
Ternyata Mita telah menipu Mamih Clarisa. Dia mengajak Widia untuk kembali kabur.
"Widia, tutup poin aja ya. Sebenarnya aku masuk ke sini cuma berpura-pura. Bukan berarti aku benar mau kerja lagi di sini. Sebelum ke sini aku sempat mampir ke rumah orang tua kamu untuk mencarimu. Namun, mereka bilang kamu hilang. Rupanya kamu tinggal bersama suamimu ya sekarang. Mereka sangat mengkhawatirkan kamu. Ayo, kita kabur bareng dari sini!" ujar Mita membuat Widia tercengang.
"Kabur dari sini. Kalau aku niat bisa aja aku udah kabur dari kemarin-kemarin. Aku takut mereka akan mencelakakan ibuku dan suamiku. Terus kita juga akan celaka. Tahu sendiri Mamih Clarisa orang yang kejam," sahut Widia dengan mata berkaca-kaca. Mita pun menepuk pundak Widia.
"Gak usah takut, ayo buruan kita pergi! Diam-diam aku sudah laporkan mereka pada Polisi. Mereka sudah mengepung tempat ini," ujar Mita sambil menarik tangan Widia.
"Kamu serius?" tanya Widia antusias.
Tiba-tiba terdengar suara pintu di dobrak. "Angkat tangan kalian!" gertak seorang anggota Polisi sambil menodongkan pistolnya.
Mamih Clarisa dan Robert yang sedang selonjoran pun tak bisa berkutik saat melihat beberapa orang Polisi bersenjata datang.
"Ayo, ringkus mereka!" instruksi seorang anggota Polisi.
Salah satu anggota Polisi pun bergegas memborgol tangan Mamih Clarisa. Namun, saat tangan Robert mau di borgol, ia malah menendang perut Polisi itu hingga tersungkur.
"Aw, kurang ajar!" teriak Polisi itu.
Robert pun bergegas berlari. Polisi itu pun bergegas mengejarnya. "Jangan kabur kau!" teriak Polisi itu.
Namun, gerakan Robert begitu lincah. Polisi yang mengejarnya pun sampai kehilangan jejak.
"Kurang ajar! Lari ke mana bajingan itu?" gumam Polisi itu sambil mendengus kesal.
Ke tiga teman baru Widia pun tertangkap. Padahal mereka cuma korban.
"Kita gak bersalah, Pak. Kita sudah di tipu sama dia," ujar salah satu teman Widia sambil menunjuk ke arah Mamih Clarisa.
"Sudah, nanti kamu bisa jelaskan di kantor Polisi," sahut seorang anggota Polisi.
"Aku gak lihat Widia sama Mita. Jangan-jangan semua ini ulah mereka. Awas aja kalian. Gue akan balas semua perbuatan kalian," batin Mamih Clarisa sambil menghela nafas beratnya dan mengeluarkannya dengan berat.
Akhirnya, Widia pun pulang ke rumah di temani Mita. Ibu Widia menyambutnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, akhirnya kamu pulang juga, Nak. Terima kasih atas bantuannya, Nak Mita," ujar ibu Widia sambil memeluk erat tubuh anaknya.
"Ibu baik-baik aja 'kan," ujar Widia lirih.
"Ibu baik. Kamu ke mana kemarin? Kok tiba-tiba hilang saat lagi masak," tanya ibu Widia sambil menatap tajam mata anaknya.
Widia pun menceritakan semua kejadian yang telah terjadi sedetail mungkin.
"Mamih Clarisa. Dia lagi-dia lagi biang keroknya. Dia memang pantas di hukum seberat-beratnya," ujar ibu Widia sambil mendengus kesal.
"Tante gak usah khawatir. Mamih Clarisa dan antek-anteknya sudah tertangkap oleh Polisi," imbuh Mita lantang.
"Bagus, mereka memang pantas di hukum seberat-beratnya," ujar ibu Widia sambil mengepalkan tangannya.
Widia celingak-celinguk melihat keadaan sekitar rumahnya, sampai ke kolam renang depan rumah tempat biasa mereka ngobrol berdua di saat santai. Saat tahu Lukman gak ada, Widia heran. Ia pun telepon Lukman, tapi di angkat oleh Lisna.
"Hallo?" tanya Lisna.
"Siapa kamu? Berani-beraninya pegang handphone suami saya. Ke mana dia?" gertak Widia.
