
Widia minta ide Mita cara cari tahu tentang Lukman tanpa harus kembali ke Jakarta.
"Wah, susah dong kalau gitu. Mau gak mau kamu harus susul suamimu ke Jakarta," ujar Mita sambil menyeruput minumannya.
"Hadeh, malas banget deh gue kalau harus kembali ke Jakarta lagi. Apalagi harus bertemu mertuaku yang mit amit deh jahatnya," sahut Widia sambil mendengus kesal.
"Tenang! Aku akan temani kamu ke Jakarta kalau mau. Aku sudah anggap kamu adekku sendiri. Jadi, aku merasa sangat perlu untuk bantu kamu. Selama ini aku sudah sangat banyak dosa. Anggap saja ini caraku untuk menebus dosa-dosaku," imbuh Mita lirih.
"Ya sudah, kalau Kakak gak keberatan. Besok kita ke Jakarta. Tanganku gatal banget mau benyek-benyek muka si pelakor itu," imbuh Widia ketus.
"Ssst, ingat kamu harus bisa mengontrol emosi kamu. Jangan terbawa emosi. Tujuan kita ke Jakarta bukan untuk cari ribut. Cuma mau cari keadilan dan kebenaran 'kan."
"Oke, ya sudah kita ngomong dulu sama ibuku yuk!"
***
Keesokan harinya, mereka pun bergegas pergi menuju Jakarta. Awalnya ibunya gak mengizinkan, tapi akhirnya terpaksa mengizinkannya saat tahu anaknya di temani Mita.
"Mudah-mudahan aja kamu dapat solusi terbaik ya, Nak. Kamu itu anak baik. Mudah-mudahan aja segera terungkap kebenarannya. Kalian hati-hati di jalan ya," ujar ibu Widia.
"Aamiin, Bu. Ibu baik-baik di rumah ya. Jangan banyak pikiran yang macam-macam. Widia gak sendiri sekarang," ujar Widia sambil mengecup tangan ibunya.
"Ibu tenang aja, saya akan jaga Widia kok," imbuh Mita lirih.
"Ibu titip Widia ya, Nak."
"Assalamualaikum," ujar Widia dan Mita kompak.
"Waalaikumsalam."
"Aku gak tega sebenarnya meninggalkan Ibu sendiri di kampung. Tapi, aku gak mau kehilangan Mas Lukman lagi. Aku sangat mencintainya, Kak."
"Kamu berhak bahagia, Widia. Jadi, perjuangan kebahagiaanmu. Mudah-mudahan masalahmu cepat kelar. Kita bisa cepat-cepat pulang lagi ke Yogyakarta."
Kereta pun terus melaju menuju kota Jakarta. Saking asyiknya ngobrol, sampai-sampai Mita ketiduran. Akhirnya, Widia pun ngomong sendiri.
"Oh ya, maaf aku boleh tanya gak Kak?"
Namun, gak kunjung aja jawaban. Widia pun mengulangi pertanyaannya. Tetap gak ada jawaban. Ia pun menoleh ke samping kirinya. Saat tahu Mita sedang tertidur, Widia pun mendengus kesal.
__ADS_1
"Astaghfirullah, pantas saja aku ngomong sendiri. Rupanya kau tidur. Ya sudah, aku juga mau tidur."
Widia pun berusaha untuk memejamkan matanya. Sebab perjalanan pun masih sangat jauh.
Di lain pihak, Lisna memberikan sebuah rekaman audio mirip suara Widia pada Lukman.
"Mas, aku mau kita bercerai. Aku selama ini gak pernah cinta sama kamu. Aku cuma mau morotin harta kamu aja. Aku itu bekas banyak laki-laki. Kok kamu mau sih. Dasar laki-laki bodoh. Sudahlah, aku mau kita bercerai."
Lukman pun marah besar saat tahu isi rekaman itu. Ia pun mengepalkan tangannya.
"Oke, kalau itu maumu Widia. Akan aku kabulkan secepatnya!" ujar Lukman lantang.
Lisna pun tersenyum licik mendengar perkataan Lukman. "Maaf, aku gak bermaksud merusak rumah tangga kamu. Cuma berniat menyampaikan kebenaran aja," ujar Lisna sambil menepuk pundak Lukman.
"Gak papa. Terima kasih atas informasinya. Berkat kamu aku jadi tahu siapa sebenarnya Widia itu?" sahut Lukman lirih.
"Ya sudah, keputusan ada di tanganmu. Aku gak berhak ikut campur atau memaksamu untuk menikah denganku. Aku akan menghargai apa pun keputusan kamu, Mas."
Lukman pun menghela nafas beratnya dan mengeluarkannya dengan berat mendengar perkataan Lisna.
Widia bergegas pergi ke Jakarta di temani Mita. Saat sampai di depan pintu gerbang rumah Lukman, tiba-tiba Lisna berteriak dari luar.
