Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran

Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran
Episode 8


__ADS_3

Lima hari dari sekarang.


Seperti sebuah bom yang jatuh tepat di hati Bella. Jantung Bella seolah berhenti berdegup, tatkala Ethan mengatakan bahwa ada dua pelayan yang terlibat rencana pembunuhan Daniel. Bella juga tidak pernah tahu, ada orang terdekat yang ia anggap setia, nyatanya telah berkhianat.


Janda mendiang Daniel Ronnie itu lantas mengerjapkan matanya beberapa kali, dengan kedua tangannya yang masih memeluk Ethan. Ia masih merasa tak sepenuhnya percaya dengan apa yang Night Demon katakan.


"Jika kau tidak percaya, aku akan memberikan buktinya padamu. Mari kita keluar sebentar demi mensukseskan rencana kita," Ethan berbisik kemudian mendorong Bella sebentar, untuk meleraikan pelukan. Bella tampak mengangguk dan tersenyum.


Senyum Bella sangat sempurna dengan bulu mata lentiknya yang bergetar samar. Di mata Ethan, ada banyak jenis kecantikan yang dimiliki seluruh wanita, dengan ciri khas masing-masing dari mereka. Namun Bella? Ethan mengakui Bella termasuk wanita dengan kecantikan kalangan atas.


Tetapi apalah Bella bila dibandingkan dengan Leticia? Istri Ethan itu memiliki kesempurnaan fisik yang luar biasa. Sayangnya, Leticia tak mungkin bisa melahirkan anak untuknya.


"Jadi, hari ini kita jadi pergi berkencan?" tanya Ethan dengan tersenyum. Baru kali ini, Ethan memperlihatkan lesung Pipit di kedua pipinya.


"Ya, tentu saja. kau mau minum dulu, atau bersantai dulu untuk meminum teh atau kopi, misalnya?" tanya Bella balik.


"Terserah padamu bagaimana enaknya. Aku akan ikut apapun keputusanmu," jawab Ethan. tetap mempertahankan senyumnya.


"Baiklah, kita akan segera berangkat langsung. Tunggu dulu, aku akan mengambil dompet dan kunci mobil," ucap Bella yang hendak pergi. Sayangnya, langkahnya terhenti, saat Ethan mencegahnya.


"Tak usah membawa mobil, sweet heart, kita akan pergi dengan membawa mobilku saja. Ambil saja dompet dan kartu identitasmu. Kita akan bepergian ke tempat yang sedikit jauh dengan menikmati pemandangan senja hari nanti," Ethan berkata seraya mengedipkan sebelah matanya, seolah tengah menggoda Bella.


Bella mengangguk dan segera berlalu melepas kedua telapak tangan Ethan, yang sejak tadi menggenggamnya pelan. Drama yang luar biasa membius semua mata.


Baik pelayan, dan juga pengawal banyak yang terkejut akan reaksi Bella yang demikian. Selama ini, majikan mereka itu menghabiskan waktu dengan banyak murung dan mencari informasi mengenai pembunuhan mendiang suaminya. Mendapati bahwa Bella tiba-tiba memasukkan kekasih ke dalam rumahnya, siapa yang tidak terkejut.

__ADS_1


Bukankah ini terasa lebih cepat?


Meski setahun telah berlalu, namun seharusnya perubahan Bella tidak drastis begini.


"Syua, apa kau tidak mencurigai Nyonya Bella. Lihat, bukankah perubahannya ini demikian sangat tiba-tiba? Tiba-tiba ada kekasihnya datang, sedangkan Beberapa hari ini, Nyonya Bella seperti masih terlihat sibuk mengenang perginya tuan besar," Ujar seorang pelayan yang sebaya dengan Syua Tunisa. Marie tan, namanya.


"Aku mencurigainya. Tetapi aku berpikir, mungkin Nyonya besar sudah berubah pikiran dan juga menerima kepergian mendiang Tuan, dengan lapang dada. Sudahlah, kurasa Nyonya benar-benar berubah dan telah menemukan tambatan hatinya," Syua tersenyum, menatap Marie yang mengangguk.


Marie berlalu pergi, dan meninggalkan Syua seorang diri.


Sekecil apapun suara percakapan kedua pelayan Bella itu, nyatanya tak luput dari pendengaran seorang Night Demon. Ethan bisa mendengarnya dengan jelas, bahwa saat ini ada perbincangan mengenai Bella. Dari sini sudah terlihat, bahwa penyusup itu salah satu diantara mereka.


