
"Sedang apa kalian di situ? Mau kabur ya, masuk ke kamar kalian! Jangan sampai Mamih Clarisa tahu," gertak temannya Robert sambil bertolak pinggang.
"Enggak mau kabur kok, kita cuma lagi cari angin aja," ujar Widia ketus.
"Ya udah, aku ke kamarku duluan ya, Widia," ujar Mita sambil mengedipkan matanya.
"Kamu juga ke kamar juga sana!" ujar temannya Robert sewot.
"Tar dulu lah, bosan banget di kamar mulu," sahut Widia sambil mendengus kesal.
Teman Robert pun mengunci pintu belakang dan mengambil kuncinya. "Apaan sih pakai di kunci segala? Kan saya sudah bilang mau cari angin dulu," gertak Widia sambil mendorong tubuh teman Robert.
"Wah, benar-benar mencurigakan ini. Pasti kamu mau kabur ya," gertak temannya Robert.
"Kalau iya kenapa, hah?!" imbuh Widia ketus.
Tak lama Robert pun datang di ikuti Mamih Clarisa. "Ada apa ini ribut-ribut malam-malam?" gertak Robert.
"Ini Widia nongkrong di sini jam segini. Pasti dia mau kabur," ujar temannya Robert sinis.
"Iya, kamu ngapain jam segini di sini sih?" tanya Mamih Clarisa lantang.
"Iya, saya memang mau kabur. Saya dapat kabar dari ibuku, ayahku sedang kritis di rumah sakit. Tolong Mih, izinkan saya mudik sebentar aja! Saya gak mau menyesal seumur hidup jika terjadi hal yang tidak di inginkan," ujar Widia lirih.
"Basi ya Widia, kamu gak budeg 'kan. Kamu sendiri yang memilih untuk tanda tangan kontrak kerja dengan saya. Jadi, kamu gak bisa mudik seenaknya. Robert, bawa dia ke kamarnya!" gertak Mamih Clarisa.
Robert pun bergegas menarik tangan Widia. Namun, Widia mengibaskan tangan Robert.
"Lepaskan saya!" gertak Widia.
"Ayo, masuk ke kamarmu! Jangan nunggu kesabaran saya habis!" ujar Mamih Clarisa sambil mendengus kesal.
"Gak mau, saya mau pulang, Mih!" sahut Widia lantang.
PLAK! PLAK!
Mamih Clarisa pun naik pitam dan refleks menggampar muka Widia. Widia pun tercengang.
"Ayo, ikut ke kamar sekarang!" ujar Robert ketus.
Akhirnya, Widia pun terpaksa menuruti kemauan mereka. Widia di kurung di kamarnya sendiri. Ia pun cuma bisa meneteskan air matanya.
"Apa yang harus aku lakukan ya? Aku harus bisa keluar dari tempat ini untuk menemui Ayah," gumam Widia.
Tiba-tiba terdengar suara handphonenya berdering. Ternyata Herman yang meneleponnya.
__ADS_1
"Herman, kebetulan dia telepon. Sepertinya aku bisa memanfaatkan dia. Oke, aku angkat deh. Hallo, Herman. Ada apa?" tanya Widia lantang.
"Kamu gak bosan apa di situ mulu? Gak kangen balapan motor lagi apa?" ujar Herman lantang.
"Iya, aku mau banget balapan motor. Kamu bisa bantu aku gak keluar dari sini?" sahut Widia membuat Herman tercengang.
"Maksudnya bagaimana sih? Kamu mau kabur dari situ. Ada apa emangnya?" tanya Herman penasaran.
"Ayahku sakit Herman. Dia sedang kritis. Aku gak mau menyesal jika sampai terjadi apa-apa dengan Ayah. Jadi, tolong bantu aku untuk kabur dari sini!"
"Oke, aku ke sana sekarang."
Tiba-tiba telepon pun terputus. Widia pun tercengang dan mencoba menghubungi Herman kembali. Namun, nomornya sedang tidak aktif.
"Hadeh, pakai tidak aktif lagi," gumam Widia ketus.
***
Tiga puluh menit kemudian, tiba-tiba Herman nyelonong masuk ke arah kamar Widia.
"Wey, mau ke mana Lo? Gak ada sopan santunnya ya main nyelonong aja," gertak temannya Robert yang masih berjaga.
"Minggir, gue gak ada urusan sama Lo! Gue cuma ada urusan dengan Widia," sahut Herman sambil hendak naik ke lantai atas.
Namun, tangan Herman malah di tarik. " Wey, ini udah malam ya. Lo mau apa?"gertak temannya Robert.
