakiti, mencelakai hingga membunuh seseorang, adalah tindakan yang wajar dan dinilai sebagai bentuk apresiasi pertemanan. Sayangnya, tidak bagi seorang Bella yang polos.


Membunuh, sebuah profesi sebagai pembunuh bayaran adalah suatu pekerjaan yang bertentangan dengan kemanusiaan. Bella hanya takut saja, jika Bella memiliki anak, baik sifat, karakter, pembawaan dan segala yang Ethan miliki, menurun pada anak yang akan Bella lahirkan kelak.


Tidak. Bella tak ingin melahirkan bayi yang ketika besar nanti, akan menjadi seorang pembunuh berdarah dingin, hanya demi uang dan dunia.


Malam telah benar-benar larut, dengan bintang yang hanya terlihat beberapa, pada sudut langit. Tinggal menghitung jam, sebelum Bella melakukan pemberkatan di altar. Wanita itu semakin resah bukan karena ada sebuah ketidaksengajaan mengkhianati Daniel. Tetapi Bella resah, karena ia seolah seperti ****** yang berusaha merebut suami orang lain, karena sebuah tujuan membalas dendam.


"Nyonya Bella Patricia, ada pesan dari tuan Ethan," seseorang yang entah sejak kapan tiba, mengejutkan Bella dari arah belakang Bella.


Bella terkejut. Dari mana datangnya lelaki ini? Laki-laki yang masih mengenakan topeng, lelaki yang sama persis dengan ketika Bella bertemu dengannya sebelum bertemu dengan Ethan.


"Kau, dari mana kau datang?" tanya Bella kemudian.


"Tak perlu bertanya darimana saya lewat jalan mana, Nyonya. Yang terpenting sekarang adalah, saya datang atas titah tuan untuk memberi anda peringatan, jangan menggunakan ponsel anda untuk menghubungi siapapun, termasuk Night Demon. Tuan mengetahui dua jam lalu, bahwa ponsel anda dan sistem keamanan rumah anda, sedang di sadap. Sampaikan juga pada Max, bawahan anda agar lebih waspada," ujar lelaki itu.


"Musuh mendiang suami anda dulu, semakin gencar mencari tahu tentang identitas calon suami anda. Tuan menyarankan, agar anda lebih dramatis menjalani sandiwara ini. Jangan lupa juga, besok akan dihadiri oleh saya dan juga beberapa pengawal kami," tambahnya lagi.


"Baiklah," ujar Bella kemudian.


Lelaki itu lantas berbalik dan pergi, meninggalkan Bella melalui pintu kamar Bella. Ada sebersit tanya yang menghantui otak Bella, tentang bagaimana cara lelaki itu menyusup di rumah ini.


Sistem keamanan selalu Max jaga dan di kontrol setiap waktu. Bahkan ketika ada mendiang Daniel dulu, penyusup musuh masihlah bisa masuk dan terbukti, Daniel terbunuh dengan sangat kejam. Mungkin memang Max terlalu teledor atau ceroboh, Bella tak juga mengerti.

__ADS_1


Dengan langkah gontai, Bella menuju ke arah pintu, masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu balkon, sebelum mengunci pintu masuk kamar yang begitu besar. Bella lelah dan tak ingin banyak berpikir. Tubuhnya butuh istirahat sebelum pemberkatan yang melelahkan bersama Ethan, digelar.


Dalam hati Bella berujar di tengah sisa-sisa kesadarannya, mengapa harus kematian yang memisahkan dirinya dengan orang terkasihnya?


**


Sekali lagi, Bella menatap pantulan tubuhnya di cermin. Gaun indah yang sudah Ethan pesan untuknya, melekat dengan sempurna layaknya menyatu sempurna pada tubuh Bella. Tak hanya itu, Bella juga tampak menawan, tak seperti Bella seperti biasa. Wajah yang di rias oleh tata rias pilihan Ethan, seolah menyulap wajah Bella, menjadi wajah wanita dari timur tengah.


Bagaimana mungkin, seorang pembunuh bayaran memiliki level selera tinggi terhadap keindahan?


Bella tercengang, tersebab wajah yang terpampang pada cermin, tampak seperti bukan wajah dirinya. Bella sendiri tercengang dengan tubuh kaku, tersebab melihat wajahnya sendiri.


