Terjerat Pernikahan Dengan Wanita Malam

Terjerat Pernikahan Dengan Wanita Malam
Bab 17. Hilang


__ADS_3

Setengah jam kemudian, Mamih Clarisa pun berhenti di depan rumah Widia.


"Tunggu, sepertinya ini rumahnya Widia. Sebentar saya cek dulu," ujar Mamih Clarisa sambil mengeluarkan secarik kertas berisi alamat rumah Widia.


"Bagaimana cocok, Bos?" tanya Robert lantang.


"Cocok. Ya sudah, kamu diam-diam masuk ke rumah dia lewat belakang. Tapi, hati-hati jangan sampai ada orang yang tahu."


Akhirnya, Robert pun diam-diam menyelinap masuk ke rumah Widia lewat belakang. Kebetulan suasana lingkungan sekitar sedang sepi. Sementara Mamih Clarisa berpura-pura sedang mencari barang bekas sambil mengawasi keadaan sekitar.


"Widia, udah belum sih masaknya? Suamimu udah kelaparan nih," celoteh ibu Widia.


"Bentar lagi, Mah," sahut Widia lantang sambil mengaduk-aduk masakannya.


Tanpa Widia sadari, tiba-tiba Robert masuk dengan leluasa ke dalam dapur. Kebetulan pintunya tidak di tutup. Dengan menggunakan penutup muka, Robert bergegas mengeluarkan sebuah sapu tangan yang sudah di beri obat bius.


Dengan gesit, tangan Robert pun bergegas membekap mulut Widia hingga tak sadarkan diri. Kemudian ia pun bergegas membawanya ke luar ke arah Mamih Clarisa berada.


"Bos, saya berhasil," ujar Robert setengah berbisik.


"Bagus, ayo cepat bawa ke dalam gerobak mumpung lagi kosong!" instruksi Mamih Clarisa.


Akhirnya, Widia pun di angkat ke dalam gerobak itu dan mereka bergegas pergi meninggalkan rumah itu.


Sementara ibu Widia masih asyik ngobrol dengan Lukman. "Nanti Ibu juga mau silaturahmi dengan orang tuamu, Nak. Mudah-mudahan mereka mau merestui hubungan kalian lagi," ujar ibu Widia lirih.


"Mudah-mudahan aja, Bu. Lukman juga bingung bagaimana caranya supaya mereka bisa menerima keadaan Widia?" sahut Lukman sambil menghela nafas panjangnya.


"Lho, kok bau gosong sih. Widia, kamu bisa masak gak sih? Kok bau gosong," ujar ibu Widia lantang.


Namun, gak ada jawaban. "Sayang, apakah kamu sedang masak atau sedang tidur sih?" celoteh Lukman.


Namun, tetap gak ada jawaban. Akhirnya, mereka pun saling menatap heran.


"Kok saya jadi gak enak hati, Bu. Saya samperin Widia dulu ya."


"Sama, Ibu juga gak enak hati. Mau samperin Widia juga."


Akhirnya, mereka pun bergegas menuju ke dapur. Betapa terkejutnya saat melihat masakan sudah gosong dan tidak ada Widia di sana.


"Astaghfirullah, kok gosong masakannya. Widia, kamu di mana sih?" teriak ibunya Widia panik sambil mematikan kompornya.

__ADS_1


"Apa dia di kamar mandi ya?" ujar Lukman sambil bergegas mengecek ke kamar mandi.


Namun, tidak di temukan Widia di sana. Lukman pun semakin panik. "Kok gak ada ya, Bu. Widia, di mana kamu? Jangan bercanda ya," teriak Lukman sambil mengecek ke halaman belakang.


Tetap gak di temukan keberadaan Widia. "Biar Ibu cek ke rumah tetangga ya," ujar ibu Widia sambil bergegas pergi menuju ke rumah tetangganya.


"Assalamualaikum, Bu Parmi. Apakah ada Widia main ke tempat Ibu?"


"Waalaikumsalam, gak ada, Jeng. Emangnya kenapa?"


"Widia hilang dari rumah. Padahal dia lagi masak. Sampai gosong masakannya."


"Astaghfirullah, sebentar biar saya cari di rumah Tia. Biasa kan mereka karaokean bareng."


***


Beberapa menit kemudian, Bu Parmi pun kembali menghampiri ibu Widia. "Gak ada, Jeng. Ayo, kita cari di rumah tetangga yang lain. Biar saya temani."


Akhirnya, mereka pun bergegas mencari keberadaan Widia di rumah tetangga-tetangga yang lain. Namun, gak kunjung di temukan.


"Astaghfirullah, Widia. Kamu di mana sih? Bikin khawatir aja," ujar ibu Widia sambil meneteskan air matanya.


