
Lisna dan Herman senang saat tahu Widia hilang. Lisna segera pulang ke Jakarta untuk menghampiri Lukman. Ibu Lukman menyambutnya. Namun, Lukman selalu menolaknya.
"Lukman, kamu jangan bikin malu Mamah ya. Berkali-kali Mamah bilang, bersikap baiklah pada Lisna," gertak ibu Lukman.
Namun, Lukman malah bergegas pergi menuju ke kamarnya. Ibu Lukman dan Lisna pun cuma menggelengkan kepalanya.
Di lain pihak, Mamih Clarisa yang gak punya hati, Dia terus menerus menyuruh Widia melayani para laki-laki hidung belang sampai kelelahan.
"Astaghfirullah, Mamih semakin gak punya hati. Masa sehari harus melayani tiga puluh orang tamu," teriak Widia dalam hati.
Ia cuma bisa pasrah dengan nasibnya kini yang terjadi akibat kebodohannya sendiri.
Sementara Mita, dia sengaja mencari Widia ke rumahnya. Saat Ibunya Widia mengatakan bahwa anaknya hilang, Mita pun ikut mencari Widia.
"Baik, saya akan bantu cari Widia, Bu. Permisi," ujar Mita sambil bergegas pergi meninggalkan ibu Widia.
Di perjalanan, Mita memergoki dua orang pemulung yang ternyata Mamih Clarisa dan Robert. Mamih Clarisa mengajak dia menemani Widia untuk jadi PSK. Mita pun menyanggupinya dari pada nganggur katanya.
Mita :"Baiklah Mamih, saya kapan bisa mulai kerjanya?" tanya Mita.
Mamih Clarisa:"Kamu bisa mulai kerja besok, datanglah ke alamat yang saya kirimkan."
Mita :"Baiklah tapi saya tidak mempunyai nomor ponsel Mamih."
Mamih : “Robert, berikan nomor ponselku padanya,” Ujar mamih Clarisa.
Robert:"Baik mamih."
Robert dengan segera memberikan nomor ponsel pada Mita. Mita pun menyimpannya. Setelah itu Mamih Clarisa dan Robert pun pergi meninggalkan Mita. Reaksi Mita terlihat sangat Senang.
Keesokan harinya, Mita mendatangi alamat rumah yang telah dikirmkan oleh Mamih Clarisa kemarinnya. Begitu tiba di depan pintu kontrakan mamih Clarisa, Mita langsung membuka ponselnya. Ia mengirimkan pesan pada Mamih Clarisa untuk mengabari bahwa Mita sudah sampai didepan kontrakan. Mamih Clarisa terlihat Nampak senang sambil tersenyum licik.
Mamih :"Dasar anak nakal. Robert buka pintu, suruh gadis nakal itu masuk dan kamu bawa ke belakang.” ujar mamih Clarisa. Robert pun menuruti perintah Mamih Clarisa.
Dengan segera Robert membuka pintu dan mempersilahkan Mita masuk dan bergabung dengan Widia beserta teman-teman lainnya. Mita langsung menghampiri Widia.
“Hay Widia?” Sapa Mita pada Widia yang sedang fokus merias diri. Mendengar namanya disapa Widia pun langsung menoleh kearah Mita, dan Widia sangat tercengang heran melihat Mita ada ditempat kotor sepertinya saat ini.
__ADS_1
“Mita? Kenapa kamu berada disini?” tanya Widia yang langsung menghampiri Mita dengan heran dan dengan ekspresi yang khawatir.
“Santai dong Widia, keep calm.” sahut Mita.
“Bagaimana bisa santai Mita. Di sini semua orang berusaha untuk keluar dari tempat kotor ini, sedangkan kamu malah terlihat biasa saja,” jawab Widia.
“Bukankah kamu senang berada di tempat ini?” tanya Mita seolah mengejek.
Widia tidak menjawab. Dia hanya bisa menghela nafas kasar lalu kemudian bergegas pergi. Widia kembali ke tempat merias dirinya. Mita pun merasa di cuekin. Dia terus mengekori Widia sambil menggerutu tidak karuan.
“ Dengar ya Widia, aku mau kerja di manapun itu bukan urusanmu, atau jangan-jangan kamu takut tersaingi olehku?” ujar Mita meremehkan.
Widia tak mau menanggapi ocehan Mita. Dia sengaja mengabaikan apa-apa yang dilontarkan oleh Mita. Widia kini sudah siap dengan penampilannya yang menawan. Nampak cantik dengan balutan busana minim, rok span mini berwarna pink dengan dipadukan atasan tengtop berwarna hitam.
Tok-tok-tok
Terdengar pintu diketuk.
“Widia, Mita cepat buka pintunya! Sudah waktunya kalian harus melayani para tamuku di ruang depan. Ayo cepat!” ujar Mamih Clarisa sambil berteriak-teriak.
