
"Terima kasih ya, Sayang. Kamu telah membuat aku puas banget hari ini. Ini buat kamu," ujar Lukman sambil mengancingkan bajunya terus mengeluarkan sejumlah uang.
"Uang apa ini, Mas? Aku kan istrimu. Kamu gak usah bayar aku sepeser pun. Aku memang bukan istri yang baik, tapi kamu jangan membuatku merasa gak berguna seperti ini. Cuma laki-laki hidung belang yang harus bayar aku, Mas," ujar Widia dengan mata berkaca-kaca sambil kembali memakai kaos singletnya.
"Maaf, aku sama sekali gak bermaksud menyakiti perasaan kamu. Aku gak anggap kamu seorang PSK saat ini. Aku anggap kamu sebagai istriku," sahut Lukman lirih.
"Terus apa maksudnya kamu berikan aku uang sebanyak ini?" ketus Widia.
"Aku mau kamu keluar dari tempat laknat ini sekarang juga," pinta Lukman lantang.
"Apa?! Kalau begitu maaf, aku gak mungkin bisa melakukannya, Mas," sahut Widia membuat Lukman tercengang.
"Kenapa gak bisa? Emang kamu sudah gak sayang lagi sama aku," ucap Lukman sambil memegang erat tangan Widia.
"Aku sudah tanda tangan kontrak kerja dengan Mamih Clarisa. Jika aku tidak menyelesaikan masa kerja sesuai kontrak, aku akan kena finalty sebesar 5 milyar," sahut Widia dengan mata berkaca-kaca.
"Apa?! Oke, sekarang kamu ikut aku!" ujar Lukman sambil menghela nafas panjangnya dan menggiring Widia turun ke lantai bawah.
"Mas, kamu mau bawa aku ke mana?" teriak Widia.
Setelah sampai di lantai bawah, Robert pun bergegas menghampiri mereka.
"Tunggu? mau kamu bawa ke mana Widia, hah?" gertak Robert.
"Mana Mamih kalian? Saya mau bicara sama dia," sahut Lukman lantang sambil melepaskan tangan Widia.
"Ada urusan apa?" tanya Robert sewot.
"Saya gak ada urusan sama kamu. Cepat panggil Mamih kalian!" ujar Lukman lantang.
"Harus jelas dulu ada urusan apa? Baru saya panggilkan Mamih Clarisa," ucap Robert sambil menarik kerah baju Lukman.
"Dasar gak berguna, minggir!" gertak Lukman sambil mendorong tubuh Robert hingga tersungkur dan bergegas mencari keberadaan Mamih Clarisa.
"Mamih Clarisa, di mana kau berada?" teriak Lukman membuat semua PSK di sana tercengang.
"Waduh, ngapain itu Aa ganteng cari Mamih? Apa jangan-jangan mau ngajak main Mamih ya?" celoteh seorang PSK.
"Mungkin aja dia kurang puas dengan Widia. Makanya mau cari pemimpinnya," sahut temannya.
__ADS_1
Mamih Clarisa yang mendengar teriakan Lukman pun bergegas keluar dari ruangannya.
"Ada apa kamu teriak-teriak memanggil saya? Gak ada sopan santunnya ya," gertak Mamih Clarisa sambil menatap tajam mata Lukman.
"Saya mau bicara dengan Anda?" sahut Lukman lantang.
"Lukman, sebaiknya kamu pulang aja. Gak usah bikin malu," ucap Widia sambil menarik tangan Lukman.
"Aku bakal pulang jika pulang sama kamu," sahut Lukman lantang.
"Apakah kalian sudah saling mengenal sebelumnya?" tanya Mamih Clarisa sambil berbagi pandangan pada mereka.
"Itu gak penting, saya mau bawa Widia pulang. Saya sangat mencintai dia dan akan segera menikahinya," ujar Lukman membuat Widia tercengang.
"Hahahaha, kamu yakin bisa bawa dia pergi dari tempat ini, hah! Kamu tahu gak? Dia terikat kontrak kerja dengan saya. Jika keluar sebelum habis kontrak akan di kenai denda sebesar 5 milyar," sahut Mamih Clarisa ketus.
"Cuma 5 milyar. Oke, nih silahkan Anda tulis sendiri," ujar Lukman sambil mengeluarkan sebuah buku cek.
Spontan mata Mamih Clarisa pun membelalak. Sementara Widia tercengang melihat pengorbanan suaminya yang tidak ia sangka.
"Oke, kalau begitu saya izinkan kamu bawa Widia pergi dari sini!" ujar Mamih Clarisa hendak mengisi kertas cek itu.
"Ambil nih dan segera pergi dari sini! Saya gak sudi jika harus menikah dengan kamu," sahut Widia dengan mata berkaca-kaca.
