Terjerat Pernikahan Dengan Wanita Malam

Terjerat Pernikahan Dengan Wanita Malam
Episode 19. Semakin tak karuan


__ADS_3

Akhirnya, anggota Polisi melakukan pencarian terhadap Widia. Namun, penyamaran Mamih Clarisa dan Robert tidak mudah terlacak. Sebenarnya hampir saja Polisi itu masuk ke kontrakan Widia. Namun, tetangganya bilang bahwa rumahnya kosong. Padahal Widia ada di dalam sedang melayani tamu lewat pintu belakang. Pintu depan sengaja di kunci.


"Baik, kita cari ke tempat lain," ujar seorang anggota Polisi pada rekannya.


Sementara Lukman dan Ibu Widia semakin khawatir dengan keadaan Widia. Tiba-tiba Ibu Lukman meneleponnya bahwa rumahnya kebakaran. Lukman pun panik. Dia bilang, akan segera pulang terlebih dahulu.


"Baik, Mamah tunggu ya, Nak," ujar ibu Lukman antusias.


Namun, ternyata Lukman telah di bohongi. Saat Lukman hendak kembali ke kampung Widia, Ibu Lukman mengancam akan minum racun. Lukman pun jadi dilema.


"Mamah akan minum racun ini sekarang juga jika kamu tinggalkan Mamah lagi," ancam ibu Lukman sambil mengeluarkan sebuah botol berlambang tengkorak.


Lukman pun cuma bisa menghela nafas beratnya dan mengeluarkannya dengan berat.


Lukman saat ini hanya bisa melamun dan merenungkan nasib rumah tangganya. Ia merasa sedih dan putus asa. Di dalam kamarnya Lukman tak terasa menitikkan air matanya.


“ Tuhan apa yang harus aku lakukan?Di luar sana istriku entah bagaimana kondisinya? Hiks hiks” terdengar isak tangis.


Lukman mencoba untuk tenang. Dia menghapus air matanya, kemudian mengambil ponselnya. Lukman kembali menghubungi kantor Polisi untuk menanyakan bagaimana perkembangan pencarian Widia?


Pihak Polisi mengatakan bahwa sampai detik ini Widia belum juga ditemukan. Mereka akan kembali melakukannya esok di siang hari.


"Terima kasih atas informasinya, selamat siang," ujar Lukman sambil menutup teleponnya.


“Widia, kamu dimana? Aku rindu sama kamu,” Gumam Lukman sembari menangis sebab dadanya pun merasa sesak dengan hilangnya Widia.


Keesokan harinya, Lukman mencoba meminta tolong pada temannya untuk ke Yogyakarta memantau perkembangan pencarian Widia. Sementara Lukman dirumahnya merasa kesal karena mamahnya selalu membujuk Lukman untuk menemani Lisna.


“Mah, aku ini sudah punya istri. Mamah tau gak sih bagaimana hukumnya jika seseorang sudah punya pasangan berjalan dengan wanita lain yang bukan istrinya sendiri. Orang-orang akan beranggapan bahwa aku ini lelaki yang gak bener,” Ujar Lukman pada mamahnya.


“Halah kamu ini, susah sekali dibilangin. Ingat ya Lukman, kalau sampai kamu kembali ke Widia mamah tidak akan segan untuk melakukan hal yang tidak kamu suka,” ujar sang mamah Lukman.


Lukman, kembali menghela nafas kesal. Dia tidak habis fikir pada mamahnya yang terkesan egois.

__ADS_1


“Terserah Mamah” Lukman melengos pergi masuk menuju kamarnya.


Sementara itu, mamahnya yang dibuat kesal oleh Lukman menggerutu tidak jelas.


“Dasar wanita ******, kau apakan anakku Widia, sampai-sampai Lukman takluk padamu. Aargh! Menyebalkan. Aku harus telfon Lisna untuk segera datang ke rumah."


Mamahnya Lukman lantas menelfon Lisna untuk datang ke rumahnya, tak butuh waktu lama. Lisna pun langsung disambut oleh mamahnya Lukman.


“Hallo tante, Gimana Lukman?” Tanya Lisna.


“Entahlah Lis, coba kamu dekati terus Lukman jangan biarkan dia terus memikirkan istrinya yang tidak jelas itu” ujar mamahnya Lukman.


“Baik tante, aku pasti akan dekati mas Lukman terus. Bila perlu aku setiap hari aku kesini” sahut Lisna sembari tersenyum senang karena selalu mendapat perlakuan baik dan dukungan dari mamahnya Lukman.


