
***
Sepuluh menit setelah Widia pergi, tiba-tiba Lukman datang ke tempat prostitusi tempat istrinya bekerja. Dia langsung nyelonong mencari Widia.
"Widia, di mana kamu?" teriak Lukman mengundang Mamih Clarisa keluar dari kamarnya.
"Mau apa kamu datang ke sini? Widia gak ada di sini," gertak Mamih Clarisa.
"Anda gak usah bohong!" sahut Lukman lantang.
"Untungnya apa jika saya berbohong pada Anda?" imbuh Mamih Clarisa.
Lukman pun bergegas menuju ke lantai dua ke arah kamar Widia. "Widia, keluar kamu!" ujar Lukman sambil menggedor-gedor pintu kamar Widia.
Namun, gak kunjung ada jawaban. Lukman pun bergegas pergi meninggalkan kamar Widia.
"Widia pergi bersama seorang laki-laki ke kampungnya," ujar Mamih Clarisa lantang.
Lukman pun mengerutkan keningnya mendengar perkataan Mamih Clarisa. "Kurang ajar! Giliran di ajak pulang sama aku sebagai suaminya gak mau. Sama laki-laki lain mau. Aku benar-benar kecewa dengan kamu Widia," batin Lukman sambil bergegas pergi meninggalkan tempat prostitusi itu.
***
Waktu terus berjalan, sekitar satu jam perjalanan sebelum Widia dan rombongan sampai ke kampung, tiba-tiba ibunya Widia telepon. Widia pun bergegas mengangkat teleponnya.
"Hallo, Mah! Ada apa lagi? Tadi macet banget. Sekarang sudah lancar, Mah. Sekitar satu jam lagi Widia sampai ke rumah," ujar Widia lirih.
"Oh, ya sudah. Kamu hati-hati di jalan ya, Nak," ujar ibunya sambil meneteskan air matanya.
Telepon pun tiba-tiba terputus. Perasaan Widia pun tiba-tiba tak karuan.
"Hallo, Mah. Kok putus sih teleponnya," ujar Widia sambil mencoba menghubungi nomor ibunya.
Namun, gak kunjung di angkat. Widia pun semakin tak karuan. Detak jantungnya berdegup lebih kencang.
"Ada apa ya? Kok perasaanku semakin gak enak," ujar Widia sambil menatap tajam mata Herman.
"Kamu tenang aja, Widia. Gak akan terjadi apa-apa dengan ayahmu," ujar Herman menenangkan.
***
Tak terasa, akhirnya Widia dan rombongan pun tiba di rumahnya. Semua orang tercengang melihat bendera kuning sudah terpampang di depan rumah Widia. Terlihat sudah banyak orang yang berkunjung ke rumah Widia.
Widia pun bergegas masuk ke dalam rumahnya di ikuti Herman, Robert, dan temannya. Terlihat ibunya yang sedang menangis terisak-isak di depan seseorang yang tubuhnya di tutupi dengan kain kafan. Di sana terdengar sedang di bacakan lantunan ayat suci.
"Mamah, ini siapa yang di bungkus dengan kain kafan?" tanya Widia dengan nafas terengah-engah.
__ADS_1
"Widia sayangnya, Mamah. Kemarilah!" sahut ibunya Widia sambil bergegas bangun dan memeluk erat tubuh anaknya.
"Ada apa ini, Mah? Siapa orang yang berada di balik kain kafan itu?" tanya Widia sembari menatap tajam mata ibunya.
"Sabar ya, Nak. Ayahmu telah tiada satu jam sebelum kamu datang," sahut ibunya Widia membuat Widia tercengang dan tak sadarkan diri.
"Widia!" teriak ibunya Widia sambil memeluk erat tubuh anaknya yang nyaris terjatuh.
Para tetangganya pun ikut membopong tubuh Widia ke kamarnya.
***
Lima belas menit kemudian, Widia pun tersadar. Ia melihat sekeliling ruangan tempat tidurnya yang hanya di tempati olehnya.
Ketika ingat ayahnya, ia pun bergegas bangun dari tempat tidurnya dan segera menuju ke ruang tengah.
"Ayah, bangun! Jangan tinggalkan Widia!" teriak Widia sambil menggoyangkan jenazah ayahnya.
"Widia, sabar ya! Ikhlaskan saja kepergian ayahmu," ujar ibunya sambil memeluk erat tubuh anaknya.
"Maafkan Widia, Yah. Widia sudah mengecewakan Ayah. Widia menyesal telah memilih jalan yang salah. Jangan tinggalkan Widia sendiri, Yah. Widia janji akan berubah jadi anak yang lebih baik lagi," batin Widia sambil meneteskan air matanya.
***
"Widia!" teriak ibunya.
