
Widia masih belum bisa memejamkan matanya. Padahal jam di dinding sudah menunjukkan jam satu pagi. Dia masih kepikiran soal denda lima milyar pada Mamih Clarisa.
"Aku bingung, apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus balik lagi ke Jakarta? Kalau enggak, dari mana aku bisa bayar denda lima milyar itu? Aku pusing banget, di teror mulu oleh Mamih Clarisa. Dia pakai ngancam bakal ganggu keluargaku lagi," batin Widia sambil meneteskan air matanya.
Badannya terus berganti-ganti posisi di tempat tidurnya. Sudah telentang, tengkurap, miring ke kanan, miring ke kiri. Duduk, tiduran lagi. Begitu terus sampai satu jam lebih.
Tiba-tiba terdengar suara handphonenya bergetar. Ternyata ada pesan masuk dari Mamih Clarisa.
"Widia, saya kasih waktu sampai lusa. Segera kembali ke Jakarta. Jangan uji kesabaran saya. Saya tunggu itikad baik kamu," ucap Mamih Clarisa dalam pesan singkatnya.
"Astaghfirullah, apa yang harus aku lakukan? Ya Allah, berikan aku petunjukmu. Aku gak mau salah langkah lagi. Aku gak mau merepotkan Mas Lukman lagi. Tolonglah aku, Ya Allah," batin Widia sambil meneteskan air matanya.
***
Keesokan harinya, saat Widia sedang di kamar mandi, tiba-tiba terdengar suara handphone berdering.
"Widia, ada telepon tuh. Kamu sedang di mana?" ujar ibunya Widia sambil menyapu lantai.
"Widia masih di kamar mandi, Mah," sahut Widia lantang.
Akhirnya, ibu Widia pun mengangkat teleponnya. "Hallo, Widia! Segera kembali ke Jakarta atau saya akan ganggu seluruh keluargamu," ujar Mamih Clarisa.
"Siapa kamu? Berani-beraninya mengancam anak saya seperti itu. Mau saya laporkan pada Polisi, hah!" gertak ibunya Widia.
"Siapa Anda? Apakah ibunya Widia? Bilang sama anakmu, kembali ke Jakarta. Selesaikan kontrak kerjanya!"
"Gak akan saya izinkan."
"Tolong kerjasamanya. Jangan uji kesabaranku. Suruh dia berangkat atau semua keluargamu akan saya ganggu!"
Telepon pun di tutup oleh ibunya Widia. Mamih Clarisa pun mendengus kesal.
"Oke, rupanya mereka mau cari masalah denganku. Tunggu aja tanggal mainnya. Kalian akan menyesal telah berani mencari masalah denganku," gumam Mamih Clarisa sambil bergegas menuju ke ruangannya.
***
Malamnya, ibunya Widia kepikiran soal anaknya. Ia pun gak bisa tidur. Sementara suaminya sudah tertidur lelap sampai mendengkur keras.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan? Aku gak bisa tinggal diam. Gak ada seorang Ibu yang akan membiarkan anaknya terjerumus atau sengsara. Lukman, iya aku harus telepon dia secara diam-diam," batin ibunya Widia sambil diam-diam turun dari tempat tidurnya menuju ke kamar Widia.
Ibu Widia pun pelan-pelan membuka pintu kamar anaknya yang tidak di kunci. Terlihat anaknya sudah tertidur lelap sambil berselimut tebal. Ibu Widia pun celingak-celinguk mencari keberadaan handphone anaknya. Ternyata Widia menyimpan handphonenya di meja kecil samping tempat tidurnya.
"Itu dia handphonenya Widia. Aku harus diam-diam ambil handphonenya," batin ibunya Widia sambil bergegas mengambil handphone Widia.
Saat handphone Widia sudah di tangan ibunya, tiba-tiba terdengar suara handphone itu berdering. Ibu Widia pun terkejut. Ia pun menaruh handphonenya di samping Widia. Kemudian dirinya membungkukkan tubuhnya di samping ranjang anaknya.
***
Beberapa menit kemudian, setelah di rasa aman. Ibu Widia pun bergegas bangun dan melihat keadaan anaknya yang masih tertidur lelap.
"Kaget aku, di kirain ada telepon," batin ibunya Widia sambil bergegas mengambil handphone anaknya dan segera keluar dari kamar itu.
"Oke, aku harus telepon Lukman sekarang," gumam ibunya Widia sambil bergegas menuju keluar rumah.
Lukman yang mendapat telepon dari Widia malam-malam, spontan antusias segera mengangkatnya.