"Oh, pasti kamu istrinya yang PSK itu ya. Kamu itu gak pantas untuk Lukman. Dia itu laki-laki yang baik. Dia cocok dengan wanita yang baik juga seperti saya. Lukman sendiri yang bilang akan segera menceraikan kamu. Dia lagi pergi urus surat-surat untuk pernikahan kami dalam waktu dekat," ujar Lisna membuat Widia tercengang.
"Kurang ajar! Jangan asal bicara kamu," gertak Widia sambil mendengus kesal.
"Saya gak asal bicara. Saya ada rekaman suaranya. Nanti saya kirim biar kamu percaya. Jadi, mulai sekarang berhenti ganggu Lukman," pungkas Lisna sambil menutup teleponnya.
"Hallo? Dasar pelakor. Aku gak akan biarkan kamu hidup tenang!" gumam Widia lantang.
Tak lama notif pesan masuk pun muncul. Ternyata ada sebuah pesan audio.
"Aku serius mau menceraikan istriku. Aku malu dan menyesal telah menikah dengan seorang PSK," ujar seorang laki-laki yang suaranya mirip Lukman.
"Astaghfirullah, ini benaran suara Mas Lukman atau bukan ya. Coba aku putar ulang deh."
Widia pun berulang kali memutar balik audio itu. Ia cuma bisa mengelus-elus dadanya setelah yakin itu suara suaminya.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Mas Lukman. Aku gak nyangka kamu bisa sejahat itu. Baiklah kalau itu membuat kamu bahagia, aku akan berusaha untuk ikhlas dengan keputusan kamu. Walau aku sangat kecewa dengan kamu yang tidak bisa di pegang omongannya," gumam Widia sambil meneteskan air matanya.
Tiba-tiba terasa pundaknya ada yang menepuk. Ternyata Mita yang datang menghampirinya.
"Hayo, lagi ngapain di sini? Bengong aja sendiri. Kok nangis sih. Ada apa ya?" tanya Mita sambil mengangkat dagu Widia.
Widia pun memberikan handphonenya. Mita mengecek handphone Widia dan menemukan sebuah pesan audio. Setelah memutarnya, Mita pun tersulut emosi.
"Ini suara suamimu bukan?"
Widia cuma menganggukkan kepalanya. Mita pun menghela nafas beratnya dan mengeluarkannya dengan berat.
"Ya sudah, kita tahu diri aja, Widia. Kita cuma mantan wanita kotor dan hina. Sepertinya gak akan ada laki-laki yang bakal benar-benar tulus mencintai kita. Percayalah mungkin ini jalan yang terbaik untuk hidup kamu. Tuhan telah menunjukkan kebenarannya sebelum semuanya terlambat. Dari pada kamu tambah sakit hati, sebaiknya kamu tinggalkan saja dia," tutur Mita panjang lebar.
Widia pun memeluk erat tubuh Mita. Ibu Widia yang diam-diam mendengar obrolan mereka pun ikut terharu.
"Ternyata masih banyak yang peduli dengan Widia. Syukurlah aku jadi tenang. Tapi, apa benar suara itu suara Lukman? Kok aku ragu," batin ibu Widia sambil bergegas menghampiri mereka.
"Widia, maaf bukan maksud Ibu ikut campur. Cuma mau tahu aja, apa benar Lukman ngomong begitu? Kok ibu gak percaya ya," tanya ibu Widia.
"Oh ya, yang kirim pesan audio ini siapa Widia?" tanya Mita penasaran.
"Perempuan yang mau di jodohkan dengan Lukman."
"Apa? Kalau begitu aku pun sependapat dengan ibumu. Bisa aja ini hanya rekayasa. Dia kirim lewat hape siapa?"
"Lewat hape suamiku."
"Widia, dengarkan aku baik-baik. Kamu jangan mudah percaya dengan orang lain. Kamu harus tanya langsung pada suamimu. Kenapa hape suamimu bisa di pegang oleh orang lain?"
"Iya, Ibu setuju dengan pendapat temanmu, Nak. Kamu tanya langsung dengan Lukman soal rekaman audio itu."
"Sebenarnya kenapa Lukman pulang ke Jakarta sih, Bu? Udah tahu Widia hilang, kok malah pulang," tanya Widia sambil menatap tajam mata ibunya.
"Ibunya bilang rumahnya kebakaran," sahut ibu Widia membuat Widia dan Mita tercengang.
__ADS_1