
Akhirnya Lukman pun bergegas pergi. Beberapa saat kemudian ia memberikan sebuah tespek pada Widia.
"Kamu periksa kandunganmu sekarang!" ujar Lukman sambil memberikan sebuah tespek.
Widia pun bergegas pergi menuju ke kamar mandi di rumah Lukman. Hasilnya Widia positif hamil. Lukman pun jadi dilema.
"Apa? Jadi, kamu benaran hamil," ujar Lukman dengan mata berkaca-kaca. Lisna pun gak terima jika mereka harus balikan lagi.
"Waduh, gawat nih kalau begini caranya? Mereka bisa balikan lagi. Aku gak bisa tinggal diam," batin Lisna sambil bergegas menghampiri mereka.
"Mas Lukman, tolong buka mata hati kamu. Walau pun dia hamil, tapi belum tentu itu anak kamu," ujar Lisna ketus. Ibu Lukman tiba-tiba keluar.
"Ada apa ini ribut-ribut di luar?" tanya ibu Lukman sambil mendengus kesal.
"Ini Tante, katanya Widia hamil," sahut Lisna lantang.
"Mah, sebentar lagi bakal jadi seorang Nenek. Pasti Mamah senang 'kan?" ujar Lukman lirih sambil memegang erat tangan ibunya.
"Apa? Widia hamil. Yakin itu anakmu, Lukman? Bisa aja itu anak laki-laki lain. Namanya juga PSK," ujar ibu Lukman membuat Widia tercengang. Hatinya terasa di tusuk sembilu.
Widia pun bergegas pergi sambil menangis terisak-isak. Mita gak mau terlalu ikut campur urusan mereka. Ia pun bergegas mengejar Widia.
"Widia, tunggu!" teriak Mita sambil melambaikan tangannya.
"Widia, tunggu! Mamah, kok ngomongnya gitu sih? Lukman yakin itu anak kandungku. Cucu Mamah," ujar Lukman lirih sambil hendak mengejar Widia. Namun, ibunya menarik tangannya.
"Lukman, kamu gak usah kejar dia!Jangan bodoh ya jadi laki-laki. Kamu tahu sendiri 'kan bagaimana kerjanya seorang PSK," sahut ibu Lukman lantang.
"Sudahlah, gak usah di bahas Tante. Mungkin pelet Widia belum hilang mempengaruhi Lukman. Ada hal lain yang harus Tante tahu," imbuh Lisna sambil menunjukkan rekaman audio mirip suara Widia.
"Astaghfirullah, benar-benar kelewatan banget tuh orang. Sudahlah Lukman, lupakan saja perempuan laknat itu. Mamah mau kamu segera menikah dengan Lisna," ujar ibu Lukman sambil menepuk pundak anaknya. Namun, Lukman masih terlihat dilema.
"Aku harus lakukan sesuatu untuk membuat Lukman supaya segera menikahi aku," batin Lisna sambil memijat-mijat kepalanya.
Ia pun gak tinggal diam. Ia menyuruh orang untuk berpura-pura menjadi simpanan Widia.
***
Sekitar jam tujuh pagi, saat Lukman sedang sarapan bareng ibunya, tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi.
"Ada orang datang. Mamah ada janji bertemu orang gak?" ujar Lukman lirih.
__ADS_1
"Gak ada. Siapa ya?" sahut ibu Lukman sambil bergegas membuka pintu rumahnya.
Ternyata yang datang seorang laki-laki seumuran Lukman. Badan tinggi dan rambut pirang.
"Cari siapa ya?" tanya ibu Lukman lantang.
"Saya cari Widia," sahutnya lantang juga.
"Kamu siapanya?"
"Saya pacarnya."
"Hah, pacar! Kamu serius?"
"Siapa, Mah?" tanya Lukman dari dalam rumah.
"Ada laki-laki yang cari Widia."
Lukman pun bergegas keluar dan menghampiri laki-laki itu. "Oh, ini yang namanya Lukman suaminya Widia," batin Laki-laki itu.
"Kamu cari istri saya mau apa? Kamu siapanya?" tanya Lukman sambil menatap tajam mata laki-laki itu.
"Saya pacarnya Widia. Kamu siapanya? Widia ada gak?" sahut laki-laki itu lantang.
"Sabar, Mas. Saya punya bukti kuat bahwa saya sudah lama pacaran dengan Widia. Kamu lihat ini," tutur laki-laki itu sambil memberikan handphonenya.
Lukman pun melihat photo-photo di handphone laki-laki itu. Betapa terkejutnya saat semua galeri di handphone itu photo-photo mesra laki-laki itu bersama Widia.
