Terjerat Pernikahan Dengan Wanita Malam

Terjerat Pernikahan Dengan Wanita Malam
Bab 16. Trik licik


__ADS_3

Suatu pagi, Remon mendatangi tempat prostitusi Mamih Clarisa. Ia terperanjat melihat tempat itu sudah di segel.


"Lho, kok tempat ini di segel sih? Mereka pergi ke mana ya?" gumam Remon sambil menghela nafas panjangnya.


Tiba-tiba ada seorang pemuda yang lewat. Remon pun bergegas bertanya pada pemuda itu.


"Mas, tahu gak tempat ini di segel kenapa?" tanya Remon sambil menatap tajam mata pemuda itu.


"Saya kurang tahu pasti. Tapi, malam itu ada penggerebekan tempat ini."


"Oke, terima kasih, Mas."


"Ke mana perginya penghuni-penghuni di tempat ini ya? Aku belum puas balas dendam pada Widia," batin Remon sambil bergegas pergi meninggalkan tempat itu.


***


Sementara Mamih Clarisa dan Robert akhirnya sampai juga di kampung Widia di daerah Yogyakarta.


"Oke, kita sudah sampai di kampung Widia. Kita harus atur strategi untuk menculik Widia. Kamu punya ide apa Robert?" ujar Mamih Clarisa lantang.


Robert pun berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Mamih Clarisa. Beberapa saat kemudian, Robert pun menyampaikan idenya.


"Ide yang bagus. Oke, saya setuju. Ayo, kita bergegas untuk merealisasikan rencana kita!"


Akhirnya, mereka pun bergegas menuju ke tempat barang bekas. Entah rencana apa yang mau mereka lakukan?


Di lain pihak, Herman yang gak sengaja lewat depan rumah Widia tercengang, saat melihat Lukman yang sedang duduk di teras depan rumah Widia.


"Lukman, rupanya dia ada di sini. Apa sekarang dia tinggal di sini ya? Apa sekarang dia sudah kere? Waduh, bisa kacau dong kalau begini. Semua rencanaku bisa gagal kalau begini," batin Herman sambil menggelengkan kepalanya dan bergegas melajukan kembali motornya.


Sesampainya di rumahnya, ia pun langsung melemparkan tubuhnya ke tempat tidurnya dengan kasar. Beruntung tempat tidurnya tidak roboh.


"Aku harus selidiki masalah ini. Apa benar Lukman sudah kere? Kalau iya, mending gue ambil Widia lagi aja deh. Gak ada bedanya gue sama dia yang sama-sama kere," gumam Lukman sambil mencoba menghubungi nomor Widia.


Namun, nomornya sedang tidak aktif. Herman pun mendengus kesal. "Kok tumben gak aktif. Ke mana Widia?" gumam Herman sambil menaruh kembali handphonenya.


***


Di lain pihak, Lisna yang baru sampai Yogyakarta, ia pun langsung mencari rumah kontrakan. Setelah dapat, ia langsung pergi untuk mencari keberadaan Lukman di rumah Widia. Tak lupa ia memakai masker dan kacamata.


"Aku sudah dapat alamat rumah Widia. Bagaimana caranya ya aku bisa masuk rumah Widia dan bertemu dengan Lukman?" batin Lisna sambil naik angkutan kota arah rumah Widia.


Sementara Mamih Clarisa dan Robert, ternyata mereka menyamar sebagai pemulung.

__ADS_1


"Oke, kita pelan-pelan pergi menuju rumah Widia sambil mulung. Lumayan buat nyambung hidup. Gak bakal ada yang mengenali kita juga dengan penampilan kita yang kucel ini. Terus kita juga pakai masker," ujar Mamih Clarisa sambil mendorong gerobaknya di bantu Robert.


"Betul, Bos. Kita bisa sambil mulung, sambil cari Widia. Begitu gerobak ini penuh, kita jual dulu barang-barang bekasnya ke tempat rongsokan," sahut Robert antusias.


Mamih Clarisa pun menganggukkan kepalanya. Mereka pun terus melanjutkan perjalanan sambil memungut barang-barang bekas yang bergeletakan di sepanjang jalan.


Sementara Lisna, dia sudah sampai di depan rumah Widia. Ia pun mengeluarkan secarik kertas berisi alamat rumah Widia.


"Aku yakin, ini rumah Widia. Aku pura-pura ngapain ya biar bisa masuk ke rumah Widia dan bertemu Lukman?" gumam Lisna sambil menghela nafas panjangnya.


Setelah mendapat ide, ia pun bergegas mengetuk-ngetuk pintu rumah Widia.


