
"Assalamualaikum," ujar seorang laki-laki membuat Widia yang sedang memasak pun tercengang.
Sementara ibunya sedang pergi arisan di rumah tetangganya. Widia pun mematikan kompornya terlebih dahulu.
"Waalaikumsalam, siapa ya?" sahut Widia lantang.
Namun, gak ada jawaban. Widia pun bergegas membuka pintu rumahnya. Spontan dirinya terkejut saat tahu yang datang itu Lukman.
"Mas Lukman. Mau apa ke sini?" ujar Widia sambil hendak menutup pintunya.
Namun, Lukman bergegas menarik gagang pintu itu. "Sayang, kamu mau ke mana? Emang kamu gak kangen sama aku?" tanya Lukman lirih.
"Pergi kamu. Jangan paksa aku untuk berbuat kasar dengan kamu," gertak Widia.
"Tenang Sayang. Ayo, duduk dulu sebentar. Aku gak punya maksud tidak baik pada kamu. Tujuanku ke sini untuk berbaikan dengan kamu. Aku pikir Mamih Clarisa itu bohong padaku soal kamu yang katanya kabur dari tempat kerjanya. Dia pikir aku gak tahu ayahmu meninggal. Terus orang-orangnya sampai kawal kamu. Tapi, mulai sekarang kamu gak usah takut lagi dengan mereka. Tempat mereka sudah di grebek oleh Polisi. Pasti mereka semua sudah di tangkap," ujar Lukman membuat Widia tercengang.
"Kamu serius, Mas. Apa kamu yang sudah laporkan mereka pada Polisi?"
"Iya, aku sudah laporkan mereka."
"Terus kamu bayar denda gak pada mereka?"
"Enggak. Mamih Clarisa menaikkan jumlah denda jadi sepuluh milyar. Aku gak mau mereka peras."
"Syukurlah. Mudah-mudahan aja mereka bertaubat setelah ini."
"Oh ya, ibu kamu ke mana?" tanya Lukman sambil celingak-celinguk mencari keberadaan ibunya Widia.
"Ibu sedang arisan di rumah temannya," sahut Widia sambil bergegas pergi menuju ke dalam rumah.
"Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Lukman lantang.
"Ya sudah, kamu masuk aja. Aku sedang masak nih," sahut Widia lantang.
***
Setengah jam kemudian, ibu Widia pun pulang. "Assalamualaikum," ujar ibu Widia.
"Waalaikumsalam," sahut Lukman dan Widia kompak.
Ibu Widia pun tercengang mendengar suara laki-laki. Ia pun bergegas menuju ke dapur.
__ADS_1
"Eh, Nak Lukman. Apa kabar?" tanya ibu Widia lirih.
"Baik, Ibu apa kabar?" sahut Lukman sambil mengulurkan tangannya.
"Alhamdulillah, Ibu juga baik. Ya sudah, Ibu tinggal ke kamar dulu ya, Nak. Mau ganti baju dulu," ujar ibu Widia sambil bergegas masuk ke kamarnya.
***
Sepuluh menit kemudian, mereka pun makan bareng. "Alhamdulillah, Ibu senang mendengarnya kalau mereka sudah di tangkap Polisi. Terima kasih ya, Nak. Kamu telah peduli pada anak Ibu," ujar ibu Widia dengan mata berkaca-kaca.
"Saya pasti akan peduli dengan Widia, Bu. Saya sangat cinta dengan Widia. Oh ya, maaf Lukman baru bisa datang ke sini sekarang. Gak sempat mengantarkan Bapak untuk yang terakhir kalinya,"sahut Lukman lirih.
"Gak papa, Nak. Asal kamu mau datang Ibu sudah senang," sahut ibu Widia sambil meneteskan air matanya.
Di lain pihak, ibu Lukman marah besar saat di telepon anaknya yang sedang di rumah Widia.
"Apa-apaan kamu? Gak punya harga diri banget sih jadi laki-laki. Kaya gak ada perempuan lain aja sih. Mamah gak setuju jika kamu balikan dengan Widia. Balik ke rumah sekarang! Kamu harus tunangan dengan Lisna," gertak ibu Lukman.
"Aku gak cinta dengan Lisna, Mah. Lukman cuma cinta dengan Widia," sahut Lukman lirih.
"Berikan teleponnya pada Widia. Mamah mau ngomong sama dia," imbuh ibu Lukman naik pitam.
"Gak perlu. Lukman tahu apa yang mau Mamah lakukan. Sudahlah, restui hubungan kami, Mah. Lukman cuma bisa bahagia dengan Widia. Emang Mamah gak senang melihat Lukman bahagia?"