***
Sepuluh menit kemudian, Widia pun kembali sadar. Ia benar-benar menyesali perbuatannya selama ini. Tiba-tiba ibunya Widia melihat Herman. Ia pun naik pitam dan bergegas menghampiri Herman.
"Herman, ngapain di sini?! Pergi!" teriak ibunya Widia.
"Dia yang antar Widia ke sini, Mah," imbuh Widia.
Tiba-tiba Robert dan temannya pun datang. "Ayo, kita kembali berangkat ke Jakarta!" ujar Robert membuat ibunya Widia tercengang.
"Siapa kamu? Ngapain ngajak Widia ke Jakarta?" gertak ibunya Widia.
"Dia...." omongan Widia keburu di potong oleh temannya Robert.
"Anak Ibu harus kembali kerja sebagai PSK," sahut temannya Robert.
"Apa?! Kurang ajar! Pergi kalian atau saya laporkan pada Polisi!" teriak ibunya Widia mengundang perhatian banyak orang.
"Kami gak bisa pergi jika tanpa Widia. Anak Ibu sedang dalam pengawalan kami. Dia sudah terikat kontrak kerja," ujar Robert lantang.
__ADS_1
"Gak usah banyak bicara kalian! Pergi atau kalian saya laporkan Polisi," teriak ibunya Widia.
Namun, Robert malah menarik tangan Widia. "Ayo, ikut!" teriak Robert.
"Lepasin anak saya! Tolong!" teriak ibunya Widia mengundang kedatangan beberapa orang termasuk salah satunya Pak RT.
"Ada apa ini? Gak usah bikin ribut di pemakaman umum. Ini masih suasana berduka," teriak Pak RT.
"Dia mau menjual anak saya jadi PSK, Pak," imbuh ibunya Widia.
"Astaghfirullah, pergi kalian semua! Kalau enggak, saya akan lemparkan kalian semua ke penjara," gertak Pak RT.
Akhirnya, Robert dan temannya pun bergegas pergi meninggalkan mereka. Belum puas juga ibu Widia pun mengusir Herman.
"Kamu juga pergi! Pasti mereka komplotan kamu, kan," gertak ibunya Widia membuat Herman menghela nafas panjangnya dan bergegas pergi meninggalkan mereka.
"Apa?! Widia gak berhasil kalian bawa lagi. Ibunya mengusir kalian. Saya gak mau tahu, kalian harus bawa dia lagi. Kalau enggak, kalian semua yang akan habis. Kalian harus bayar denda lima milyar," gertak Mamih Clarisa di percakapan telepon.
"Siap, Bos!" sahut Robert gugup.
"Gimana ini, Brow? Kita yang harus bayar denda kalau gak bisa bawa Widia kembali ke Jakarta," ujar Robert sembari duduk di sebuah pohon besar.
Temannya cuma menggelengkan kepalanya. Sementara Widia di caci maki habis-habisan oleh ibunya.
"Kamu itu gak ada rasa bersyukurnya ya. Di kasih suami yang baik malah jadi orang gak benar. Di mana otak kamu sih, Nak?" ujar ibunya Widia sambil meneteskan air matanya.
"Maafkan Widia, Mah. Widia terpaksa melakukan ini," sahut Widia lirih.
"Kenapa alasannya? Mamah mau tahu."
"Ini gara-gara ibu mertua yang gak merestui hubungan kita."
"Maksudnya bagaimana? Bukannya ibunya Lukman setuju dengan hubungan kalian."
Ibu Widia mengerutkan keningnya mendengar perkataan anaknya. Widia menghela nafas beratnya dan mengeluarkannya dengan berat sebelum menjawab pertanyaan ibunya.
"Awalnya iya, tapi setelah dia tahu Widia pernah jadi PSK sebelum jadi istri dari anaknya, ibu mertua jadi merasa jijik dengan Widia. Widia pun di usir dan di caci maki di hina olehnya. Bahkan di suruh bercerai dengan anaknya."
"Apa?! Jadi, kamu kabur dari rumah ke Jakarta untuk kerja jadi PSK. Apa si Herman yang sudah menjerumuskan kamu? Laki-laki itu emang setan ya."
Ibu Widia benar-benar kecewa dengan Herman yang di anggap telah menjerumuskan anaknya.
"Bukan, Mah. Jadi, begini ceritanya."
Widia pun menceritakan semua kejadian dari awal dia kabur dari rumah sampai tiba di Jakarta. Di pertemukan dengan Mamih Clarisa yang di anggap pahlawan oleh Widia setelah dia kecopetan. Namun, ternyata semua di luar dugaan. Mamih Clarisa telah menipunya dengan menjadikan Widia sebagai PSK bukan SPG.
__ADS_1