
"Lukman, tolong mulai besok dan seterusnya rubah sikap kamu pada Lisna. Jangan bikin malu Papa dan Mama. Asal kamu tahu aja ya, beberapa tahun silam, perusahaan kami hampir gulung tikar. Namun, berkat bantuan kedua orang tua Lisna, perusahaan kami pun berangsur-angsur membaik. Kami merasa berhutang budi pada mereka. Entah cara apa yang harus kami lakukan untuk membalas kebaikan mereka. Namun, setelah kami berdiskusi, akhirnya, kami sepakat untuk menjodohkan kamu dengan anak mereka, Lisna. Jadi, tolong jangan bikin malu kami!" ujar ayahnya Lukman lantang.
Mereka sedang duduk santai di ruang tamu sambil nonton TV bareng. Di meja tersedia teh manis hangat dan aneka cemilan.
"Benar kata ayahmu, Nak. Cuma itu satu-satunya cara untuk membalas kebaikan mereka. Jadi, tolong hargai keputusan kami dan rubah sikap kamu pada Lisna," imbuh ibunya Lukman lirih.
"Pah, Mah, maafkan Lukman jika selama ini belum bisa jadi anak yang baik untuk kalian. Lukman akan berusaha untuk menjadi anak yang baik sebisanya. Akan menuruti apa pun kemauan kalian. Namun, untuk urusan hati, Lukman gak bisa memaksa atau dipaksa mencintai wanita lain selain Widia," sahut Lukman sambil menghela nafas panjang.
"Stop! Jangan pernah sebut nama Widia di depan kami lagi. Harus berapa kali sih Mama bilang, dia bukan wanita yang baik. Lupakan dia, belajar mencintai Lisna!" bentak ibunya Lukman.
"Mah, sekali lagi maafkan Lukman, untuk masalah hati gak bisa dipaksa. Sampai kapan pun cuma Widia yang akan Lukman cinta. Begitu pun Widia, Lukman yakin dia pun merasakan hal yang sama," sahut Lukman sambil menggaruk-garuk kepalanya sendiri.
"Lukman, kamu sepertinya sudah gak waras ya. Banyak wanita yang jauh lebih baik dari Widia, ya salah satunya Lisna. Terus kenapa kamu ngeyel masih mau sama Widia sih?" gertak ayahnya Lukman.
"Sudahlah, kalian gak usah bahas itu lagi. Lukman juga gak mau jadi anak durhaka dengan terus berdebat sama kalian. Pokoknya sekali Widia tetap Widia yang akan selalu ada di hati Lukman," ujar Lukman sambil menyeruput minumannya.
"Baiklah, kalau kamu gak mau menuruti kemauan kita, kamu bakal di coret dari daftar ahli waris," gertak ibunya Lukman.
"Lukman gak peduli, Mah. Permisi!" ujar Lukman sambil bergegas pergi menuju ke kamarnya.
Ibu dan ayahnya Lukman cuma saling menatap heran dengan sikap anaknya.
Sementara Widia akhirnya ketemuan dengan Lisna di sebuah restoran. Awalnya Mamih Clarisa tidak mengizinkan. Namun, setelah Lisna memberikan sejumlah uang, akhirnya mereka pun diizinkan untuk bertemu di luar.
"Ya sudah, kamu pesan aja apa pun yang di sukai. Biar saya yang bayar semuanya," ujar Lisna sambil mengembangkan senyumnya.
"Apa?! Serius nih atau cuma hoax atau ada udang di balik batu," sahut Widia lantang.
"Emang di pinggir kali ada batu. Ya serius lah. Kamu pesan aja apa pun yang kamu mau."
Setelah makanan dan minuman yang mereka pesan tiba, mereka pun mulai mengobrol serius.
"Bolehkah saya bertanya duluan, Lis?"
"Iya, silahkan! Kamu mau bertanya apa, Widia?"
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Widia sembari menatap tajam mata Lisna.
__ADS_1
"Baru dua kali sama sekarang," sahut Lisna singkat.
"Kenapa kamu berani mengaku sebagai teman lama saya?"
"Itu cuma cara saya supaya kita bisa ngobrol berdua seperti ini."
"Apa?! Jadi, kamu telah membohongi kami. Untuk apa kamu lakukan itu, hah?!"
"Oke, tutup poin aja. Saya tahu kamu itu istrinya Lukman 'kan. Namun, sebentar lagi kalian akan bercerai. Saya adalah anak dari fathner bisnisnya kedua orang tua Lukman. Keluarga Lukman sudah berhutang budi pada keluarga kami. Perusahaan mereka hampir gulung tikar dan kami yang sudah membantu membangkitkan kembali perusahaan mereka," ujar Lisna membuat Widia tercengang.
"Terus apa urusannya kamu ceritakan sama saya?"
"Ya, biar kamu tahu bahwa saya adalah calon istri barunya Lukman. Mereka gak akan pernah bisa balas kebaikan kami. Kami pun gak pernah minta ganti rugi pada mereka. Cuma satu yang kami inginkan, aku bisa bersanding dengan Lukman. Itu sudah lebih dari cukup untuk membalas kebaikan kami," ujar Lisna membuat Widia tersulut emosi.
"Enteng banget ya kamu kalau ngomong. Gak punya otak, gak punya hati banget sih. Siapa yang bilang saya akan bercerai dengan Lukman? Siapa pun orang itu saya gak peduli. Yang jelas saya akan kembali pada Lukman. Cinta kami gak akan pernah bisa dipisahkan oleh siapa pun, kecuali kematian yang dapat memisahkan kami," ujar Widia sambil beranjak dari tempat duduknya hendak pergi.