"Astaghfirullah, harus berapa kali sih Lukman katakan pada Mamah? Widia itu cuma korban."
"Benar-benar keterlaluan kamu ya, Nak. Kamu berani membangkang pada ibumu gara-gara wanita murahan itu."
Telepon pun terputus. Lukman pun tercengang. Sementara Widia cuma meneteskan air matanya mendengar obrolan Lukman dan ibunya. Dari tadi dia cuma pura-pura tidur di samping suaminya. Padahal sedang menguping obrolan mereka.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Ternyata ibu mertuaku masih belum merestui hubungan kami. Di sisi lain aku akui, cintaku pada Mas Lukman juga begitu besar," batin Widia sambil meneteskan air matanya.
Sementara Lisna mendapat kabar dari ibunya Lukman pun tak tinggal diam. "Baik, Lisna akan susul Lukman ke kampung Widia, Mah," ujar Lisna lantang.
"Bagus. Kamu hati-hati ya, Nak," sahut ibunya Lukman sambil tersenyum lebar.
"Pokoknya aku gak akan biarkan kamu balikan lagi dengan Widia, Mas. Selama ini aku memang masih ragu dengan kamu. Tapi, perlahan aku semakin merasa takut jika harus kehilangan kamu. Jadi, aku akan perjuangkan cintaku padamu," batin Lisna sambil naik bus.
Sementara Remon, dia semakin hari semakin bertambah hilang akal sehatnya. Sebelumnya dia suka meminta iuran harian dari pedagang di jalanan dengan tarif dua ribu rupiah dalam satu hari. Kali ini dia mondar-mandir sampai lima kali.
"Maaf, kok sekarang Abang jadi kelewatan sih. Kan biasanya kita di pungut sehari sekali. Kenapa sekarang jadi harus bayar lima kali sehari?" tanya seorang Bapak-bapak pedagang jagung rebus.
__ADS_1
"Gak usah banyak tanya. Kalau Loe gak mau jualan lagi di sini ya pergi aja sana. Keliling gak usah nongkrong di sini. Ini wilayah kekuasaan gue," gertak Remon sambil menggebrak gerobak Bapak itu hingga goyang.
"Astaghfirullah, untung gak jatuh gerobaknya," imbuh Bapak itu lantang.
"Ah sudahlah, bayar atau gue tendang gerobak lho!"
"Kalau uang belum penglaris, Jang. Gak papa ambil aja jagung kalau mau."
Remon pun bergegas mengambil jagung rebus itu dan segera menyantapnya.
"Aw," teriak Remon yang kepanasan mulutnya.
"Rasain Loe. Serakah banget sih jadi orang," celetuk seorang pedagang es krim.
Sementara Herman, ia kembali fokus latihan balap motor lagi untuk touring yang akan segera di selenggarakan dalam waktu dekat.
"Nah gitu dong, Brow. Fokus lanjutkan balap motor lagi. Ngapain ngurus cewek gak penting lagi? Udah jadi milik orang lain juga. Kan Loe udah nyobain keperawanannya," celoteh salah satu temannya bertubuh gemuk.
"Loe gak tahu sih gue punya misi apa sama lakinya itu?"
"Emang Loe punya misi apa?"
"Tar juga Loe tahu."
Sementara Mamih Clarisa dan Robert pun bergegas menuju ke kampung halaman Widia dengan naik kereta api.
"Kita harus temui Widia. Kita paksa dia untuk mau jadi PSK lagi. Bahaya kalau kita jadi gembel gara-gara gak punya penghasilan lagi," ujar Mamih Clarisa lantang.
"Itu urusan saya, Bos. Kita harus jadikan Widia sebagai alat untuk balas dendam pada Lukman," sahut Robert antusias.
"Ide bagus. Kita harus buat perhitungan dengan Lukman. Saya benar-benar dendam dengan dia. Gara-gara dia kita jadi sengsara kaya gini."
"Saya juga gak terima, Bos."
Sementara orang-orang yang sedang mereka cari sedang berbahagia. Lukman dan Widia sedang berenang di sebuah kolam renang dekat rumahnya.
"Sayang, aku takut kedalaman. Aku gak bisa berenang tahu."
"Kamu tenang aja. Kan ada aku yang akan selalu menjagamu."
Sementara ibunya Widia sedang baca koran di kursi area kolam renang. Sesekali ia tersenyum lebar melihat keharmonisan anaknya bersama suaminya.
__ADS_1
"Kalau ingat keharmonisan mereka, Ibu jadi kangen kamu, Pah," batin ibu Widia sambil meneteskan air matanya.
Ia teringat kembali ketika masa-masa pacaran sering main ke kolam renang itu.