"Tuan, anda sudah siap? Tuan Ethan Alric sudah tiba di altar, baru saja beliau menelepon saya. Mari berangkat agar Tuan Ethan tidak menunggu terlalu lama. Nona Livia dan Tuan Ramon juga sudah menunggu," Max berkata dengan suara lirih.


"Baiklah, Max," Bella melangkah cepat, dengan sedikit kepayahan akibat gaun pengantinnya yang terlalu ribet.


**


Pemberkatan kali ini, menjadi momen yang paling penting bagi seorang Ethan Mark Timothy. Bukan karna ia begitu mencintai Bella, bukan. Melainkan karena dalam momen ini, Ethan memancing orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan Mendiang Daniel, untuk keluar dari persembunyiannya.


Ada sebuah alat canggih yang Ethan pasang untuk merekam semua wajah tamu yang hadir. Jangankan Bella, bahkan Max saja tidak tahu menahu tentang hal itu. Hingga pemberkatan usai, acara resepsi pernikahan pun berlangsung meriah di sebuah hotel yang bersebelahan dengan katedral.


Alangkah terkejutnya Bella, ketika mendapati lelaki yang menjadi suaminya itu, tampak rupawan meski menggunakan kacamata dan tahi lalat besar di pipi. Livia saja sampai mengumpat, karena Bella bisa beruntung mendapatkan lelaki setampan Ethan.


'Sialan kau, Bella. Kupikir otakmu itu sudah tak waras. Ternyata kau diam-diam menghanyutkan. Bahkan ketika aku seusia denganmu, kau sudah menikah dua kali dan aku sama sekali belum bersuami,'

__ADS_1


Kata Livia saat Bella nyaris naik ke altar.


"Bagaimana, Bella? Apakah kau melihat kejanggalan yang terjadi disekitar kita? Adakah sosok yang mencurigakan?" Tanya Ethan, ketika keduanya tengah duduk di pelaminan, usai menyapa para tamu.


Sebuah tarian erotis khas dari timur tengah, menjadi suguhan pemandangan mata para tamu yang hadir.


"Tak ada, aku tak melihat sesuatu yang aneh disini," jawab Bella kemudian.


"Bila demikian, itu artinya kau tak sebegitu Peka dengan keadaan di sekeliling. Instingku mengatakan, mereka tengah berkumpul di sudut ruangan sambil memperhatikan kita. Jadi tetaplah tersenyum bahagia, meski itu palsu. Pantas saja kau selama ini tidak menemukan pembunuh suamimu. Kau tak menggunakan hati dan insting mu untuk mencari tahu," ungkap Ethan kemudian.


"Apakah itu artinya, kau sudah mendapati mereka?" tanya Bella kemudian.


Ya, hanya tebakan kasar sesuai bukti yang masih samar. Tetapi aku pastikan, malam ini juga, aku akan melacak aktivitas mereka," jawab Ethan.


Pandangan Ethan lurus ke depan, menebar senyum menawan yang sangat bertolak belakang dengan kepribadiannya yang introvert dan dingin. Selain itu, pandangan mata Ethan juga sangatlah tajam, meneliti satu persatu tamu yang hadir. Tak semua menikmati hidangan pesta dengan sukacita, melainkan ada beberapa orang yang bergerombol dan nampak khawatir.


Meski tenang, namun Ethan sanggup melihat semuanya.


"Bella, mari turun dari pelaminan lebih awal. Buat reaksi seolah-olah, kau sudah tak tahan untuk turun dan berduaan denganku. Aku pastikan, para pembunuh itu akan berhenti meneliti tidak tanduk kita setelah malam ini," ujar Ethan lagi.


"Baiklah, aku akan panggil Max dan memberi tahunya," Bella mendesah pasrah.


"Jangan lupa, Bella. Aku sudah menyewa satu kamar untuk kita malam ini," Ethan berkata tegas, membuat Bella sekali lagi, hanya bisa mendengus.


Malam ini, bukanlah malam pengantin yang akan Bella nikmati, melainkan akan menjadi tragedi berdarah di depan mata kepala Bella sendiri.

__ADS_1


**


__ADS_2