
Memanipulasi keadaan.
"Aku ingin, jadilah istri sesungguhnya untuk suamiku setelah ini ini, Bella, bukan sekadar istri sewaan untuk mendampinginya. Aku sudah mencari tahu semua latar belakangmu. sedikit saja kau menolak kesepakatan ini, aku pastikan, kau tak akan pernah bisa melihat lagi bagaimana bentuk rupa matahari pagi yang hangat esok hari!" Seru Leticia pada Bella yang mematung tak percaya.
*
Bella merasakan sendinya seolah lemas, beruntung tubuhnya telah ditopang dengan sebuah kursi yang kokoh. Tentu saja kondisi ini cukup membuat Bella terguncang. Mentalnya tak sekuat yang orang pikir, bila dihadapkan pada sebuah jalur kematian.
Ada trauma mendalam, ketika dulu kediaman mendiang Daniel pernah diserang oleh kubu musuh. Saat itu, Bella masih mengandung putra mereka, dan Bella harus bersembunyi di ruang bawah tanah, dengan cara tembakan yang memenuhi seluruh indera pendengarannya.
Hingga lantas kaki mendiang Daniel tertembak, saat itu pulalah, Max marah dan menembaki mereka semua dengan membabi buta. Hanya beberapa orang saja yang bisa kabur dari sana, yang selamat.
Bau anyir darah, dan juga erangan lirih Daniel, kembali menguasai pikiran Bella.
"Ap, apa yang yang kau katakan, Leticia? Aku, aku harus menjadi istri selamanya untuk suamimu?" tanya Bella mencicit lirih. Nyali wanita itu menciut seketika.
"Ya. Kau harus bersedia, atau kau akan tersingkir untuk selamanya, Bella. Selama ini, akulah orang yang berdiri dibelakang Ethan. Profesinya yang sebagai pembunuh bayaran, belum lama ini aku tahu, dan aku ingin, kau bisa mengimbangi Ethan agar ia tetap selamat. Jadi, putuskan sekarang, Bella. Aku tak ingin kau meninggalkan dia setelah kau melahirkan nanti," tambah Leticia dengan tegas.
"Tetapi, bagaimana jika nanti ... Ethan yang meninggalkan aku?" Bella kembali mencicit lirih. Suaranya bahkan berlomba keras dengan suara lonceng yang menempel di dinding.
"Tidak akan jika aku yang meminta!" jawab Leticia, kembali dengan suara penuh penekanan.
"Jadi, pilih takdirmu yang kugenggam saat ini, Bella Patricia. Jika kau cukup pandai dalam mengambil keputusan, aku pastikan kau akan hidup bahagia," sambung Leticia lagi.
"Pilih Bella, aku tak memiliki banyak waktu...." suara Leticia, bak serangan bom yang jatuh tepat di atas kepala Bella. Bella tak berdaya. Otaknya semakin berpikir cepat.
'Daniel, aku merasa sebentar lagi aku menyusulmu.'
Tangis batin Bella dalam diam.
__ADS_1
"Bella, kau tak sedang mengulur waktu, bukan ...? " kali ini, suara Leticia bak tombak yang menghujam jantung Bella. Jantung wanita itu seolah memompa dengan cepat, membiarkan pucat pasi kembali menghampiri dirinya.
Bella berpikir cepat. Sebuah pemikiran realistis kembali datang diwaktu yang darurat begini.
'Bila aku mati, bagaimana dengan nasib pembunuh Daniel dan wanita ini? Mereka tentu akan merasa senang dan merdeka karena berhasil hidup dan bernapas dengan tenang. Tidak. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"
Batin Bella berteriak lantang.
Leticia nyaris saja memberi keputusan, "Sudah, Bella .... " Leticia tak berhasil melanjutkan kalimatnya, ketika Bella menyelanya dengan cepat.
"Baik, aku bersedia," ungkap Bella dengan cepat. Wanita itu tak memiliki pilihan lain. Tekadnya begitu kuat untuk membalas sakit hatinya atas kematian mendiang Daniel. Kini, Leticia tersenyum penuh kemenangan, tak membiarkan Bella satu langkah lebih maju dari dirinya.
Bella, wanita itu keras kepala di mata Leticia. Tak hanya itu, meski keras kepala, namun Bella juga rupanya memiliki kerapuhan yang menuntut untuk dilindungi.
