
"Tuan muda sudah 10 tahun berlalu. betapa dalamnya dendammu, seharusnya juga sudah memudar."
"bulan depan ulang tahun tuan besar yang ke 50. kamu dan tuan besar sudah 10 tahun tidak bertemu. tuan besar ingin sekali bertemu denganmu. selain itu, tuan besar juga mengumumkan berita kamu meneruskan warisan rumah."
Jalan hungdra raya Rendi Lu membawa sekotak kue yang ia beli untuk Anak perempuannya, Kiki. Ia memandang sekilas pria tua dengan setelan tangzhuan berbadan, sambil tersenyum dingin.
"Pulang?"Rendi tertawa pelan dengan tatapan yang cuek.
"Sejak ia membiarkan Ishara Xiao si wanita ****** itu mencelakai ibuku hinggal meninggal, hubunganku dengan ia telah putus."
"Tapi boleh juga kalau ia ingin aku pulang, tapi ada syaratnya, yaitu suruh ia penggal kepala
isyara untukku jadi bola!"
Pria tua dan pengawal saling memandang.
"Kalau tidak bisa, enyahlah!" ujar Rendi pelan.
Pria tua itu mundur tanpa sadar. Rendi
berlangkah besar maju ke depan dengan postur tubuhnya yang tegak.
Rendi marah besar, ia sangat benci.
sepuluh tahun yang lalu, ibu kandungnya ditabrak oleh mobih sehingga meninggal.
meskipun hasil investigasi menyatakan pengendara tersebut menyetir dalam keadaan mabuk, siapapun yang bodoh juga akan mengetahui bahwa semua ini rencana ishara si ****** itu, demi merebut kekuasaan.
Rendi datang bertanya ke depan ayahnya, untuk memperoleh sebuah penjelasan, tetapi ia mendapat tamparan dari ayahnya bilang ia adalah anak yang durhaka.
Ia sangat kecewa. setelah acara pemakaman Ibunya, ia pergi meninggalkan kota jingrang dan membangun keluarga di kota yozuda. dan kehidupannya sama persis dengan kehidupan orang biasa.
meskipun ia tidak pernah mendapat sambutan yang bahagia dari keluarga mertua setelah menikah, hingga ia dan istrinya Linda diusir oleh keluarganya dan menjalani hidup dengan gaji yang berkecukupan. tapi ia sama sekali tidak mengeluh, karena ia memiliki istri yang cantik dan anak perempuan yang pengertian. kehidupan nya udah sangat cukup.
Untuk kembali ke keluarganya?
Haha, hanyalah sebuah mimpi buruk.
tiba tiba telepon rendi berdering.
baru saja tersambung suara Linda yang kesal terdengar dari sebrang sana " Rendi kemana saja kamu? Penyakit kiki tiba tiba kambuh, sangat parah. apakah kamu mengetahuinya!?bukankah aku menyuruhmu untuk merawat kiki dirumah sakit? mengapa kamu masih bisa keluar disaat seperti ini?"
Bagai petir dipagi hari yang cerah.
Rendi tersadar kembali dan memegang teleponnya berbicara"Aku akan segera pergi kesana."
Rendi juga sangatlah panik, tidak banyak menjelaskan dan segera memanggil taksi di tepi jalan.
ia sangat kacau, tapi tanggannya sambil memegang erat kotak kue yang terlihat mewah. itu makanan kesukaan kiki. kiki telah lama memintanya, ia tidak boleh membuat kiki kecewa.
__ADS_1
didepan pintu rumah inap, Rendi sudah mendapat tamparan dari seorang wanita yang sangat cantik, sebelum ia bisa bernafas dengan baik.
Linda, istri Rendi, dengan tinggi 168cm, tubuh yang langsing, kelima indra yang terukir baik, merupakan wanita cantik dari sekian banyak.
maupun usia anak mereka berusia 3 tahun, tetapi ia masih terlihat cantik seperti gadis usia 20 tahunan. tubuhnya terlihat sempurna dan dewasa.
