Terjerat Pernikahan Dengan Wanita Malam

Terjerat Pernikahan Dengan Wanita Malam
Episode 7.Rindu berat


__ADS_3

Di sela-sela jam istirahat, Widia cerita pada Mita soal ayahnya yang sedang di rawat di rumah sakit.


"Apa?! Ayahmu sedang sakit keras. Ya udah, kamu minta izin Mamih Clarisa untuk pulang dulu," ujar Mita lantang.


"Mamih Clarisa gak mengizinkan. Dia bilang gak usah pulang karena baru tanda tangan kontrak kerja. Semua biaya pengobatan ayahku akan dibayarkan asal jangan pulang," sahut Widia dengan mata berkaca-kaca.


"Bodoh kamu! Ngapain mau balik ke sarang macan. Udah tahu Mamih Clarisa itu kejam. Maaf untuk kali ini saya gak bisa bantu. Waktu itu aja saya sudah bantu kamu malah balik lagi ke sini," ujar Mita sambil bergegas pergi meninggalkan Widia.


Widia pun benar-benar menyesali keputusan bodohnya itu. Ia benar-benar bingung harus berbuat apa. Di satu sisi, ia takut terjadi sesuatu dengan ayahnya. Di sisi lain, ia gak mungkin melanggar kontrak dengan Mamih Clarisa yang sangat kejam.


Di lain pihak, Remon yang sedang mengendarai motornya tiba-tiba melihat Lukman di sebrang jalan sedang terlihat buru-buru bawa motornya.


"Itu kan suami Widia. Sepertinya aku bisa cari keuntungan dari laki-laki bodoh itu," gumam Remon sambil bergegas memutar balik laju motornya.


Setelah dekat ke arah laju motor Lukman, Remon pun bergegas mengejar motor Lukman dan segera memalangkan motornya. Lukman pun tercengang dan mengerem motornya secara mendadak.


"Wey, lho sudah gila ya! Ada apa sih lho menghalangi perjalanan gue?" gertak Lukman sambil bergegas turun dari motornya dan menarik kerah baju Remon.


"Sabar-sabar! Saya tahu kamu sedang cari Widia 'kan," sahut Remon membuat Lukman tercengang.


"Di mana Widia? Apa jangan-jangan kamu yang sudah menculiknya, hah?!" gertak Lukman sambil terus menarik kerah baju Remon.


"Bukan. Saya tahu di mana dia berada. Saya bisa antar kamu ke tempat dia bekerja. Asal mau bayar 5 juta," ujar Remon mesem.


"Kamu pikir saya bodoh. Saya bayar kamu kabur," imbuh Lukman ketus.


"Ayo, saya antar ke tempat dia bekerja. Setelah itu baru kamu bayar," imbuh Remon membuat Lukman melepaskan kerah bajunya.


Setelah sampai di tempat kerja Widia, Lukman pun tercengang melihat tempat prostitusi itu.


"Mau apa kamu ajak saya ke tempat terkutuk ini hah?! Kamu pikir saya laki-laki kotor kaya kamu," bentak Lukman sambil mengepalkan tangannya.


"Widia kembali bekerja di tempat ini. Kamu bisa cek sendiri. Ini nomor telepon saya. Nanti kamu telepon saya jika mau bayar jasa saya," ujar Remon sambil memberikan secarik kertas pada Lukman.


Setelah Remon pergi, Lukman pun masuk ke dalam tempat prostitusi itu. Terlihat ruangan itu di hiasi lampu warna warni yang menyilaukan mata dan iringan musik yang membuat pinggul rasanya ingin bergoyang.

__ADS_1


Beberapa wanita cantik yang melihat kedatangan Lukman pun bergegas saling mendahului menghampirinya.


"Hallo, Aa ganteng. Ayo, ikut saya aja. Saya belum dapat penglaris nih!" ajak seorang wanita bertubuh gemuk sambil memegang erat tangan Lukman.


"Maaf, saya cuma mau sama Widia," ujar Lukman lirih sambil mengibaskan tangan wanita itu pelan-pelan.


"Sama saya aja. Gak kalah cantik dan hot goyangannya," ujar wanita berparas ayu yang membuat Lukman mengelus-elus dadanya.


Namun, dia gak mau mengkhianati istrinya. Dirinya cuma mau bertemu dengan Widia. Tiba-tiba Mita pun datang menghampiri Lukman.


"Eh, ini jatah saya ya. Ayo, Mas ganteng sama saya aja," ujar Mita sambil menggandeng tangan Lukman.


"Maaf, saya cuma mau dengan Widia," sahut Lukman membuat Mita tercengang.


"Hahahaha, kasihan deh lho. Dari tadi dia maunya cuma sama Widia," ledek teman Mita.


Mita pun cuma menghela nafas panjangnya dan melepaskan pegangan tangannya.


