Terjerat Pernikahan Dengan Wanita Malam

Terjerat Pernikahan Dengan Wanita Malam
Bab 14. Dendam membara


__ADS_3

"Apa maksud Anda uang lima milyar gak bisa membebaskan Widia dari sini?" ujar Lukman lantang.


"Kamu harus bayar denda sepuluh milyar, baru kamu bisa bebas bawa Widia dari sini," sahut Mamih Clarisa sambil tersenyum licik.


"Perjanjian macam apa ini? Jelas-jelas Widia sendiri bilang, di kontrak itu jika dia keluar sebelum habis kontrak, maka harus bayar denda lima milyar," imbuh Lukman mulai naik pitam.


"Widia keluarnya tidak secara baik-baik. Dia melarikan diri," imbuh Mamih Clarisa ketus.


"Melarikan diri bagaimana? Anda pikir saya tidak tahu. Ayah Widia meninggal. Jadi, dia pulang kampung dengan di dampingi orang-orang suruhan Anda kan," gertak Lukman.


"Sudah, gak usah bertele-tele. Kamu mau bayar sepuluh milyar gak?"


"Gak mau. Ya sudah, saya ambil lagi uang ini kalau cara Anda seperti ini."


Lukman pun bergegas mengambil kembali kover berisi uang lima milyar itu. Kemudian ia keluar dari ruangan Mamih Clarisa. Ternyata di depan pintu sudah ada Robert dan kedua temannya yang berjaga.


"Robert, urus anak ingusan itu!" teriak Mamih Clarisa.


"Kembalikan kover itu!" gertak Robert.


"Untuk apa? Bosmu aja gak mau," sahut Lukman lantang.


"Anggap saja itu dp. Sisanya bisa kamu cicil," imbuh Mamih Clarisa lantang.


"Gak sudi. Kalau mau segini urusan kita selesai dan Widia sudah gak ada urusan lagi di sini. Kalau gak mau ya sudah, saya bawa lagi kover ini. Permisi!" pungkas Lukman sambil bergegas hendak pergi.


Namun, tiba-tiba punggung Lukman di pukul Robert hingga nyengir kuda. "Aw, kurang ajar!" teriak Lukman sambil membalikkan badannya.


"Ya sudah, urus dia!" ujar Mamih Clarisa sambil bergegas pergi menuju ke ruangannya lagi.


Tubuh Lukman pun di kelilingi oleh mereka bertiga. Lukman pun memasang kuda-kuda.Akhirnya, terjadilah pertarungan sengit antara Lukman dan Robert di bantu kedua temannya.


Awalnya Lukman berhasil menghindari serangan-serangan mereka dengan bersenjata kovernya. Muka mereka di pukul pakai kover itu hingga uangnya berhamburan.


"Kurang ajar! Berani-beraninya kamu masuk sarang macan. Gak akan bisa kamu keluar dari sini," gertak Robert sambil mengepalkan tangannya.


Tiba-tiba salah satu teman Robert refleks memiting leher Lukman. Robert pun dengan sigap meninju perut Lukman hingga tersungkur.


"Aw, kurang ajar!" gertak Lukman sambil nyengir kuda.


Saat Lukman mau bangun, tiba-tiba perutnya di injak oleh salah satu teman Robert yang lain hingga tak sadarkan diri.


"Waduh, dia mati gak?" teriak Robert sambil meletakkan ujung jari-jari tangannya ke lubang hidung Lukman.

__ADS_1


"Bagaimana Robert anak ingusan itu?" tanya Mamih Clarisa yang tiba-tiba keluar.


"Dia pingsan, Bos," sahut Robert gugup.


"Bodoh kalian! Saya gak mau kita kena masalah besar. Bawa dia keluar dari sini! Buang ke jurang jika perlu. Sini uangnya!" gertak Mamih Clarisa sambil mengambil kover itu.


Akhirnya, Lukman pun di bawa ke tepi jurang di pelosok ibukota. Mereka celingak-celinguk terlebih dahulu melihat keadaan sekitar.


"Aman, ayo kita buang dia ke jurang!" ujar Robert.


Kedua tangan Lukman pun di pegang oleh Robert. Sementara kedua kakinya di pegang oleh teman Robert. Tubuh Lukman pun di angkat setinggi lutut orang dewasa.


"Dalam hitungan tiga, kita lempar dia ke jurang ini. Satu..dua..."


Saat tubuh Lukman hendak di lemparkan ke jurang, tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki paruh baya berteriak" Wey, mau ngapain kalian?"


Spontan Robert dan temannya pun bergidik ngeri melihat beberapa orang warga yang datang menghampiri mereka.