Hanya saja wajah Linda sekarang penuh dengan kemarahan.
"Rendi kamu membuatku sangat kecewa!"
Rendi menundukan kepala dengan merasa bersalah."dimana Kiki?bagaimana keadaannya?"
"kamu masih ada muka untuk menanyakan keadaan Kiki? Penyakit Kiki baru kambuh beberapa menit, baru ditolong Dokter. kalau telat semenit lagi nyawa Kiki akan hilang!" Linda menunjuk hidung Rendi dan dengan kesal berkata, "untung saja penyakit Kiki terkontrol. kalau tidak, aku tidak akan memaafkanmu selamanya!"
mengetahui kondisi anaknya stabil, hati rendi membaik sedikit.
Kiki merupakan anak perempuan kesayangannya, ia menginginkan kiki hidup sehat lebih dari siapapun!
kalau bisa, ia rela menggunakan nyawanya untuk menukar dengan Kiki!
di saat ini dua wanita muncul di belakang Linda.
Rendi tentu mengenal mereka berdua. mereka adalah Ibu mertuanya Amelia Wang dan adik iparnya Lissa.
Amelia langsung marah besar setelah melihat Rendi "dasar pengecut! orang yang tidak berguna! sudah banyak tahun berlalu, kamu bergantung hidup terus dengan anakku, lebih baik memelihara anjing yang bisa menjaga rumah, sedangkan kamu, bahkan anak sendiri juga tidak bisa dijaga, benar-benar tidak berguna!"
lalu Amelia berbalik badan dan berkata dengan Linda "dengar kata-kata ibu, segera cerai dengan orang ini. jangan menghabiskan waktumu lagi di tangan orang sepertinya."
"iya kak" lissa membalik matanya kearah Rendi dan lanjut berkata "beberapa hari ini pengobatan kiki telah menghabiskan tabunganmu, tapi pernahkah ia mengeluarkan sekalipun?orang ini tidak bisa dissbut sebagai lelaki! kudengar atasanmu yang di panggil Famrik, cukup tertarik denganmu, lebih baik kamu bersama dengannya."
biasanya Linda maju telebih dahulu untuk memberhentikan setelah mendengar ucapan ibu dan adiknya. tapi sekarang ia belum membuka mulutnya. ia sangat kecewa kepada Rendi.
Laki laki yang memiliki tangan bagus tapi tidak berusaha untuk maju biarlah kalau memilih pekeejaan sebagai petugas keamanan
tapi saat anaknya sedang sakit berat, ia bisa keluar untuk bermain?
apakah ia ada hati dan tanggung jawab?
disaat ini suster datang.
ia memandang Rendi sekilas dan berkata "keluarga pasien, kalian sudab mengutang biaya 200 juta rupiah. kalau hari ini tidak dibayar lagi dan tidak. membayad 400 juta maka pihak rumah sakit akan menghentikan memberikan obat kepada pasien."
tanpa menunggu Linda membuka suara, Rendi mengangguk dan berkata "aku akan membayarnya hari ini."
ia melirik sekilas kearah anaknya yang berbaring pucat dan tertidur di dalam ruang inap. selain sakit hati, tidak ada hal lain yang bisa ia kerjakan.
"cepat kalau sore ini belum membayar maka pemberian obat untuk pasien akan diberhentikan."suster melihat remeh kearah rendi.
setelah kepergian suster Amelia berteriak "pengecut, berani berjanji hari ini membayarnya?apakah kamu ingin anaku bermohon mohon kepada orang untuk meminjam uang?sungguh tidak tahu malu!"
__ADS_1
Lissa membali bola matanya dan berkata kepada Linda. "Kak saat perjaanan kesini aku telah menghubungi Famrik, seharusnya sebentar lagi tiba, adanya ia sedikit lagi penyakit Kiki terobati."