"Udah di telepon belum atau lapor Polisi aja," usul Bu Parmi.


"Ya sudah, Lukman coba telepon Widia," ujar Lukman sambil mengeluarkan benda pipih miliknya.


Lukman pun berusaha menghubungi nomor Widia. Namun, ternyata handphone Widia berdering dan terletak di dekat televisi.


"Astaghfirullah, handphonenya gak di bawa, Bu."


"Ya Allah, kamu di mana, Nak?"


Akhirnya, mereka pun bergegas pergi menuju ke kantor Polisi. "Terima kasih atas laporan kalian. Kami akan segera memproses dan akan segera mencari keberadaan Widia setelah dua puluh empat jam," ujar salah satu anggota Polisi.


"Astaghfirullah, Bapak Polisi yang terhormat. Kenapa harus nunggu nanti sih? Bagaimana kalau istri saya ada yang menculik terus ada yang mau membunuh, Pak? Apakah Bapak mau bertanggung jawab?" gertak Lukman sambil menggebrak meja.


"Maaf, Anda jangan buat onar di sini! Bersikaplah yang sopan di sini. Ini sudah jadi prosedurnya. Kami hanya akan memproses laporan apapun setelah dua puluh empat jam," sahut salah satu anggota Polisi lantang.


"Aargh! Gak ada gunanya laporan ke sini!" teriak Lukman sambil bergegas pergi meninggalkan kantor Polisi.


"Lukman, tunggu! Pak, maafkan kelakuan menantu saya ya. Maklum pengantin baru. Permisi," ujar ibu Widia sambil bergegas pergi meninggalkan kantor Polisi itu.

__ADS_1


Sementara Mamih Clarisa dan Robert sedang minum-minuman keras bareng di gubuknya.


"Hahahaha, akhirnya kita bisa menculik Widia juga. Tapi, dia gak sadar-sadar juga ya. Jangan-jangan dia mati lagi. Coba Lo cek deh," ujar Mamih Clarisa.


Akhirnya, Robert pun menepuk-nepuk pundak Widia yang kedua tangan dan kakinya di ikat di sebuah kursi.


"Bangun, Lo! Kerja lagi sono!" ujar Robert.


Akhirnya, Widia pun tersadar. Ia pun mengucek kedua bola matanya. Betapa terkejutnya saat dia tahu keberadaannya.


"Di mana saya? Kalian bawa ke mana saya? Lepasin!" teriak Widia sambil berusaha memberontak ingin lepas.


"Ssst, jangan berisik! Nih minum dulu," gertak Robert sambil memberikan segelas minuman ke mulut Widia.


"Gak mau. Cuih!" teriak Widia sambil menyemburkan minumannya ke muka Robert.


"Kurang ajar!" gertak Robert sambil mengepalkan tangannya.


"Sudahlah, kalau dia gak mau minum gak usah di paksa. Mau mati juga biarin aja," ujar Mamih Clarisa sambil kembali meneguk minumannya.


"Lepasin saya! Mau apa lagi sih kalian menyekap saya?" teriak Widia.


"Sudah, gak usah berisik. Beristirahatlah, nanti besok kamu mulai kerja lagi. Layani para laki-laki hidung belang lagi," ujar Robert sambil mencubit gemas pipi Widia.


"Gak sudi, cuih!" gertak Widia sambil melontarkan ludah ke muka Robert.


Robert pun naik pitam dan terpaksa menggampar muka manis Widia.


Plak! Plak!


"Kurang ajar ya. Bisa bersikap lebih sopan lagi gak sih? Berani-beraninya meludahi saya," gertak Robert sambil mendengus kesal.


Sementara Widia cuma bisa meneteskan air matanya. Mamih Clarisa pun menghampiri Widia.


"Ini akibatnya jika berani bermain-main dengan saya. Gara-gara pacar Lo, tempat gue di grebek. Sekarang kita jadi gelandangan. Jadi, Lo harus mau bekerja lagi jadi PSK untuk kita. Kalau enggak, gue bunuh Lo dan semua keluarga Lo," ujar Mamih Clarisa lantang sambil menjambak rambut Widia.


"Aw, lepasin saya! Saya gak sudi jika harus jadi PSK lagi. Anda aja yang jadi PSK sendiri," teriak Widia.


Mamih Clarisa pun naik pitam dan menggampar muka Widia hingga tak sadarkan diri.


"Waduh, dia pingsan lagi, Bos," ujar Robert panik.

__ADS_1


Mamih Clarisa pun ikut panik. Ia pun meletakkan ujung jari-jari tangannya di lubang hidung Widia.


__ADS_2