"Astaghfirullah, apa benar Widia sejahat itu padaku? Dari file-file di galeri handphone laki-laki ini, tanggalnya sudah lama sebelum menikah denganku," batin Lukman sambil mengepalkan tangannya.
"Bagaimana, apakah kamu masih belum percaya padaku? Sepertinya saya cuma di jadikan simpanan oleh Widia. Sudah lama pacaran sama dia, tapi saat di ajak nikah gak pernah mau. Mungkin karena sudah menikah denganmu. Tapi, saya gak peduli. Yang penting saya sudah dapat semuanya dari Widia. Termasuk jatah uang bulanan. Enggak tahu uangnya dari mana?" tutur laki-laki itu membuat Lukman tersulut emosi.
"Pergi kamu dari sini atau saya habisin!" gertak Lukman sambil mendorong tubuh laki-laki itu hingga tersungkur.
"Lukman, kamu dengar sendiri 'kan. Widia itu perempuan gak benar. Sudah menikah denganmu juga masih punya pacar. Malah dia kasih duit juga. Bisa aja dari hasil jadi PSK atau dari uang pemberianmu," ujar ibu Lukman lantang.
Laki-laki itu pun bergegas bangun dan bergegas pergi meninggalkan mereka. Dia sangat merasa puas telah membuat Lukman percaya dengan kebusukan Widia yang di rekayasanya.
"Sudahlah, Lukman mau istirahat dulu, Mah," ujar Lukman sambil bergegas pergi meninggalkan ibunya.
***
__ADS_1
Sorenya, Lisna pun menghasut Lukman setelah ibunya menceritakan kejadian tadi pagi.
"Aku sudah dengar semuanya Lukman. Aku turut prihatin. Kamu yang sabar ya. Kalau begitu kejadiannya, berarti bisa di pastikan anak itu bukan anakmu," ujar Lisna lirih.
"Sudahlah, kamu gak usah bahas itu lagi. Apakah kamu serius mau menikah denganku?" ujar Lukman sambil memegang erat tangan Lisna. Lisna pun tercengang sambil mengembangkan senyumnya.
"Aku serius, tapi aku mau kamu segera ceraikan Widia terlebih dahulu. Aku gak mau di madu. Aku mau kamu jadi milikku satu-satunya," sahut Lisna dengan mata berkaca-kaca.
Lukman pun bergegas menelepon Widia. Ternyata Widia sedang bersama Mita duduk di depan kontrakannya.
"Hallo? Iya, ada apa, Sayang?" tanya Widia lirih.
"Widia, sedang di mana kamu? Bersama siapa?" tanya Lukman lantang.
"Aku di kontrakan bersama Kak Mita. Masih di Jakarta."
"Bagus, cepat loud speaker teleponku sekarang! Aku juga bakal loud speaker teleponku. Biar ada orang yang jadi saksi."
"Maksud kamu apa, Mas? Saksi apa?"
"Gak usah banyak tanya. Cepat lakukan saja perintahku!"
Akhirnya, Widia pun menekan tombol loud speakernya. "Sudah, terus apa lagi yang harus aku lakukan, Sayang?" ujar Widia tetap lirih.
Entah kenapa perasaannya tiba-tiba gak enak. Mita cuma jadi pendengar yang baik.
"Mulai sekarang kamu gak usah panggil aku Sayang lagi. Di sampingku ada ibuku dan Lisna. Selama ini aku sangat percaya sama kamu. Tapi, rupanya kepercayaanku telah kamu salah gunakan," ujar Lukman ketus.
"Lukman, gak usah bertele-tele. Langsung saja," gertak ibu Lukman.
"Maksudnya bagaimana, Mas?" tanya Widia penasaran.
"Baiklah, dengarkan aku baik-baik Widia, mulai hari ini aku talak kamu dengan talak tiga," ujar Lukman lantang.
"Apa.....?" sahut Widia yang tiba-tiba tak sadarkan diri.
Handphonenya pun terjatuh. "Widia, kamu kenapa?" teriak Mita membuat Lukman tercengang.
Sementara ibu Lukman dan Lisna saling mengedipkan mata dan mengacungkan ibu jarinya.
"Widia, bangun! Waduh, kasihan banget sih kamu. Sepertinya suamimu sudah di guna-guna sama pelakor itu," gumam Mita sambil bergegas membopong tubuh Widia ke kamarnya.
__ADS_1
"Astaghfirullah, apa yang sudah aku lakukan? Maafkan aku Ya Allah. Maafkan aku Widia. semoga kamu baik-baik aja di sana," batin Lukman sambil meneteskan air matanya.