Terjerat Pernikahan Dengan Wanita Malam

Terjerat Pernikahan Dengan Wanita Malam
Episode 9. Gak mau rugi


__ADS_3

"Lihat tuh kelakuan anakmu, Yah. Pasti gara-gara Widia dia begitu lagi. Apa yang harus kita lakukan ya?" ujar ibunya Lukman lantang.


"Kita undang Lisna aja lagi untuk mendekati Lukman," usul ayahnya Lukman.


"Oke, Ibu telepon Lisna deh," ujar ibunya Lukman sambil mengeluarkan benda pipih miliknya.


Lisna mendengar suara handphonenya berdering bergegas mengambilnya di atas televisi. Namun, saat tahu ibunya Lukman yang telepon, dirinya mendengus kesal.


"Mau ngapain sih telepon-telepon segala? Pasti mau menjodohkan dengan anaknya yang sok ganteng itu," gumam Lisna sambil terpaksa mengangkat teleponnya.


"Iya Tante, ada apa?" tanya Lisna dengan nada malas.


"Hai Lisna, kamu bisa datang ke rumah Tante gak?" ujar ibunya Lukman dengan nada manja.


"Ada urusan apa, Tan?" tanya Lisna sambil mengernyitkan keningnya.


"Biasa, Tante mau minta tolong sama kamu untuk mendekati Lukman. Dia udah mulai drop lagi. Kayanya gara-gara mantan istrinya itu," ucap ibunya Lukman sambil menghela nafas panjangnya.


"Aduh, maaf banget ya Tante. Kali ini Lisna gak bisa bantu. Soalnya Lisna masih sakit hati dengan sikapnya Lukman."


"Apa?! Tolong dong Lisna, bantu Tante. Cuma kamu yang bisa Tante harapkan."


"Sekali lagi maaf Tante, aku gak bisa bantu sekarang," pungkas Lisna sambil menutup teleponnya.


"Lisna, tunggu! Hadeh, malah di tutup teleponnya," gerutu ibunya Lukman.


Di lain pihak, Herman berpapasan di pinggir jalan dengan Remon. Mereka pun bergegas turun dari motornya masing-masing.


"Hallo, apa kabar, Brow? Pasti kamu sedang cari Widia ya," ujar Remon membuat Herman tercengang.


"Apakah kamu yang sudah menculik Widia? Katakan di mana dia?" gertak Herman sambil menarik kerah baju Remon.


"Tenang, saya bakal kasih tahu di mana keberadaan Widia. Dengan syarat kamu harus berikan dulu sejumlah uang," sahut Remon lantang.


"Banyak omong kamu!" gertak Herman sambil memberikan bogeman pada Remon.


BUGH!


"AW!"


Remon berusaha menangkis serangan Herman, tapi dirinya malah kewalahan.


"Ayo, katakan di mana Widia?" ujar Herman dengan mata melotot.


"Bayar dulu baru saya kasih tahu!" sahut Remon ketus.

__ADS_1


Herman pun kembali menghajar Remon habis-habisan hingga tersungkur. Saat kaki Herman mau menginjak perut Remon, Remon pun berusaha menahan kaki Herman sambil berkata dengan napas terengah-engah" Widia jadi PSK, bukan saya culik!" teriak Remon membuat Herman tercengang.


Herman pun jongkok sambil menarik kerah baju Remon. "Katakan, di mana Widia jadi PSK?" gertak Herman.


"Saya bisa antar sekarang juga," sahut Remon terbata-bata.


"Tidak perlu. Saya bisa cari sendiri. Gak usah khawatir, saya tetap akan bayar kamu," ujar Herman ketus.


Remon pun menjelaskan alamat tempat Widia bekerja. Herman mencatatnya di handphonenya dan meminta nomor telepon Remon.


"Terima kasih, awas aja jika kamu bohong akan saya habisi," gertak Herman sambil bergegas pergi meninggalkan Remon.


"Argh! kurang ajar. Awas aja ya, nanti gue balas!" gerutu Remon sambil bergegas bangun.


Sementara Herman bergegas menuju ke tempat Widia bekerja. Setelah sampai, Herman langsung nyelonong masuk ke tempat kerja Widia.


"Widia, di mana kamu?" teriak Herman membuat Robert geram.


"Wey, ngapain Lo ke sini? Cari siapa Lo? Pakai teriak-teriak segala. Lo pikir ini hutan, hah!" gertak Robert.


"Gue gak ada urusan sama Lo. Mana Widia?" sahut Herman ketus.


"Lo mau ngapain cari Widia? Mau booking dia, hah! Emang Lo punya uang berapa?" ucap Robert dengan nada meledek.