"Ada apa ini? Mas ganteng mau bertemu siapa?" tanya Mamih Clarisa lantang.


Lukman tidak langsung menjawab pertanyaan Mamih Clarisa. Ia menatap tajam penampilan Mamih Clarisa yang sekujur tubuhnya di hiasi dengan berbagai macam perhiasan mewah.


"Hadeh, ganteng-ganteng budeg nih kayanya. Mau ketemu siapa sih? Tuh tinggal pilih cewek-cewek cantik itu. Kamu bebas mau booking berapa cewek. Asal bayaran sesuai, mereka pasti akan melayani kamu sampai puas. Sampai lemas, bahkan sampai berhari-hari pun bebas. Namun, kalau kamu cuma mau main aja mending pulang aja deh," gertak Mamih Clarisa.


"Saya mau bertemu dengan Widia dan mau bersenang-senang dengannya," sahut Lukman membuat Mamih Clarisa tercengang.


"Berani bayar berapa kamu? Dia itu aset perusahaan termahal. Kalau cuma bawa uang recehan sebaiknya kamu cari tempat lain aja," imbuh Mamih Clarisa dengan nada meremehkan.


Saat ini Lukman sengaja cuma menggunakan setelan pakaian sederhana. Hal itu sengaja dia lakukan untuk menghindari kecurigaan Widia.


"Berapa pun akan saya bayar. Asal cuma mau bersenang-senang dengan Widia," imbuh Lukman lantang.


"Robert," teriak Mamih Clarisa.


"Siap, Bos," sahut Robert bergegas menghampiri Mamih Clarisa.

__ADS_1


"Tolong antar Mas ini untuk bertemu Widia di lantai atas!" ujar Mamih Clarisa sambil bergegas pergi meninggalkan mereka.


"Ayo, ikut saya!" ajak Robert.


Setelah sampai di lantai atas, Robert pun mengetuk-ngetuk pintu kamar Widia. Widia emang di anggap aset terbesar perusahaan Mamih Clarisa. Sehingga dia diberi kamar khusus untuk beristirahat.


"Widia, ada tamu yang menunggu nih," ujar Robert lantang.


"Suruh tunggu! Saya mau ganti baju dulu," sahut Widia dari dalam kamar.


"Ya sudah, saya tinggal dulu ya. Sebentar lagi dia akan keluar," ujar Robert sambil bergegas pergi meninggalkan Lukman.


***


Beberapa menit kemudian, Widia pun bergegas membuka pintu kamarnya. Seperti di sambar petir di siang bolong, saat Widia melihat sosok laki-laki yang akan menjadi tamunya adalah suaminya sendiri.


"Mas Lukman," ujar Widia lirih.


Lukman tercengang melihat penampilan Widia yang tidak biasanya. Atasannya cuma mengenakan kaos singlet berwarna putih yang menutupi kedua buah gunung kembarnya. Bawahnya cuma mengenakan rok mini.


"Widia, rupanya kamu di sini. Saya benar-benar rindu padamu," sahut Lukman sambil beranjak dari tempat duduknya dan bergegas menghampiri Widia.


Namun, Widia nyaris menutup pintu kamarnya. Beruntung Lukman keburu menahan pintu itu hingga terjepit kedua tangannya.


"AW!" teriak Lukman membuat Widia tercengang.


Ia pun kembali membuka pintu kamarnya. "Maafkan aku Mas Lukman. Yang sakit yang mana? Ayo masuk biar aku obatin dulu!" ujar Widia panik sambil memegang kedua tangan Lukman.


Spontan jantung Lukman pun berdetak lebih cepat. Widia pun merasakan hal yang sama.


"Aduh, kok aku jadi gak karuan gini sih," batin Widia salah tingkah.


"Rasa sakitku tidak seberapa dengan rasa rinduku yang begitu berat padamu. Aku sangat rindu padamu, Sayang. Ayo, kita melepas rindu yang sudah lama terpendam dalam-dalam. Aku tahu, kamu juga rindu padaku 'kan," ujar Lukman sambil memegang erat tangan Widia.


"Jujur aku juga rindu padamu, Mas. Kamu yakin mau bermain dengan wanita kotor sepertiku. Aku sudah mengkhianatimu, Mas. Aku gak pantas untukmu," sahut Widia dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Ssst, kamu gak usah bicara sembarangan. Aku tahu kamu melakukan ini karena terpaksa 'kan. Ayo, kita lakukan sekarang! Kepalaku atas bawah sudah cenat-cenut nih," ujar Lukman sambil membopong tubuh Widia.


Kemudian tubuh indah Widia pun Lukman lemparkan secara lembut ke tempat tidur. Akhirnya, Lukman pun bergegas naik ke ranjang panas itu dengan posisi tubuhnya di atas tubuh istrinya yang sudah siap menerima serangan-serangan maut dari suaminya itu.


__ADS_2