
Informasi baru.
Malam telah larut. Bulan menggantung indah di langit kota Manhattan yang cerah malam ini. Kelap-kelip lampu jalan, tak cukup membuat kondisi hati Bella membaik. Banyaknya bintang, seolah menggambarkan banyaknya luka yang Bella rasakan selepas kepergian mendiang Daniel dan Joseph, putra mereka.
Ada sebuah luka yang kini masih menganga dalam hati Bella, selepas kematian Daniel dan putranya. Bella tak kuat lagi menahan, ketika sebulan sebelum kematian Daniel, berkali-kali kediamannya diserang oleh orang tak dikenal.
Bahagiakah Daniel saat ini disana?
Mungkin, Daniel telah berbahagia dan bercanda ria bersama putra mereka. Ada sorot luka tak kasat mata yang berhasil membuat hati Bella nyaris mengendus tanah kematian.
Dulu, Bella berharap ingin pergi berdua bersama Daniel, ke sebuah pegunungan dengan udara segar dan menyenangkan. Dulu pula, Daniel berjanji akan menjaga Bella hingga akhir hayat. Benar saja, Daniel telah pergi tanpa menjaga Bella seperti yang dijanjikan. Nyawanya telah di renggut paksa oleh musuh yang menginginkan sesuatu dari Daniel.
Kini, semua itu hanyalah tinggal kenangan, menyisakan banyak tangis penyesalan Bella, karena Bella tak lagi bisa mendampingi suaminya itu.
"Masihkah kau mendengar suaraku, Daniel? Aku demikian sangat merindukanmu. Aku mencintaimu? Sampaikan salamku pada Joseph. Putra kita tidak tahu apa pun masalah orang dewasa, tetapi dia juga ikut menjadi korban," lirih Bella.
Meski sedih begini, dengan hati yang teriris perih, Bella tidak lagi menjatuhkan air mata. Mungkin Bella sudah lelah, bisa jadi juga Bella sudah kehabisan air mata.
Disaat ia merindukan sosok Daniel, Bella tiba-tiba teringat akan sosok wanita yang malam tadi menemuinya. Sedih memang bila mengingat wanita itu. Hanya saja, Bella seperti tak lagi memiliki pilihan lain. Joseph dan Daniel harus mendapatkan keadilan. Satu-satunya yang bisa berjuang untuk keadilan mereka, adalah Bella.
"Kau memikirkan sesuatu? Tentang Daniel?" tanya Ethan yang berhasil mengejutkan Bella. Tentu saja Bella terkejut bukan main. Ada apa ini? Mengapa Ethan tiba-tiba datang dengan pakaian serba hitam dan menemui Bella lagi? Bukankah tadi Ethan baru selesai keluar bersama Bella?
__ADS_1
Darimana Ethan datang? Mengapa lelaki itu bisa menyusup ke kamar Bella tanpa Bella tahu?
Lelaki itu datang. Langkahnya mantap tanpa suara. Bak hantu yang datang tanpa menapakkan kakinya ke tanah.
"Eth ... Ethan? Mengapa kau datang kemari? Apakah ada sesuatu yang ... membuatmu datang kemari?" tanya Bella.
"Harusnya kau menjawab tanyaku, bukan justru menanyai aku balik. Dengarkan aku, Bella. Jangan memikirkan sesuatu hal yang tak penting. Fokusmu harus pada pernikahan kita. Tarik semua perhatian kolega bisnis mendiang suamimu. Ingat, kau harus mampu mengalihkan mereka, dan memancing mereka keluar dengan sendirinya. Aku sudah memiliki rencana untuk itu. Maka, bersandiwara lah sebagus mungkin," ujar Ethan panjang lebar. Bella tak mampu menolak, juga Bella tak bisa lagi menggelengkan kepala.
"Jadi, apakah aku tak boleh memikirkan mendiang suamiku? Aku tak boleh mengenang rindu pada suamiku? Itukah maksudmu?" tanya Bella dengan emosi yang meluap-luap. "Kau baru datang dalam hidupku, dan kini kau mengaturku sesuka hatimu?" teriak Bella pada Ethan. Wanita itu lupa, bahwa ia perlu menjaga identitas Ethan.
Ethan menatap Bella dalam, sangat dalam hingga Bella seolah kehilangan keseimbangan pikiran dan hatinya. Bella mendadak lupa diri.