"Gue gak perlu bayar jika mau booking dia. Asal Lo tahu aja, Widia itu pacar gue," sahut Herman ketus.


Herman pun naik pitam dan bergegas bangun. Tanpa banyak kata, ia pun memberikan bogeman mentah pada Robert.


BUGH!


"Aw, kurang ajar," teriak Robert sambil nyaris membogem Herman.


Namun, Herman keburu menahan tangan Robert dan memelintirnya. Robert pun nyengir kuda.


"Aw, kurang ajar! Oke, kalau maunya cari gara-gara. Kita selesaikan secara jantan sekarang!" gertak Robert sambil mengibaskan tangan Herman dan bergegas memasang kuda-kuda.


Akhirnya, terjadilah pertarungan sengit antara mereka. Widia yang mendengar suara ribut-ribut langsung turun ke lantai bawah.


"Ada apa sih ribut-ribut?" gumam Widia.


Setelah sampai di lantai bawah, Widia pun tercengang melihat kedatangan Herman. Saat posisi Herman mau meninju perut Robert, tiba-tiba Widia teriak," Cukup Herman, hentikan!"


Herman pun tercengang melihat ke arah Widia. Tanpa banyak kata, Robert menendang perut Herman hingga tersungkur. Widia pun tercengang. Herman pun nyengir kuda.


"Aw, keparat!" teriak Herman.

__ADS_1


Robert masih belum puas, ia nyaris menginjak perut Herman. Namun, keburu di halang oleh Widia.


"Cukup, Robert! Sebaiknya kamu pergi aja! Dia teman saya," gertak Widia.


Robert pun menghela nafas panjangnya dan bergegas pergi meninggalkan mereka. Widia membantu membangunkan Herman.


"Widia, ngapain kamu kerja di sini? Kaya gak ada kerjaan lain aja sih. Kamu prustasi karena pernah aku nodai. Aku minta waktu untuk segera menikahi kamu," ujar Herman lantang.


"Ngaco kamu Herman, ayo ikut aku ke atas!" ajak Widia sambil menarik tangan Herman.


Akhirnya, mereka pun ngobrol di kamar Widia. Herman tidak terlalu kaget ketika Widia bilang dia sudah menikah. Sebab dirinya sudah mengetahuinya sejak lama.


"Ya sudah, kamu minta cerai aja sama suamimu yang gak berguna itu. Terus menikah deh dengan aku," ujar Herman lantang.


"Enteng banget ya kamu kalau ngomong. Gak sesimpel itu masalahnya. Aku dan suamiku itu saling mencintai. Namun, kedua orang tuanya yang tidak merestui. Kamu bisa bantu aku gak, Man?"


"Bantu apaan sih?"


"Bantu aku supaya bisa bersatu kembali dengan Lukman."


Herman pun tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Widia. Widia pun mencubit lengan Herman.


"Aw! Sakit tahu. Kebiasaan ya cubit-cubit mulu," gertak Herman.


"Oke, gak papa jika gue harus bantu Widia bersatu dengan suaminya itu. Asal ada keuntungan yang bisa aku dapat," batin Herman sambil tersenyum licik.


Di lain pihak, Lisna ketemuan dengan Remon. Lisna terperanjat saat melihat wajah Remon babak belur.


"Muka Lo kenapa bonyok-bonyok gitu?" ujar Lisna heran.


"Gue tadi dihajar habis-habisan oleh laki-laki yang waktu itu telah menggagalkan rencana gue untuk membatalkan pernikahan Widia dan Lukman," sahut Remon membuat Lisna tercengang.


"Apa?! Siapa dia? Kenapa dia seakan-akan mendukung hubungan mereka," ucap Lisna sambil menggaruk-garuk kepalanya sendiri yang tidak gatal.


"Entahlah, tapi sebentar lagi gue bakal dapat duit dari laki-laki itu," ujar Remon membuat Lisna tercengang.


"Kok bisa, aneh banget sih. Habis di buat babak belur, terus di kasih duit. Maksudnya gimana sih gue jadi bingung?" tanya Lisna sambil memijat-mijat kepalanya sendiri.


"Gue cuma di minta alamat tempat Widia bekerja sebagai PSK."


"Gitu doang dapat duit. Jangan lupa bagi-bagi ya!"


"Sorry, gak bisa. Gue mau minum-minuman keras nanti malam sambil main kartu domino dengan teman-teman. Lumayan buat sampingan."


Lisna pun mendengus kesal mendengar perkataan Remon. Sementara Remon malah bersiul.

__ADS_1


"Lantas rencana selanjutnya apa buat menghancurkan hubungan Widia dan Lukman?" tanya Lisna sambil menatap tajam mata Remon.


__ADS_2