Terjerat Pernikahan Dengan Wanita Malam

Terjerat Pernikahan Dengan Wanita Malam
Episode 10.Serba salah


__ADS_3

Setelah pulang dari tempat kerja Widia, Herman langsung tancap gas menuju ke rumah Lukman. Kebetulan Lukman sedang duduk selonjoran di depan rumahnya. Tanpa banyak kata, Herman langsung nyelonong masuk ke depan rumah Lukman. Kebetulan gerbangnya sedang di buka.


"Wey, laki-laki gak berguna. Sini kau!" gertak Herman membuat Lukman tercengang dan bergegas bangun.


"Ada apa kau datang kemari? Aku gak punya urusan denganmu," gertak Lukman sambil bertolak pinggang.


Namun, tanpa banyak kata Herman langsung memberikan bogeman pada Lukman.


BUGH! BUGH!


"Aw!" teriak Lukman.


Saat Herman mau meninju perut Lukman, tiba-tiba ibu dan ayah Lukman muncul dari dalam.


"Ada apa ini preman kampung?" gertak ayah Lukman.


"Pergi kamu atau saya laporkan pada Polisi!" teriak ibu Lukman.


"Anak kalian yang akan saya laporkan pada Polisi karena telah menjual istrinya untuk jadi PSK," sahut Herman ketus.


"Jaga omonganmu preman kampung! Itu namanya pencemaran nama baik," gertak ayah Lukman.


"Udah, kita telepon Polisi aja deh, Yah," imbuh ibu Lukman.


"Lakukan saja, saya gak takut dengan ancaman kalian. Emang benar 'kan, Widia jadi PSK gara-gara anak kalian yang gak berguna ini," imbuh Herman sambil mendengus kesal.


"Gak usah ngaco kamu kalau ngomong. Widia sebelum jadi istri dari anak saya juga sudah jadi PSK," ucap ibu Lukman naik pitam.


"Betul itu, apa perlu kami lapor Polisi biar kamu pergi? Gak usah uji kesabaran kami," imbuh ayah Lukman.


Herman pun menghela nafas beratnya dan mengeluarkannya dengan berat.


"Ingat, urusan kita belum selesai!" gertak Herman sambil menatap sinis wajah Lukman dan bergegas pergi meninggalkan mereka.


Lima belas menit setelah Herman pergi, Riko pun datang ke rumah Lukman.


"Apa?! Kondisi keuangan perusahaan sedang kacau. Kok bisa?" tanya Lukman lantang.

__ADS_1


"Maafkan saya, setelah saya selidiki ternyata pelakunya adalah orang bawaan saya. Dia yang telah melakukan korupsi terhadap dana perusahaan. Dia selalu memanipulasi data pengeluaran yang sebenarnya hanya rekayasa," ujar Riko lirih.


"Keterlaluan, kamu lihat tuh Lukman. Gara-gara kamu yang gak mau urus perusahaan, kita jadi kecolongan. Widia mulu sih yang ada di otakmu," gertak ayah Lukman yang tiba-tiba muncul.


"Ya sudah, Ayah urus sendiri lah. Lukman sedang pusing," ujar Lukman sambil bergegas pergi meninggalkan mereka.


"Lukman, dasar anak gak tahu di untung!" teriak ayah Lukman ketus.


"Baiklah, saya minta nomor telepon temanmu itu," ujar ayah Lukman sambil menatap tajam mata Riko.


Setelah dapat nomor telepon teman Riko, ayah Lukman pun bergegas pergi menuju ke kantornya di temani Riko.


"Lancang kamu ya, berani-beraninya mengambil uang perusahaan untuk kepentingan pribadi. Saya kasih pilihan, kamu balikin uang perusahaan atau saya laporkan pada pihak berwajib!" bentak ayah Lukman sambil menodongkan jari telunjuknya.


Riko dan para staff lainnya cuma menundukkan kepalanya. temannya Riko cuma menundukkan kepalanya.


"Jawab, atau kalau kamu diam aja artinya kamu setuju untuk balikin uang perusahaan sekarang," imbuh ayah Lukman sambil menggebrak meja.


"Maaf, kalau balikin uang perusahaan sekarang gak bisa, Pak. Beri saya waktu," ujar teman Riko gugup.


"Baik, Riko telepon Polisi sekarang juga!" ujar ayah Lukman lantang.


"Apapun alasannya, saya sama sekali gak peduli. Yang kamu lakukan jelas salah besar. Saya akan tetap memproses secara hukum," imbuh ayah Lukman semakin naik pitam.


"Tolong kasih saya waktu untuk melunasi semuanya," ujar temannya Riko sambil berlutut di depan ayah Lukman.