"Tunggu! Kamu dengar baik-baik ya, mulai sekarang jauhi Lukman! Dia akan segera menikah dengan saya. Dia itu gak pantas sama kamu yang hanya wanita murahan. Santapan para laki-laki hidung belang. Menjijikan. Ngaca dikit dong!" ujar Lisna ketus.
Beberapa orang yang sedang makan di restoran itu pun cuma saling menatap. Termasuk para pekerja restoran itu.
"Wanita kotor, wanita murahan. Kenapa gak terima?!" sahut Lisna lantang.
PLAKK! PLAKK! PLAKK!
Emosi Widia pun sudah tak terbendung lagi. Terpaksa ia melayangkan tamparannya pada wajah cantik Lisna.
"Kurang ajar ya! Berani kamu sama saya, hah!" gertak Lisna sambil menjambak rambut Widia.
"Aw, lepasin! teriak Widia sambil menjambak rambut Lisna.
"Aw, Lepasin gue wanita murahan!" teriak Lisna.
Setelah saling melepaskan rambut. Keduanya saling menatap sinis. Beberapa orang pekerja pun menghampiri mereka.
"Mbak, tolong jangan buat keributan di sini! Gak enak di lihat orang," tegur seorang waiters.
"Jangan salahkan saya, Mbak! Salahkan aja wanita murahan itu. Usir aja dia, Mbak. Kalau enggak, bisa kena sial nanti usaha restoran ini. Bangkrut dan tutup deh. Mau kerja di mana nanti kalian?" ujar Lisna sambil tersenyum sinis menatap ke arah Widia.
__ADS_1
Widia pun kembali naik pitam dan mencakar muka Lisna. Lisna pun melakukan hal yang sama.
"Aw, wanita ular kaya lho emang pantas dapatkan ini!" teriak Widia.
"Aw, dasar wanita kotor ya." balas Lisna.
"Astaghfirullah, berhenti! Maaf, kalian berdua sudah mengganggu kenyamanan tamu kami yang lain. Segera pergi dari tempat ini atau ganti rugi!" gertak Bapak manager restoran itu.
"Ayo, kalian tolong pergi segera dari sini! Jangan buat suasana restoran jadi kacau," ujar seorang waiter dan waiters sembari menarik tangan mereka.
Akhirnya, Widia dan Lisna pun bergegas pergi keluar dari restoran itu. Lisna segera pesan taxi online, setelah naik taxi Lisna berteriak pada Widia yang masih menunggu ojeg online pesanannya:" Ingat, jauhi Lukman! Kalau enggak, saya akan buat kamu celaka! Camkan itu! Ayo, jalan, Pak!" ujar Lisna membuat Widia menghela nafas beratnya dan mengeluarkannya dengan berat.
***
Sekitar jam 9 malam, Widia mendapat telepon dari ibunya di kampung.
"Apa?! Ayah sakit keras dan sedang dirawat di rumah sakit. Baik, Widia akan minta izin sama Mamih. Eh, maksudnya Bos Widia untuk mudik dulu," ujar Widia dengan mata berkaca-kaca.
"Mudah-mudahan bosmu izinkan ya, Nak! Sepertinya ayahmu kepikiran soal kamu. Kemarin ibunya Lukman telepon kami, dia bilang kalian bakal segera bercerai," sahut ibunya membuat Widia tercengang.
"Astaghfirullah, ibunya Lukman ngomong apa aja sih, Mah?" ucap Widia terbata-bata.
"Katanya kamu bukan wanita yang baik untuk Lukman. Ketika Ibu tanya apa salah kamu? Ibunya Lukman cuma bilang, tanya kamu langsung aja. Emang kalian ada masalah apa sih, Nak?"
"Sudah, nanti saja ceritanya. Widia mau coba minta izin sama Bos dulu. Besok Widia telepon lagi ya, Assalamualaikum," pungkas Widia sambil menutup teleponnya.
"Waalaikumsalam. Sepertinya ada yang Widia sembunyikan dariku ini. Apa ya? Ah, mudah-mudahan cuma perasaanku aja," gumam ibunya Widia sambil duduk di kursi samping suaminya yang sedang tidur di ranjang pasien.
"Apa?! Kamu mau mudik dulu karena ayahmu sakit. Maaf, gak bisa. Ingat, kamu baru tanda tangan kontrak kerja dengan saya. Minimal 6 bulan lagi baru kamu boleh pulang," ujar Mamih Clarisa ketus.
"Astaghfirullah, Mih, ayahku sedang sakit keras sekarang. Aku takut terjadi apa-apa dengan Ayah. Tolong, izinkan aku mudik dulu. Hanya ingin melihat kondisi ayahku saja. Widia janji, setelah ini gak akan libur lagi," sahut Widia sambil menangis terisak-isak.
"Sekali gak bisa, tetap gak bisa. Kamu gak usah khawatir, semua biaya pengobatan ayahmu sampai sembuh saya akan tanggung. Dengan syarat kamu jangan mudik, gak usah ganti sepeser pun. Paham!" gertak Mamih Clarisa membuat Widia menangis terisak-isak.
Mamih Clarisa pun menggelengkan kepalanya melihat ekspresi wajah Widia.
"Ingat, saya sudah peringatkan sebelumnya, dipikirkan dulu baik-baik sebelum tanda tangan kontrak. Namun, kamu sendiri bilang gak usah. Jadi, jangan salahkan saya!" pungkas Mamih Clarisa sambil bergegas pergi meninggalkan Widia.
__ADS_1