Lukman dan Mamih Clarisa pun tercengang dengan sikap Widia. "Kamu jangan bodoh ya, Widia. Masa...." omongan Mamih Clarisa tidak Widia hiraukan.
Ia malah menarik tangan Lukman dan mendorong tubuh suaminya hingga keluar dari tempat prostitusi itu.
"Pergi, gak usah balik lagi ke sini!" gertak Widia dengan mata berkaca-kaca.
"Widia, aku benar-benar kecewa dengan kamu," ujar Lukman sambil mendengus kesal.
Namun, Widia gak menghiraukannya. Ia malah kembali ke kamarnya di lantai atas. Semua orang yang melihatnya pun heran dengan sikap Widia yang tidak biasa. Mita bergegas menghampiri Widia di kamarnya.
"Widia, bolehkah saya masuk?" tanya Mita sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Widia.
"Mita ya, masuk aja!" sahut Widia singkat.
Mita pun duduk di samping Widia. Ia pun memberikan sehelai tisu untuk menghapus air mata Widia.
__ADS_1
"Terima kasih. Ada apa Kak?" tanya Widia tetap dengan posisi rebahan telentang.
"Bangunlah, gak sopan lho!" gertak Mita.
"Iya maaf, ada apa?"
"Lho kenapa ngusir tamu yang barusan? Apa dia gak bayar lho atau bayar murah?"
Widia pun berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Mita. Mita pun menepuk pundak Widia.
"Wey, jangan bengong! Ceritalah sama gue, ada apa?"
"Gue usir dia, karena dia mau ngebebasin gue dari sini dengan membayar uang denda 5 milyar pada Mamih Clarisa," sahut Widia terbata-bata.
"Apa?! Ada orang yang mau bebasin lho dari sarang macan ini tapi lho malah usir. Sumpah gue gak nyangka, lho itu bodoh banget. Di mana otak lho sih, Widia? Bodoh kok di pelihara. Hadeh, lho lupa apa ayah lho lagi sakit. Kalau lho bebas dari sini, lho bisa nengok ayah lho deh. 5 milyar, dari mana lho bisa dapat uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Jadi PSK pun belum tentu ada yang bayar 5 milyar. Udahlah, gue kecewa banget dengan sikap lho. Kalau gue jadi lho, gak akan gue sia-siakan kesempatan emas seperti itu," ujar Mita sambil mendengus kesal dan bergegas pergi meninggalkan Widia.
Widia pun tersentak mendengar perkataan Mita. Ia teringat ayahnya yang sedang sakit.
"Astaghfirullah, Ayah. Aku lupa Ayah sedang sakit. Aku harus cabut kata-kataku terhadap Mas Lukman," gumam Widia sambil bergegas menuju ke lantai bawah untuk mengejar Lukman.
Namun, ternyata Lukman telah pergi dari kawasan tempat prostitusi itu. Mamih Clarisa pun bergegas menghampiri Widia.
"Hey, wanita bodoh! Gara-gara kamu ya, saya gagal dapat uang 5 milyar. Gak punya otak ya kamu ini. Sebagai hukuman, kamu harus setor semua uang hasil dari tamu semuanya selama satu minggu. Kalau enggak, kamu akan dapat hukuman yang lebih berat lagi!" ujar Mamih Clarisa ketus sambil bergegas pergi meninggalkan Widia.
Widia pun tercengang mendengar perkataan Mamih Clarisa. Ia benar-benar menyesal telah mengusir Lukman.
"Maafkan aku Mas Lukman, aku gak bermaksud menyakiti hati kamu. Aku gak mau ngerepotin kamu terus. Sementara aku sudah mengkhianati kamu sejauh ini," batin Widia sambil meneteskan air matanya.
Sementara teman-temannya yang merasa iri dengan Widia merasa senang dengan hukuman yang di berikan oleh Mamih Clarisa.
"Rasain lho, makanya jadi orang jangan sok paling cantik dan laku ya. Dapat tamu ganteng dan tajir di usir," ujar seorang teman PSK.
"Gak ngerti otaknya di taruh di mana sih?" imbuh temannya.
Widia yang mendengar omelan teman-temannya bergegas pergi meninggalkan mereka. Dia gak mau buang-buang waktu untuk melayani komentar mereka.
Sementara Lukman, sepulangnya dari tempat Widia bekerja, ia langsung nyelonong masuk ke rumahnya tanpa mengucap salam pada kedua orang tuanya yang sedang nonton televisi.
"Astaghfirullah, Lukman. Kok main nyelonong aja sih. Ayah gak pernah mengajarkan kamu gak punya sopan santun seperti itu ya," gertak ayah Lukman yang gak di hiraukan.
__ADS_1
Lukman malah bergegas pergi meninggalkan mereka. Kedua orang tuanya cuma menggelengkan kepalanya.