"Hallo, Sayang. Ada apa tumben telepon malam-malam?" ujar Lukman sambil bergegas bangun dari tempat tidurnya.
"Assalamualaikum, maaf ini ibunya Widia, Nak," sahut ibunya Widia membuat wajah Lukman mendadak berubah jadi merah.
"Ibu baik. Maaf, jika Ibu ganggu kamu malam-malam, Nak. Ada hal penting yang mau Ibu bicarakan sama kamu."
"Ada apa, Bu? Tutup poin aja."
Lukman pun mengerutkan keningnya sudah gak sabar menunggu ibu mertuanya bicara.
"Ini soal Widia. Dia sedang dalam bahaya."
"Apa?! Apa yang sebenarnya telah terjadi pada Widia, Bu?"
Ibu Widia pun menceritakan kejadian yang sedang di alami anaknya. Mulai dari ketika suaminya masih hidup dan sakit keras waktu itu. Hingga akhirnya kondisi suaminya semakin kritis dan Widia pun pulang kampung. Namun, ibunya Widia marah besar saat tahu Widia dalam pengawalan orang-orang Mamih Clarisa.
"Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un, Ayah meninggal. Maafkan Lukman ya, Bu. Lukman belum bisa ke tempat Ibu," ujar Lukman dengan mata berkaca-kaca.
"Enggak papa, Nak. Do'akan saja beliau yang sudah tenang di alam sana."
__ADS_1
***
Keesokan harinya, Lukman pun bergegas pergi menuju ke tempat prostitusi milik Mamih Clarisa. Setelah semalam ngobrol dengan ibunya Widia, Lukman pun berniat mau membebaskan istrinya dari kontrak kerja yang gak berprikemanusiaan itu.
"Ya sudah, ibu akan dukung kamu untuk kembali berbaikan dengan Widia. Tolong bebaskan dia bantu bayar denda pada manusia brengsek itu," ucap ibunya Widia malam itu di percakapan telepon dengan Lukman.
Sambil menyetir mobilnya, Lukman pun tersenyum lebar mendengar perkataan ibu mertuanya semalam.
"Siap, Bu. Demi cinta Lukman pada Widia, apa pun akan Lukman lakukan."
"Bagus. Satu lagi, setelah kalian berbaikan, tolong kamu temani Widia tinggal di sini. Temani ibu juga yang kini hidup sendiri setelah kepergian ayah Widia."
Ucapan ibunya Widia semalam masih terngiang-ngiang di telinga Lukman. Saking semangatnya, tak berasa ia sudah sampai di tempat Mamih Clarisa. Robert dan kedua temannya saling menatap saat melihat kedatangan Lukman.
"Itu kan laki-laki yang pernah jadi tamu Widia. Yang pernah mau tebus Widia untuk di peristri. Namun, Widia malah mengusirnya," ujar Robert setengah berbisik.
"Iya, mau apa dia balik lagi ke sini?" sahut temannya Robert.
Tiba-tiba Lukman nyelonong masuk ke tempat prostitusi itu. Robert pun naik pitam.
"Wey, mau apa kamu nyelonong aja?" gertak Robert sambil menghadang Lukman.
Sementara kedua temannya mengawasi dari jauh. Lukman menghela nafas beratnya dan mengeluarkannya dengan berat.
"Minggir, saya gak ada urusan dengan kamu! Saya cuma ada urusan dengan Mamih Clarisa," sahut Lukman lantang.
"Oke, mari saya antar!" ujar Robert lantang.
Akhirnya, Lukman pun ngobrol berdua dengan Mamih Clarisa. Sementara Robert dan kedua temannya berjaga di depan ruangan Mamih Clarisa.
"Oke, kalau benar kamu serius mau menikah dengan Widia, terpaksa saya akan melepaskan Widia dari ikatan kontrak kerja. Kamu tahu kan konsekuensi apa yang harus dia tanggung jika berhenti sebelum habis masa kontraknya?" ujar Mamih Clarisa sambil menatap tajam mata Lukman.
"Bayar denda lima milyar. Saya sudah siapkan uangnya," sahut Lukman sambil memberikan sebuah kover kecil pada Mamih Clarisa.
Mamih Clarisa pun bergegas membuka kover itu. Ia pun mengelus-elus dadanya melihat kover itu penuh dengan uang berwarna merah.
"Itu semuanya sudah pas lima milyar. Boleh di hitung ulang kalau Anda ragu," ucap Lukman lantang.
__ADS_1
"Tidak perlu. Namun, dengan uang segini belum bisa membebaskan Widia dari sini," ujar Mamih Clarisa membuat Lukman tercengang.