Terjerat Pernikahan Dengan Wanita Malam

Terjerat Pernikahan Dengan Wanita Malam
Episode 18.Takut


__ADS_3

***


Saat Widia tersadar kembali, ternyata dia sudah berada di sebuah rumah kontrakan.


"Di mana aku? Robert, untuk apa aku di bawa ke sini?" teriak Widia.


Robert yang sedang asyik ngopi pun tercengang melihat Widia sudah kembali sadar.


"Wey, udah sadar Lo. Gue pikir mati Lo," ujar Robert sambil tersenyum lebar.


"Gak usah banyak bicara kamu. Lepaskan saya!" gertak Widia sambil terus memberontak mau lepas.


Tiba-tiba terlihat Mamih Clarisa datang bersama seorang laki-laki paruh baya bertubuh gemuk.


"Silahkan masuk! Ini dia wanita yang siap melayani kamu sepuasnya. Widia, mulai hari ini kamu harus mulai bekerja lagi untuk kami. Kalau enggak, kamu tahu sendiri akibatnya," ujar Mamih Clarisa sambil menarik tangan Robert keluar dari ruangan itu.


Tak lupa pintunya pun mereka kunci. Widia pun semakin gak enak hati saat laki-laki yang sudah paruh baya itu langsung membuka baju.


"Mau apa kamu?!" gertak Widia.


"Ssst, ini sangat menantang bagi saya. Pakai di ikat segala sih. Ya sudah, kamu pasrah saja. Nikmati aja permainan yang akan saya berikan," ujar laki-laki itu sambil bergegas hendak mencium bibir manis Widia.


Namun, Widia refleks meludahi muka laki-laki itu. "Cuih, dasar aki-aki gak tahu diri!" gertak Widia.


Laki-laki itu pun naik pitam dan hendak menggampar muka Widia. "Ayo, gampar aja! Kalau perlu bunuh aja sekalian," teriak Widia sambil meneteskan air matanya.


"Kamu sudah saya bayar mahal. Jadi, gak usah macam-macam ya!" gertak laki-laki itu dengan mata melotot.


"Gak sudi jika harus melayani aki-aki kaya kamu. Pergi!" teriak Widia.


Laki-laki itu pun menghela nafas beratnya dan mengeluarkannya dengan berat. Tanpa banyak kata, ia pun membuka celananya dan nyaris mengeluarkan benda pusaka miliknya. Namun, Widia refleks menendang laki-laki itu hingga tersungkur.


"Aw, kurang ajar!"


Ternyata dari tadi Widia diam-diam sudah berhasil membuka ikatan di tangan dan kakinya. Gak sampai di situ, ia pun membanting kursi tempat dirinya di sekap ke punggung laki-laki itu hingga tak sadarkan diri.


"Aw!"


Bruk!


"Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah atas pertolonganmu. Hamba benar-benar gak mau terjerumus yang ke sekian kalinya. Lindungi hambamu yang lemah ini Ya Allah," gumam Widia dengan mata berkaca-kaca.


Ia pun pelan-pelan menyelinap mengecek arah keluar dari tempat itu. " Aku harus bisa kabur dari sini. Aku gak mau jadi PSK lagi," gumam Widia.

__ADS_1


Setelah di rasa aman, dengan leluasa Widia pun bergegas hendak pergi dari rumah itu. Namun, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita berteriak "Silahkan kalau mau pergi! Tapi, begitu sampai ke rumah, kau gak akan bisa bertemu siapa pun. Semua orang yang kau sayang akan kami lenyapkan."


Widia pun tercengang dan bergegas membalikkan badannya. Ternyata Mamih Clarisa yang berteriak.


"Mau apa lagi sih kamu?! Sudahlah, gak usah ganggu saya lagi. Jangan paksa saya untuk kembali terjerumus ke dalam lubang yang sama," sahut Widia dengan mata berkaca-kaca.


"Ya sudah, saya gak bisa memaksa kamu. Tapi, kamu dengar baik-baik ini," ujar Mamih Clarisa sambil mengeluarkan benda pipih miliknya.


"Tolong Mamah Widia, mereka mau bunuh Mamah. Sudah, kamu turuti aja apa pun kemauan mereka. Gak usah perdulikan Mamah," ujar suara seorang Ibu-ibu di telepon Mamih Clarisa.


"Mamah, gak usah macam-macam kamu. Apa yang mau kamu lakukan sama Mamah saya?" teriak Widia sambil bergegas mengambil handphone Mamih Clarisa.


"Eh, diam kamu di situ! Kalau kamu mau ibumu selamat, tinggal masuk aja ke rumah dan layani laki-laki tadi. Dia sudah bayar mahal kamu."