Tak lama, Bella pun datang dengan penampilan yang tertutup, menjadi ciri khas diri wanita itu. Rambut yang tadinya tergerai, kini telah diikat menggunakan kain berwarna senada dengan kemeja yang ia pakai, Ungu pucat. Sangat pantas dengan kulitnya yang putih bersih. Tak lupa, Celana kerja panjang, membalut kaki jenjang wanita itu.


Belum sempat Ethan menjawab, Max tiba-tiba muncul dari dalam ruang tengah milik mendiang Daniel Ronnie.


"Ya, aku sudah siap sejak tadi, sweet heart. Kau yakin tak ada barang pentingmu yang ketinggalan?" tanya Ethan balik.


"Tak ada. Kurasa semua sudah cukup," jawab Bella. Tatapan wanita itu lantas beralih pada Max.


"Max, aku akan pergi dengan Ethan untuk menyegarkan pikiran. Kurasa akhir pekan ini aku juga butuh hiburan. Kemungkinan aku pulang malam. Jadi, tak apa, kan, jika aku berkencan dengan Ethan?" tanya Bella kemudian.


Max yang terbiasa memasang raut datar, kini tersenyum, menatap Bella penuh kebapakan.


"Tak masalah, Nyonya. Perlukah saya perintahkan pengawal untuk menjaga anda dari jarak jauh?" tanya Max.

__ADS_1


"Tak perlu, Max. Aku sedang berkencan dan ingin sekali sedikit bebas, tanpa kehadiran pengawal. Aku tak ingin Ethan terusik nanti. Jangan khawatir, Ethan adalah lelaki yang pandai bela diri. Aku pastikan aku akan aman dengan kekasihku," jawab Bella dengan suara pelan dan penuh penekanan.


"Baiklah, Nyonya. Segera hubungi saya atau Tuan Ramon jika anda mengalami kesulitan di jalan. Hati-hati dan tetap waspada," ungkap Max menasihati.


Sejujurnya, max merasa seperti tak nyaman saja saat ini. ketidaknyamanan yang entah karena apa. Bila dilihat-lihat, lelaki yang mengaku bernama Ethan Alric itu tampak baik dan tak ada aura jahat yang dimiliki.


Max hanya tidak tahu saja, bahwa Ethan. adalah seorang pembunuh bayaran. Sepandai itu seorang Ethan Mark Timothy menyembunyikan aura dalam dirinya. Bahkan untuk merancang skenario sedemikian rupa, Ethan tak perlu bekerja keras.


"Tentu saja, Max. Oh ya, aku titip padamu, tolong kunci dan jaga selalu ruang kerja Daniel selama aku pergi dengan Ethan. Di dalam ada berkas yang tidak boleh dilihat siapapun selain orang kepercayaan Daniel. Ingat, Max, beri tahu Ramon jika saat ini aku tengah bepergian dengan Ethan," pinta Bella kemudian.


"Tentu, Nyonya," Max mengangguk, memberikan senyum pada Bella.


Ada kekhawatiran tersendiri di hati max, mengingat bahwa Bella selama ini tak pernah max lepaskan tanpa pengawalan. Namun kali ini, Max mencoba untuk percaya, bahwa Bella benar-benar bahagia bersama Ethan.


"Aku pamit, Max," tukas Bella sebelum benar-benar berlalu pergi.


Selama perjalan, Bella hanya diam, menanti Ethan mengajaknya bicara lebih dulu. Entah kemana ia akan di bawa oleh Ethan, yang pasti Bella tak ingin memancing perdebatan dengan calon suaminya itu.


"Bella, lima hari dari sekarang, kita akan segera menikah. Nanti sampaikan kabar ini pada Max, untuk menyiapkan resepsi pernikahan kita. Sebar undangan secara online ke seluruh kolega bisnis mendiang Daniel. Kita akan pancing reaksi mereka yang terlibat," kata Ethan tiba-tiba.


"Apa? Lima hari? Ethan, kau ini yang benar saja? Menggelar acara besar-besaran dan kau menyuruh Max menyiapkan segalanya dalam lima hari? Dia itu manusia, Ethan, bukan robot," seru Bella yang tak habis pikir.


"Semua bisa dilakukan Max, Bella. Kita menuju ke sebuah butik ternama untuk memesan sepasang busana pernikahan kita. Jangan membantah, dan ikuti saja apa yang aku perintahkan," tegas Ethan tanpa Sudi dibantah.


**

__ADS_1


__ADS_2