"Pikir saja apa yang membuatmu tenang. Kau harus belajar banyak hal sebagai istriku," Ethan melangkah masuk, tak peduli Bella adalah tuan rumah yang merasa tak nyaman.
"Apa maksudmu, Ethan? Kau mengaturku? Bahkan kau belum resmi menjadi suamiku, dan kau sudah berani mengaturku. Astaga, siapa kau ini sebenarnya, Ethan? Aku memang membutuhkan jasamu, tetapi bukan berarti kau bisa mengatur aku sesuka hatimu. Jangan lupa, aku juga harus mengorbankan rahimku untuk melahirkan keturunanmu," ungkap Bella yang tak bisa menahan rasa jengkelnya.
"Terserah bagaimana tanggapanmu terhadap diriku. Yang jelas, aku pikir kau tak perlu memikirkan hal yang sudah hilang. Menangis seribu satu malam pun, itu tetap tak akan menghidupkan Daniel kembali. Pria legendaris itu telah pergi, menyatu dengan tanah dan menyisakan luka saja. Bukan aku memengaruhi dirimu, Bella. Hanya saja kau harus berpikir cerdas. Menangis tak akan membuat Daniel kembali padamu," ujar Ethan kemudian.
Dengan berani layaknya rumah sendiri, Ethan melempar tubuhnya sendiri ke atas ranjang Bella yang terasa empuk. Ethan sendiri tersenyum puas. Malam pertama nanti, Ethan berharap ia bisa mengganti kasur itu, dengan ranjang baru yang lebih kokoh.
Ah, pikiran Ethan terlalu liar. Setelah sekian lama ia tak menggumuli istrinya, Ethan merindukan sentuhan wanita polos.
__ADS_1
"Kau tahu itu. Hanya saja, aku mohon jangan semakin merusak suasana hatiku yang buruk, Ethan. Aku akan tetap mencintai Daniel dengan caraku, dan juga dengan perasaan yang masih tersisa," ungkap Bella kemudian.
"Terserah padamu saja, Bella. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa ada yang ingin aku sampaikan terkait Informasi tentang pembunuh suamimu," ungkap Ethan kemudian.
Dengan santainya, Ethan merebahkan tubuh, menjadikan kedua telapak tangannya yang berkait, sebagai bantal tambahan.
"Apa? Kau sudah menemukan seseorang yang mencurigakan?" Bella menghampiri Ethan. Matanya menyipit penuh keingintahuan yang sangat kuat. Gesture tubuh Bella, seolah menggambarkan rasa penuh minat.
"Ya. Aku sudah menemukan dua orang terdekatmu, yang telah mengkhianati suamimu. Ada dua orang yang aku dapati, terlibat dalam penjebakan suamimu petang itu," Ujar Ethan, dengan mata terpejam.
Lelaki itu masih bernapas biasa saja, tak menunjukkan adanya tanda-tanda ia tertidur pulas.
"Siapa orangnya, Ethan? Katakan padaku, siapa yang telah berani mengkhianati suamiku. Apa yang melatarbelakangi dirimu berkata demikian?" tanya Bella.
"Jaga emosimu, Bella. Jangan sampai kau menunjukan bahwa kau adalah wanita yang polos dan bodoh dalam satu wadah. Untuk tanyamu yang satu itu, maaf aku masih tak bisa menjawab. Nanti jika saatnya telah tiba, kau akan aku beritahu," sahut Ethan, masih dengan mata terpejam.
"Mengapa harus menunggu, Ethan. Bila sekarang dan esok aku akan tetap tahu, lantas mengapa harus esok? Bukankah lebih cepat lebih baik?" Bella masih mencoba untuk membujuk Ethan.
"Karena jika aku katakan padamu sekarang, aku yakin seyakin-yakinnya, kau akan mengamuk membabi buta dan menyerang orang terdekatmu. Jika itu terjadi, bisa dipastikan kau akan mudah dihancurkan oleh musuh mendiang Daniel dalam waktu dekat. Gunakan otak cerdasmu untuk membaca banyak kemungkinan buruk, yang bisa kapan saja menghancurkan dirimu," jelas Ethan panjang lebar.
Bella mengerjapkan matanya berkali-kali. Apa yang Night Demon katakan, semua benar. Atau mungkin saja, otak Bella yang mendadak bodoh.
__ADS_1
Entah. Bella tidak mengerti.
**