"Bagus. Kurasa kau memang telah mengambil keputusan yang tepat," kata Leticia dengan tersenyum penuh makna.
**
Mungkinkah Bella harus bertahan untuk hidup dengan seorang pembunuh bayaran? Bella tak mengerti.
"Mari turun, Bella. Kita sudah sampai sejak tadi. Lihat, mobil sahabatmu sudah terparkir di sana," ujar Ethan sambil menunjuk mobil berwarna hitam disana.
Bella tersadar, dengan ekspresi bingung.
"Apapun yang kau dan Leticia bicarakan tadi, aku harap kau jangan mengambil hati. Leticia memang kerap kali bercanda," ucap Ethan tiba-tiba. Lelaki itu tidak menatap Bella sama sekali.
"Baiklah, Ethan, aku lelah dan aku ingin istirahat," ujar Bella kemudian.
"Jangan lupa untuk banyak istirahat, Bella. lima hari mendatang, pernikahan akan segera kita gelar. Aku harap kau bisa mengendalikan Max dan Ramon agar tidak menentang hubungan kita. Segalanya, biar Max yang menyiapkan," sambung Ethan lagi. Bella mengangguk dan segara turun dari mobil Ethan, membiarkan Ethan berlalu begitu saja dari sana.
__ADS_1
"Nyonya, anda sudah pulang? Bagaimana hari anda? Menyenangkan?" tanya Max kemudian, saat Bella telah berada di dalam.
"Cukup menyenangkan, Max. Ethan adalah lelaki yang cukup menyenangkan," jawab Bella sambil tersenyum. Gurat kelelahan terpancar dari wajahnya.
"Oh ya, Max. Aku ingin bicara penting denganmu," ujar Bella, melambaikan tangan pada Max.
"Baiklah, Nyonya. Tetapi ada Tuan Ramon dan Nona Livia di dalam," jawab Ramon lagi.
"Ya sudah. Sekalian saja aku ingin bicarakan hal serupa dengan mereka. Dimana mereka?" tanya Bella kemudian.
"Di ruang tengah," Jawab Max. Bella mengangguk, dan segera ke ruang tengah tanpa berbasa-basi.
Dan tahukah apa yang terjadi? Baik Livia maupun Daniel menatap Bella dengan tatapan tajamnya.
"Hai, Daniel. Hai Livia? Apa yang terjadi? Mengapa menatapku begitu?" tanya Bella sambil mengernyitkan keningnya. Tatapan Bella lantas beralih pada Max yang ada di belakangnya, "duduklah, Max. Aku ingin bicara denganmu dan Daniel."
"Siapa Ethan Alric, Bella?" Livia segera melempar tanya, tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan Bella. "Kau sedang dekat dengan lelaki, dan kau tak memberi tahuku dan juga Ramon?"
Bella tersenyum kecil, menatap sahabatnya itu dengan tatapan penuh arti.
"Kau ini, kenapa bisa sensitif begitu? Biar aku beri tahu, dia adalah kekasihku," jawab Bella dengan bangga.
Senyum wanita itu merekah, mengabaikan hati Ramon yang terbanting hingga tercecer berkeping-keping. Mengenaskan tanpa ada yang mengasihani. Hanya Max yang tahu, arti dari tatapan Ramon yang penuh dengan luka.
"Apa? Kekasih?" tanya Livia seolah tidak percaya.
"Ya. Kekasih. Aku berniat membiarkan kasus tentang Daniel tenggelam begitu saja. Mungkin benar apa yang Ramon katakan. Harusnya aku membuka lembaran baru dan menghentikan pencarian tanpa henti ini. Bukankah kalian berdua, mengharapkan aku bahagia?" tanya Bella.
Bella lantas menatap Max, mengabaikan tatapan tak mengerti dari kedua sahabatnya itu. Bagus, Bella mulai berhasil memanipulasi keadaan, dan mulai memainkan drama dengan baik. Layaknya orang jatuh cinta, Bella berkeras hati untuk tetap bertahan dengan aktingnya.
__ADS_1
"Oh ya, Max. Ethan berkata padaku, lima hari ke depan, aku akan menikah dengannya. Tadi aku bahkan sudah mencoba gaun pengantin. Undang secara online seluruh kolega bisnis Daniel, jangan ada yang ketinggalan," ujar Bella, yang sanggup membuat Ramon pucat pasi.
**