"Berapa lama kamu bisa balikin uang perusahaan?" tanya ayah Lukman sambil menghela nafas panjang.


"Satu tahun," sahut temannya Riko terbata-bata.


"Apa?! Kelamaan. Riko, tolong urus temanmu!" gertak ayah Lukman sambil bergegas pergi meninggalkan mereka.


Setelah ayah Lukman pergi, Riko pun membantu temannya untuk bangun dan mengajaknya keluar dari kantor.


"Brow, kamu sebaiknya tunggu di luar aja. Aku mau ngomong sama Pak Bos dulu," ujar Riko lirih.


"Tolong bujuk Pak Bos, supaya saya tidak di pecat. Saya janji akan berubah dan akan melunasi semua hutang-hutang saya," ujar Riko sambil menepuk pundak Riko.

__ADS_1


***


Beberapa menit kemudian, Riko pun memberikan sebuah surat pada temannya.


"Maafkan saya yang gak bisa bantu kamu," ucap Riko sambil menghela nafas beratnya dan mengeluarkannya dengan berat.


Teman Riko pun menerima surat itu dan segera membukanya. "Apa?! Jadi, saya di pecat dan di beri waktu tiga bulan untuk melunasi semua hutang-hutang saya," ujar temannya Riko terbata-bata.


"Maafkan saya kawan, saya gak bisa bantu. Permisi!" sahut Riko sambil bergegas pergi meninggalkan temannya.


Di lain pihak, Widia benar-benar bingung dengan keadaan sekarang. Dia baru mendapat kabar dari ibunya bahwa ayahnya sedang kritis di rumah sakit.


"Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un, maafkan Widia ya, Mah. Widia belum bisa mudik, sebab baru mulai kerja. Namun, Widia akan coba minta izin pada Bos," ujar Widia lirih.


"Ya sudah, do'akan saja, Nak! Gak usah terlalu memaksakan kalau emang gak bisa mudik," sahut ibunya sambil meneteskan air matanya.


Setelah selesai ngobrol dengan ibunya, Widia pun cerita dengan Mita. "Nyesal 'kan sekarang. Kemarin ada kesempatan malah di sia-siakan," gertak Mita.


"Terus apa yang harus aku lakukan, Kak?" tanya Widia dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu kabur lagi aja dari sini. Nanti saya bantu lagi. Tapi ingat, ini terakhir kalinya saya bantu kamu. Jika kamu balik lagi ke sini, saya gak mau bantu kamu lagi dan anggap saja kita gak pernah saling kenal," ujar Mita setengah berbisik.


Dia takut ada orang yang menguping pembicaraan mereka. Termasuk Robert yang di anggap cepu oleh mereka.


"Apa itu gak terlalu beresiko, Kak?" tanya Widia sembari menatap tajam mata Mita.


"Semua pasti ada resikonya. Jujur Widia, saya juga udah gak mau kerja di sini lagi. Asal kamu tahu aja, sebenarnya saya juga punya dua orang anak yang terpaksa saya titipkan pada ibu. Sebab saya gak di nafkahi oleh suami. Dia kerjaannya cuma mabuk-mabukan, main perempuan, main judi. Giliran di minta untuk kebutuhan sehari-hari gak ada. Saya udah menggugat cerai suami. Namun, dia selalu menolak. Alasannya karena masih sayang sama saya dan anak-anak. Nyatanya kelakuannya gak pernah berubah," ujar Mita panjang lebar membuat Widia mengelus-elus dadanya.


"Sabar ya, Kak. Selama ini saya pikir cuma saya yang paling berat beban hidupnya. Ternyata Kakak juga punya masalah hidup yang berat," imbuh Widia sambil memeluk erat tubuh Mita.


***


Sekitar jam satu malam, di saat semua orang sedang tertidur pulas. Kebetulan tempat prostitusi itu juga sedang sepi. Semua PSK sedang tertidur di kamarnya masing-masing. Ada yang tidur berdua, bertiga. Ada yang tidur di kursi sofa juga. Termasuk Robert, dia tidak tidur di kamar. Sebab sedang di suruh mengawasi gerak-gerik Widia dan Mita.


"Ayo, aku bantu kamu untuk kabur! Ingat, jangan pernah berani kembali ke sarang macan ini," ujar Mita setengah berbisik.


"Apakah Kakak gak ikut kabur sekalian?" tanya Widia lirih.

__ADS_1


"Belum saatnya. Masih banyak target yang belum saya capai. Simpan nomor telepon saya. Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi saya," imbuh Mita sambil pelan-pelan membuka pintu belakang.


Tiba-tiba terdengar suara orang batuk-batuk. Mita dan Widia pun tercengang.


__ADS_2