Linda baru ingin mengocehi Lissa, terdengar suara langkah kaki dari belakang.
lelaki itu adalah Famrik berusia 30 tahun lebih dengan gaya orang sukses. ia adalah manager divisi pemasaran perusahaan tongjia dan dia juga atasan Linda.
untuk mengapa Rendi begitu mengetahui dan tidak peduli, karena ia juga adalah karyawan elektronik tongjia.
hanya saja orang itu adalah manager sedangkan ia hanya petugas keamanan yang bertugas untuk menjaga pintu.
Famrik langsung mengabaikan Rendi dan menyapa kepada Amelia dan Lissa. ia terus menatap linda dengan lembut dan berkata "Linda,Lissa telah memberi tahu kondisi Kiki secara singkat, Kiki anak perempuan yang begitu imut, tersiksa karena penyakit sungguh membuat orang merasa kasihan. mengapa kamu memberitahuku masalah ini?"
Linda berkata dengan pelan "maaf pak, ini adalah masalah pribadiku tidak perlu merepotkan anda."
"kamu tidak perlu sungkan kepadaku,kamu adalah bawahan kesukaanku.juga merupakan teman yang cukup baik bagiku masalahmu tentu saja masalaku!" ujar Famrik dengan nada 'mengomel' "kudengar dari Lissa harus membayar lagi biaya rumah sakit, berapa banyak?"
"enam ratus juta" ujar Lissa terlebih dahulu.
Famrik tersenyum senang dan berkata kepada Linda "Linda aku bantu kamu dulu bayar enam ratus juta anggap aja aku meminjamkannya kepadamu anggap aja ini masalah kecil"
Famrik memandang Rendi dengan wajah yang meremehkan
baginya Rendi hanyalah petugas keamanan kecil di kantornya bagaimana mungkin cocok dengan Linda yang begitu cantik.
benar, ia memang tertarik dengan Linda sejak lama.
Linda memang wanita cantik yang tidak terhitung banyak di kantornya. lelaki yang normal pasti akan tergiur kepadanya.
Tidak mungkin Linda tidak memahami pikiran Famrik kepadanya.
ia ingin menolak tetapi ia tidak berani menolak setelah ia melihat anaknya yang terbaring di ruang inap
Rendi merasakan tatapan semangat Famrik kepada istrinya. ia berkata dengan kesal sambil mengepalkan tanggannya "Tidak perlu aku akan membayar enam ratus juta ini."
sedangkan Linda marah. matanya memerah sambil berteriak "Rendi ini adalah nyawa anak kita. kamu tidak sayang nyawanya. aku sayang! kita sudah tidak punya uang lagi. sedangkan pak Famrik ingin meminjamkan uang enam ratus juta kepada kita mengapa kau ingin menolaknya? katakan kepadaku kenapa?"
kepalan Rendi semakin mengerat bahkan kukunya telah memasuki dagingnya. hanya saja ia tidak dapat merasakan kesakitan.
saat ini ada rasa tidak berdaya yang memasuki hatinya!
Famrik menatap sekilas kearah Linda dan Rendi, seketia ia muncul ide lagi, ia berkata "Linda, sepertinya kamu tidak memerlukan lagi bantuanku lagi. kalau begitu aku pergi dulu"
"Pak Famrik" teriak Linda pelan.
Famrik melangkah kearahnya dan melangkah besar meninggalkan ruang inap. ia sudah mengira bahwa Rendi dan Linda tidak bisa mengeluarkan enam ratus juta saat ini jadi dia sangat percaya diri.
ia keluar dan diam diam mengeluarkan 2 juta rupiah kepada suster "orang tua kiki tidak dapat uang pinjaman kamu nanti boleh mengurus mereka untuk mengurus administrasi rumah sakit.!"
suster tersenyum senang dan mengangguk setelah melihat jumlah uang yang diberikan.
__ADS_1