"Kurang ajar!" teriak teman Robert sambil bergegas bangun.
Akhirnya, terjadilah pertengkaran hebat antara Herman dan temannya Robert. Saling tonjok muka sampai saling tonjok perut secara bergantian.
Tak berselang lama, Robert dan kedua temannya yang lain pun datang.
"Ayo, kita sikat aja perusuh ini!" ujar Robert sambil mengepalkan tangannya.
Tubuh Herman pun di kelilingi oleh empat orang. Herman pun terperanjat dan membagi pandangan pada mereka.
"Aku harus berhati-hati. Apa yang harus aku lakukan ya?" batin Herman sambil menghela nafas panjangnya.
"Aku kasih kesempatan buat kamu ya untuk pergi sekarang dari sini. Jangan uji kesabaranku. Cepat pergi!" gertak Robert.
"Wah, rupanya di sini selain banyak wanita, ternyata banyak banci juga ya. Beraninya main keroyokan," ujar Herman lantang.
"Gak usah banyak bicara kau! Pergi atau habis kau!" imbuh temannya Robert sinis.
"Saya bakal pergi kalau bersama Widia," imbuh Herman sambil bertolak pinggang.
__ADS_1
"Udahlah, gak usah buang-buang waktu. Habisi dia!" teriak Robert sambil refleks memiting leher Herman.
Ketiga temannya Robert pun meninju perut Herman secara bergantian.
BUGH! BUGH! BUGH!
"AW! AW! AW!"
Herman pun terkapar. Saat Robert mau menginjak perut Herman, tiba-tiba Widia berteriak.
"Tunggu! Jangan sakiti dia atau kalian semua saya laporkan pada Polisi!" gertak Widia membuat Robert dan teman-temannya tercengang.
"Masuk kamu ke kamar! Atau jangan-jangan kalian sudah bersekongkol untuk kabur, hah!" imbuh Robert sewot.
"Kalian mau apa kalau benar? Kalian punya hati sedikit lah. Bagaimana kalau Ayah kalian yang sedang di rawat di rumah sakit dan sedang kritis? Saya yakin, kalian masih punya hati. Jadi, gak usah persulit saya untuk mudik!" gertak Widia sambil meneteskan air matanya.
"Tunggu! Harus berapa kali sih saya bilang pada kamu Widia? Kamu gak usah mudik. Biaya pengobatan ayahmu sampai sembuh saya akan tanggung. Asal kamu jangan mudik," teriak Mamih Clarisa.
"Maaf, Mih. Tanpa mengurangi rasa hormat pada Mamih. Bagaimana jika yang sakit itu orang tua Mamih?" tanya Widia lirih.
"Lancang kamu ya ngomong begitu!" gertak Robert.
"Saya juga tanya kamu. Bagaimana jika orang tuamu yang sakit juga?" imbuh Widia sambil meneteskan air matanya.
"Jawab, saya bertanya! Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan orang tua kalian? Kalian tidak bisa melihat untuk yang terakhir kalinya. Kalian punya hati 'kan?" ujar Widia membuat Mamih Clarisa dan Robert pun menundukkan kepalanya.
"Tolong, izinkan saya mudik sebentar aja, Mih!" ujar Widia lirih.
"Baiklah, saya akan izinkan kamu mudik. Tapi, akan di kawal oleh Robert dan temannya," ujar Mamih Clarisa lantang.
"Bagaimana kalau dia kabur, Mih?" imbuh Robert lantang.
"Kalau dia kabur, kalian semua yang habis," ujar Mamih Clarisa lantang.
"Oke, gak masalah jika saya harus di kawal," sahut Widia sambil memeluk erat tubuh Mamih Clarisa.
Mamih Clarisa pun menghela nafas beratnya dan mengeluarkannya dengan berat. Tak terasa air matanya pun ikut menetes.
Akhirnya, Widia pun bergegas pergi menuju ke stasiun untuk mudik ke kampungnya di kawal Robert dan temannya. Selama di perjalanan, tak ada komunikasi apa pun antar mereka. Padahal mereka duduk saling berhadapan.
Sementara ibunya Widia, ia terus meneteskan air matanya. Sebab kondisi suaminya semakin kritis.
"Ya Allah, sembuhkanlah suami saya. Semoga operasinya berjalan dengan lancar. Aamiin," batin ibunya Widia lirih.
Tiba-tiba terdengar suara handphonenya berdering. Ternyata Widia yang telepon.
__ADS_1
"Assalamualaikum, iya kenapa, Nak?" tanya ibunya Widia lirih.