"Permisi," ujar Lisna lantang.


Widia yang kebetulan sedang nonton televisi bareng pun tercengang. "Siapa ya, Mas yang ketuk-ketuk pintu?" ujar Widia lirih.


"Coba kamu lihat!" sahut Lukman lantang.


Akhirnya, Widia pun bergegas membuka pintu. Lisna pun tercengang saat melihat keberadaan Widia. Sementara Widia menatap tajam wajah Lisna yang bermasker.


"Cari siapa ya, Mbak?" tanya Widia.


"Suaminya ada, Mbak?" sahut Lisna.


"Saya petugas dari kelurahan. Mau minta izin pada suami Mbak untuk mensterilkan rumah ini."


"Maksudnya mensterilkan bagaimana? Dalam rangka apa?"


"Ini program kota kita semenjak beberapa tahun silam adanya pandemi. Walau pandemi telah berakhir, tapi kita harus tetap menjaga kebersihan lingkungan kita supaya tetap sehat."


"Siapa Sayang?" tanya Lukman yang akhirnya muncul.


Lisna pun tercengang melihat keberadaan Lukman. "Anda siapa? Ada urusan apa?" tanya Lukman heran.


"Katanya dia mau mencari kamu, Mas. Mau mensterilkan rumah kita. Aku gak ngerti maksudnya apa?" imbuh Widia.


"Anda dari mana?" tanya Lukman.


Lisna pun bergegas membuka maskernya. Spontan Lukman dan Widia pun tercengang melihat sosok Lisna yang datang.


"Mau apa kamu ke sini? Mau jadi pelakor," gertak Widia.


"Ish, sabar Sayang. Gak boleh ngomong begitu. Ada apa kamu ke sini?" ujar Lukman sambil menepuk pelan pundak istrinya.

__ADS_1


"Oh, jadi begini cara kalian menyambut tamu. Apakah orang tua kalian gak pernah mengajarkan cara menyambut tamu yang baik?" ujar Lisna dengan mata melotot.


"Gak usah bertele-tele kamu. Tutup poin aja. Mau apa kamu ke sini?" gertak Widia.


"Oke, aku tutup poin. Aku ke sini mau jemput Lukman untuk menikahi aku. Puas kamu!" sahut Lisna membuat Widia dan Lukman tercengang.


"Emang perempuan sakit ya kamu ini. Pergi!" gertak Widia sambil mendorong tubuh Lisna hingga tersungkur.


"Aw, kurang ajar!" teriak Lisna.


"Sayang, sabar. Kok kamu malah kasar sih," ujar Lukman lirih.


"Sudah, kamu gak usah urusi perempuan pelakor ini. Ayo, kita masuk, Mas!" gertak Widia sambil menarik tangan Lukman menuju ke dalam rumah.


Ternyata Herman sedang mengawasi gerak-gerik mereka. "Waw, tontonan yang menarik. Siapa ya perempuan itu? Sepertinya bisa di ajak kerjasama nih," gumam Herman sambil tersenyum licik.


"Widia, buka pintunya!" teriak Lisna sambil menggedor-gedor pintu rumah.


"Lukman, ayo pulang bareng aku! Aku sangat mencintaimu," teriak Lisna yang tidak ada respon apapun dari Lukman dan Widia.


Lisna pun mendengus kesal dan bergegas pergi meninggalkan rumah itu. Herman pun bergegas mengejar Lisna.


"Tunggu!" teriak Herman membuat Lisna tercengang.


"Siapa kamu? Ada urusan apa?" gertak Lisna.


"Kenalkan aku Herman. Mantan pacarnya Widia," ujar Herman sambil mengulurkan tangannya.


"Apa?! Kamu mantan pacar Widia. Apakah Lukman tahu soal ini?" tanya Lisna penasaran.


"Dia pasti tahu. Tapi, itu gak penting. Yang penting kita bisa bekerjasama."


"Bekerja sama untuk apa?"


Herman pun mengutarakan maksudnya pada Lisna. Lisna pun tersenyum lebar mendengar perkataan Herman.


"Oke, ide yang bagus. Senang bisa berjumpa denganmu. Save nomor teleponku."


Di lain pihak, Mamih Clarisa dan Robert baru menjual barang hasil mulung.


"Lumayan buat makan dan ngopi. Ayo, kita mulung lagi sambil cari Widia," ujar Mamih Clarisa lantang.


"Oke, tapi saya lapar banget, Bos," sahut Robert sambil memegang perutnya.

__ADS_1


__ADS_2