"Ayo, kita kabur!" ujar Robert sambil meletakkan tubuh Lukman di tanah.


Akhirnya, Robert dan kedua temannya pun bergegas berlari meninggalkan mereka.


"Wey, jangan kabur kalian!" gertak seorang warga.


Akhirnya, Robert dan kedua temannya pun di kejar oleh beberapa orang warga. Namun, sayang mereka berhasil lolos karena keburu naik motor bonceng tiga.


"Waduh, mereka lolos. Gimana ini?" ujar seorang pemuda.


"Ya sudah, percuma kita kejar mereka. Kita gak ada yang bawa motor," sahut temannya.


Akhirnya, Lukman pun di bawa ke rumah sakit. Sementara Mamih Clarisa marah besar pada Robert dan kedua temannya saat tahu rencananya gagal.


"Apa?! Anak ingusan itu lolos. Bodoh kalian! Saya gak mau tahu, tangkap dia dan lempar ke jurang itu. Posisi kita dalam bahaya kalau begini," gertak Mamih Clarisa.


"Cari ke mana, Bos?" tanya temannya Robert.


"Untuk apa saya bayar kalian, kalau saya masih harus turun tangan?" sahut Mamih Clarisa sambil mendengus kesal.


Robert dan kedua temannya pun saling menatap. Sementara Lukman akhirnya siuman setelah tak sadarkan diri selama satu jam.


"Di mana aku? Aw, kepalaku sakit sekali," gumam Lukman sambil memijat-mijat kepalanya sendiri.


Tiba-tiba datang seorang perawat cantik menyapanya. "Akhirnya, Tuan siuman juga. Apa yang Tuan rasakan sekarang?" tanya perawat cantik itu.

__ADS_1


Selang setengah jam, Lukman pun mengambil benda pipih miliknya untuk menelepon Widia. Namun, nomornya gak kunjung aktif.


"Aduh, Widia ke mana sih? Kok nomornya gak aktif-aktif. Mending aku langsung telepon Polisi aja deh. Supaya tempat mereka di gerebek," gumam Lukman sambil tersenyum lebar.


Akhirnya, selang setengah jam setelah Lukman telepon Polisi. Tempat prostitusi pimpinan Mamih Clarisa pun di grebek.


"Angkat tangan kalian!" gertak seorang anggota Polisi sambil menodongkan pistolnya.


Spontan Robert dan kedua temannya yang sedang asyik bermain ludo online pun bergidik ngeri. Mereka pun beranjak dari tempat duduknya dan mengangkat kedua tangannya.


"Ayo, borgol mereka semua!" instruksi seorang komandan Polisi.


Sebelum tangan mereka di borgol, Robert bergegas mendorong tubuh anggota Polisi itu hingga tersungkur. Kemudian, ia pun bergegas melarikan diri.


"Kurang ajar! Kejar dia jangan sampai lolos!" instruksi seorang komandan Polisi.


Sementara kedua temannya Robert yang ikut-ikutan mau berlari keburu di tembak kedua kakinya hingga tersungkur.


"Aw!"


Bruk


"Ayo, borgol mereka!"


Akhirnya, kedua temannya Robert berhasil di borgol. Sementara Mamih Clarisa yang selalu standby di ruangannya dengan memantau keadaan sekitar lewat Cctv di ruangannya, bergegas pergi dari tempat itu. Begitu pun dengan Mita sebagai leader para PSK di sana. Sementara para PSK yang lain berhasil di amankan.


"Sepertinya kita kehilangan jejak pemimpin para PSK ini, Komandan," ujar seorang anggota Polisi.


"Ya sudah, kita bawa saja mereka ke kantor. Tempat ini kita segel," sahut seorang komandan Polisi.


***


Dua puluh menit kemudian, Mamih Clarisa pun berpapasan dengan Robert.


"Bos, rupanya lolos juga. Kurang ajar. Siapa yang sudah melaporkan tempat kita pada Polisi?" ujar Robert dengan nafas terengah-engah.


"Pasti ini ulah anak ingusan itu. Apa saya bilang, akibat kebodohan kalian semuanya jadi kacau seperti ini?" gertak Mamih Clarisa sambil mendengus kesal.


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Sepertinya semuanya telah tertangkap. Tinggal kita berdua, Bos."


"Kita harus balas dendam pada anak ingusan itu. Kita juga harus bikin perhitungan dengan Widia. Semua ini terjadi bermula dari dia."


Akhirnya, mereka pun berunding untuk menyusun strategi demi membalas dendam pada Lukman dan Widia. Entah rencana buruk apa yang sedang mereka rencanakan?

__ADS_1


__ADS_2