Lukman yang kalut dengan masalah kehilangan istrinya, tak pernah sama sekali menanggapi bujuk rayu Lisna, Lukman tetap teguh cinta dan pendiriannya terhadap Widia sang istri. Lukman yakin dalam dirinya Widia bukanlah wanita yang dengan sengaja tega menginggalkannya begitu saja hanya demi pria lain atau alasan lainnya.


Tring tring tring


Ponsel Lukman berdering, Lukman dengan segera menerima panggilan tersebut yang mana panggilan dari temannya yang disuruh oleh Lukman untuk memantau perkembangan kasus menghilangnya Widia.


“Belum ada brow. Tapi, aku dengar bahwa Widia masih disekitaran Yogyakarta” sahut teman Lukman.


“Baiklah, terima kasih ya. Sorry gue ngerepotin lo."


“No problem brow, jangan sungkan. Dulu lo sering bantu gue. So tidak ada salahnya kan gue bantu lo, walaupun keterbatasan gue."


“Oke, thank ya”


“Sip”


Lukman kembali menutup telfonnya. ia mondar-mandir tak tenang. Sudah kesekian harinya Widia belum juga ditemukan keberadaanya. Entah pada siapa lagi Lukman harus meminta bantuan. Merasa lelah Lukman pun bergegas keluar dengan mengenakan jaket serta tas slempang ditubuhnya. Mamahnya yang melihat Lukman langsung menghadang Lukman.


“Mau kemana kamu Lukman?” Tanya sang mamah.

__ADS_1


“Mah, aku tidak bisa berdiri terus seperti ini mah. Widia itu istriku, aku harus mencarinya,” ujar Lukman.


“Stop Lukman, apakah kamu sudah gila hah? Dia itu seorang pelacur. Dia itu wanita kotor yang banyak dipakai oleh para lelaki hidung belang” mamahnya Lukman meninggikan nada bicaranya.


“ Stop Mah, bagaimana pun bentuk Widia, mau dia yang dulunya seorang PSK atau bukan, dia tetap istri saat ini. Aku berkewajiban untuk menjaga dan melindunginya, harusnya mamah tau itu” jawab Lukman.


“ Kamu,,,,,,”


“Stop Mah, jangan halangi Lukman lagi untuk mencari Widia. Lukman harus menjalankan kewajiban Lukman sebagai seorang suami. Lukman harus menemukan Widia dalam keadaan apa pun mah. Atau Mamah mau Lukman celaka karena LUkman berdosa karena mengabaikan istri Lukman?Hah? Gak mau kan? Jadi Lukman mohon izin untuk mencari Widia. Assalamu’alaikum” perkataan Lukman membuat mamahnya kehabisan kata-kata.


Lukman pun pergi mencari Widia, dia mengunjungi tempat-tempat yang pernah disinggahi Widia. Lukman pun bertanya pada setiap warung-warung yang berderet di sekitaran bekas kontrakan Widia. Meski panas terik yang terasa membakar kulitnya, Lukman tak menyerah ia tak hentinya terus menyusuri jalanan guna mencari informasi keberadaan Widia.


Lukman berhenti disebuah Gardu. Dia duduk istirahat sambil membuka ponselnya. Ia menunggu kabar dari temannya. Namun, nihil belum ada pesan yang masuk baik dari temannya maupun dari pihak kepolisian. Lukman Nampak Lesu. Ada seorang pedagang asongan yang sudah tua ikut neduh di gardu.


“Maaf den, saya ikut neduh boleh? Panas sekali cuacanya” ujar si pedagang dengan sopan.


“Oh, iya silahkan Pak, boleh. Saya juga kebetulan sedang istirahat disini” jawab Lukman.


“Emangnya si aden ini mau kemana atau dari mana?” Tanya si pedagang kembali.


“Saya sedang berkeliling saja Pak."


“Hehehe, ada-ada saja si aden kok malah berkeliling.”


“Iya Pak, sebenarnya saya sedang mencari istri saya,” ujar Lukman.


“Loh-loh, emang istrinya kemana to?” Tanya si pedang dengan ekspresi yang serius, bercampur kaget.


“Istri saya hilang Pak."


“Walah, kok bisa hilang begitu. Gimana ceritanya?”


“Ceritanya panjang Pak."

__ADS_1


“Yowes, moga-moga aja istrinya si aden ini cepet ditemukan ya, banyak do’a saja” ujar si pedagang.


Cukup lama Lukman dan si pedagang berbincang. Setelah itu Lukman melanjutkan kembali pencarian Widia hingga malam hari Lukman baru pulang kerumahnya. Dia langsung masuk kamar dan istirahat, akan tetapi dia tidak bisa tidur. Lukman terjaga sepanjang malam. Dia sudah berdo’a bahkan dia melakukan sholat-sholat malam guna meminta petunjuk dari sang pencipta mengenai keberadaan Widia.


__ADS_2