"Kebetulan aku cari kamu pelakor. Dasar wanita gatal wanita gak laku Lo!" gertak Widia sambil refleks menjambak rambut Lisna.
"Aw, lepasin!" teriak Lisna sambil menjambak rambut Widia.
"Widia, tahan emosi kamu!" teriak Mita sambil menarik tangan Widia.Widia pun mengibaskan tangan Lisna.
"Pantas saja Lukman sudah gak mau lagi sama Lo. Lo itu gak ada bedanya dengan seekor harimau! Kasar banget sih!" gertak Lisna sambil mendengus kesal.
"Lo yang mulai. Ngapain Lo ke sini? Pergi gak usah ganggu suami gue lagi!" gertak Widia.
"Hallo, gue gak salah dengarkan? Lo ngusir gue. Hahahaha. Harusnya gue yang harus ngusir Lo. Lo lihat ini, gue udah tunangan dengan Lukman. Sebentar lagi kita akan menikah. Jadi, sebaiknya Lo berhenti ganggu Lukman. Paham!" ujar Lisna sambil menunjukkan cincin tunangan di jari manisnya bertuliskan inisial huruf L.
Widia pun tercengang melihat cincin tunangan itu. Namun, Mita menepuk pundak Widia.
"Gak usah dengarkan perempuan ular itu. Pasti dia cuma mengada-ada," ujar Mita lantang.
"Gak usah ikut campur kamu! Saya gak ada urusan denganmu," gertak Mita.
__ADS_1
"Lo benar-benar pelakor yang harus di lenyapkan dari muka bumi ini!" teriak Widia sambil mendorong tubuh Lisna hingga tersungkur.
Gak sampai di situ, Widia nyaris mencekik leher Lisna. Namun, keburu di tahan oleh Mita.
"Astaghfirullah, Widia nyebut! Ingat, tujuan kita ke sini bukan untuk cari ribut. Cuma mau mencari kebenaran dan keadilan serta membuka mata hati suamimu, supaya tidak menyesal seumur hidupnya karena telah memilih wanita ular ini," imbuh Mita sambil menarik tangan Widia.
Tiba-tiba Lukman keluar. Widia pun tersenyum lebar dan menghampiri suaminya.
"Sayang, akhirnya kamu datang juga," ujar Widia sambil memegang erat tangan Lukman. Mita tercengang saat melihat sosok Lukman.
"Waduh, rupanya si ganteng ini yang jadi suami Widia. Jadi, waktu itu dia booking istrinya sendiri," batin Mita sambil tersenyum simpul.
Lukman malah mengibaskan tangan Widia. Widia pun tercengang. Lisna bergegas bangun dan menghampiri Lukman.
"Sayang, dia benar-benar telah berubah. Aku baru turun dari mobil, tiba-tiba dia menjambak rambutku sampai pada rontok. Menggampar- gampar mukamu sampai pada linu begini. Aku takut banget," tutur Lisna sambil bergegas memegang erat tangan Lukman.
"Eh, lepasin tangan suamiku!" gertak Widia sambil kembali mendorong tubuh Lisna hingga tersungkur. Mita pun tercengang dengan sikap Widia.
"Aduh, Widia kok gak bisa kontrol emosi sih," batin Mita sambil menepuk jidatnya.
"Pelakor kaya kamu itu sebaiknya mati aja deh!" teriak Widia nyaris kembali hampir mencekik leher Lisna.
Lukman pun tercengang dan bergegas menarik tangan Widia. Ia refleks menggampar muka Widia berkali-kali.
Plak! Plak! Plak!
"Kamu benar-benar telah berubah ya. Pergi kamu dari sini!" gertak Lukman membuat semua orang tercengang.
Widia meneteskan air matanya dengan sikap Lukman yang gak biasanya.
"Astaghfirullah, Sayang. Kamu berani kasar sama aku sekarang. Pasti gara-gara wanita pelakor itu ya," ujar Widia lirih.
Sementara Lisna bergegas bangun dan tersenyum lebar melihat keadaan itu.
"Diam kamu! Saya dan Lisna akan segera menikah. Jadi, berhenti ganggu kami lagi," gertak Lukman membuat Widia menangis terisak-isak.
"Apa? Jadi, kamu lebih memilih untuk menikah dengan wanita pelakor itu dari pada bertahan denganku. Emang kamu sudah gak cinta lagi denganku, Mas?" ujar Widia sambil memegang erat tangan suaminya. Namun, Lukman malah mengibaskan tangan Widia.
"Kamu sendiri kan yang minta aku untuk ceraikan kamu. Oke, aku akan kabulkan permintaan kamu. Mulai sekarang kamu...."
__ADS_1
Tiba-tiba kepala Widia terasa pusing dan perutnya terasa mual. Widia terlihat seperti mau muntah. Semua orang pun tercengang, termasuk Lukman.