Teriakan Mamih Clarisa membuat teman-teman Widia merasa takut.
Widia, Mita dan semua teman-temannya pun keluar. Mengikuti semua perintah mamih Clarisa, di ruangan yang sudah disiapkan oleh Mamih Clarisa disana sudah banyak para lelaki hidung belang yang siap membeli para gadis. Semua sudah memilih pasangan masing-masing, dan yang terakhir Widia di hampiri oleh pria bule bermata biru, yang gagah dan tinggi tegap, seperti mirip dengan artis di film laga ikan terbang.
“Hay Cantik. Bisakah kamu memuaskanku malam ini?” ujar si bule.
“Hahaha. Apa kau meragukan kemampuanku Tuan yang tampan?” sahut Widia yang diawali dengan tertawa.
“Baiklah, buktikan padaku” kembali si bule berujar.
Dengan segera Widia berjalan menuju kamar yang di khususkan untuk melayani tamu-tamu pria hidung belang dengan di ikuti oleh Si bule. Lama mereka melakukan hingga membuat si bule merasa lelah. Widia yang sudah berpengalaman dari sebelum-sebelumnya, mudah bagi Widia untuk membuat lelaki manapun kewalahan.
Setelah melayani pria bule tersebut, Widia mengenakan kembali pakaiannya. Namun tiba-tiba saja tangan kekar si bule memeluk Widia dari belakang, membuat Widia kaget.
“Ahh."
“Sstt, kau sangat hebat baby. Besok aku akan kembali lagi. Tunggu aku” Ujar si bule dengan posisi memeluk Widia erat.
__ADS_1
Mendapat perlakuan manis dari kliennya, widia sejenak terdiam.
“Aku harus segera keluar, masih banyak klien lain yang harus aku layani tuan” jawab Widia.
Mendengar jawaban Widia, Si bule tampan itu merasa tidak suka, sepertinya si bule tersebut tertarik pada Widia. Melihat Widia keluar meninggalkannya seorang diri dikamar si bule tersebut mengepalkan tangannya, terlihat marah.
“Argh, ****.”
si bule segera menyambar ponselnya dan meminta anak buahnya untuk menemui Mamih Clarisa. Dia meminta agar Widia hanya diperbolehkan untuk melayaninya saja. Disana mamih Clarisa meminta pada anak buah Si Bule bahwa Si Bule untuk segera datang menghadap ke ruangan Mamih Clarisa.
Si Bule pun menurutinya, dia datang masuk ke ruangan Clarisa. Clarisa yang sudah tau pun menyambut Si Bule.
“Selamat malam Tuan tampan, silahkan duduk!” ujar Mamih Clarisa.
“Saya tidak suka basa-basi, berapa harga yang bisa aku bayar, untuk Widia?”
“Wow, amazing. Hahahaha. Ternyata kau memang pintar tuan tampan. Widia adalah salah satu bintangnya di tempatku,” sahut mamih Clarisa.
“Aku tidak punya banyak waktu. Cepat kau tulis jumlah uang pada cek ini” Si Bule menyodorkan selembar cek pada Clarisa.
Dalam hatinya Clarisa senang bersorak ria. Namun, Mamih Clarisa sengaja bersikap jual mahal, dengan tujuan supaya Si Bule memberikan jumlah uang yang lebih banyak.
“Terserah kau saja, tulis angka yang kau mau."
“Kau yakin?” tanya mamih Clarisa memastikan Si Bule.
“Yes, true.”
“Baiklah, karena kau memaksa. Aku bisa apa?” sahut Mamih Clarisa sembari mengambil cek kosong dan menuliskan angka yang fantsastis pada cek tersebut.
Setelah itu dia dan Si Bule berjabat tangan sebagai symbol kesepakatan.
Setelah semua selesai, Si Bule pun pergi, tanpa pamit sama sekali. Si Bule hanya menghampiri Widia dan berkata bahwa esok hari dia akan kembali menemuinya. Widia hanya merespon dengan senyuman. Widia merasa heran pria bule tersebut.
Pada pagi harinya, Widia yang terjaga semalam, dia tidak bisa tidur, sebab terus teringat pada Lukman suaminya dan juga Ibunya. Widia menangis terisak.
“Tuhan bagaimana kabar suamiku?, kenapa dia tidak mencari aku? Hiks hiks hks. Ibu aku kangen,” Widia bergumam dalam hatinya dengan terus menangis.
__ADS_1
Sekitar jam 11 Siang, Mamih Clarisa mendatangi kamar Widia. Mamih Clarisa mengatakan bahwa meski Widia sudah dibooking oleh Si Bule, Widia tetap harus melayani Klien lain. Namun, Widia tidak boleh mengatakannya pada si Bule. Setelah mengatakan hal tersebut mamih Clarisa keluar dari kamar Widia tanpa merasa kasihan sama sekali. Widia hanya menghela nafas pasrah sambil menundukan wajahnya.