"Gak sudi. Mending kamu bunuh saya aja!"


"Ya sudah, itu terserah kamu kalau memang sudah gak sayang lagi pada ibumu. Saya tinggal telepon orang saya untuk bunuh ibu kamu. Hallo Jack, kamu bunuh aja ibu Widia!"


"Siap, Bos!"


"Aw, lepasin! Widia, tolong Mamah!"


"Mamah, lepaskan Mamah saya! Baik, saya akan lakukan perintahmu. Tapi, jangan celakakan Mamah saya."


"Siap, Bos!"


Widia pun bergegas masuk kembali ke kontrakan tadi. Sementara Mamih Clarisa tersenyum licik.


"Dasar bodoh, orang ini cuma rekaman. Hahahaha."


Akhirnya, Widia pun terpaksa melayani laki-laki hidung belang tadi. Air matanya tak berhenti menetes karena rasa bersalahnya pada Lukman yang telah dia khianati. Namun, di sisi lain ia takut ibunya celaka jika ia tidak menuruti kemauan Mamih Clarisa.


Widia sudah cukup tahu karakter Mamih Clarisa yang kejam jika kemauannya tidak di turuti.


"Hahahaha, emang bodoh ya Bos Widia itu. Tapi, kita harus rekrut orang baru. Gak bisa jika cuma mengandalkan satu orang untuk buat kita kaya," ujar Robert sambil menghisap rokok.


"Kamu betul. Kita harus rekrut orang baru. Bagaimana caranya ya? Apakah kamu punya ide?"


Robert pun berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Mamih Clarisa.


"Iya, saya punya ide, Bos. Kita buat brosur lowongan kerja aja."


"Lowongan kerja sebagai apa?"

__ADS_1


"SPG rokok."


"Ide bagus. Gak sia-sia saya punya bawahan kaya kamu. Bisa di andalkan."


Akhirnya, mereka pun pergi ke percetakan untuk buat brosur. Setengah jam kemudian, mereka pun segera menyebarkan brosur itu.


"Wah, ini benaran lowongannya. Gede banget gajinya," tanya seorang wanita cantik bertubuh gemuk.


"Iya benar. Ayo, langsung buat lamaran biar langsung saya bawa ke HRD!" ujar Mamih Clarisa sambil tersenyum lebar.


"Ini bukan penipuan kan, Bu?" tanya temannya yang bertubuh langsing.


"Ya kalau kamu ragu gak usah," sahut Robert lantang.


Akhirnya, mereka pun dapat orang baru tiga orang. Begitu mereka sudah dapat restu dari orang tua mereka, Mamih Clarisa dan Robert pun langsung membawa mereka ke kontrakan.


"Widia, ini saya bawakan teman-teman untuk kamu. Tolong ajari mereka!" ujar Mamih Clarisa sambil bergegas pergi meninggalkan mereka.


"Hey Mbak, saya Chika," ujar seorang wanita bertubuh langsing sambil mengulurkan tangannya.


"Saya Widia. Kamu yakin mau kerja di sini?" tanya Widia dengan mata berkaca-kaca.


"Ya dari pada nganggur, Mbak. Tolong ajari saya ya supaya jadi SPG yang pintar kaya Mbak!" sahut Chika.


"Saya Mila. Ini Rosa teman saya," ujar seorang wanita bertubuh gemuk sambil mengulurkan tangannya juga.


"Astaghfirullah, kalian ini sudah di tipu Ibu-ibu tua tadi. Sebenarnya kalian bukan di rekrut untuk jadi SPG," ujar Widia sambil meneteskan air matanya.


"Terus jadi apa, Mbak?" tanya Rosa sambil menatap tajam mata Widia.


"Sebaiknya kalian pulang aja. Cukup saya aja yang di sini," ujar Widia sambil membukakan pintu rumah itu.


"Silahkan kalian pulang! Jangan habiskan masa muda kalian di tempat laknat ini," ujar Widia membuat semua orang tercengang.


Tiba-tiba Mamih Clarisa dan Robert datang. "Ada apa ini? Widia, apa yang mau kamu lakukan?" gertak Mamih Clarisa.


"Bos, cukup saya yang jadi korban. Gak usah cari korban lain. Kasihan mereka. Biarkan mereka pulang aja," ujar Widia lantang.


"Oh, tidak bisa. Sekali sudah masuk sarang macan, gak akan bisa keluar lagi," sahut Mamih Clarisa lantang.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki beberapa orang. Ternyata ada empat orang pemuda berpenampilan anak pang. Ada yang bertindik di telinga, ada yang di hidung. Tangan mereka penuh dengan tato.


Widia dan teman-temannya pun terperanjat melihat kedatangan mereka.

__ADS_1


__ADS_2