Ternyata Suamiku Milyader

Ternyata Suamiku Milyader
episode 14


__ADS_3

Pelayan wanita itu mulai sedikit ragu, tapi setelah ia melihat raut wajah wanita kaya itu, ia akhirnya menoleh kearah Rendi dan menunjuk anak wanita itu. la berkata, "Adik itu yang memilih ini terlebih dahulu. Lebih baik kalian memilih pakaian yang lain."


"Padahal Kiki kita yang melihat terlebih dahulu. Mengapa kamu bisa berbohong seperti itu? Jangan-jangan kamu mengira mereka lebih banyak uang jadi mereka adalah pelanggan, sedangkan kita bukan?" Lissa memang adalah orang yang gegabah.


Pelayan itu menaikkan sudut bibirnya dan berkata dengan cuek. "Pelanggan juga harus dibagi tingkatnya. Mereka membeli enam pakaian sekaligus, kalau kamu bisa melakukannya juga, tentu aku juga akan berdiri di pihakmu."


Lagipula telah melanggar kata-kata hatinya, jadi pelayan itu juga mulai terbuka.


Lissa mereka terlihat tidak memiliki kemampuan untuk membeli, bagaimana mungkin bisa dibanding dengan wanita kaya itu.


Berdiri di pihak wanita kaya itu, ia bisa mendapat keuntungan yang lebih banyak.


Wanita itu tertawa senang dan menyindir berkata, "Kalian dengar atau'tidak? Aku bisa sekaligus membeli enam pakaian, apakah kamu bisa? Tidak ada uang, tidak mengungkit banyak permintaan. Ingin mendapat pelayanan yang lebih banyak, lihat dulu dompet sendiri."

__ADS_1


"Untuk apa banyak omong kosong dengan mereka, terlihat mereka sama sekali tidak sanggup untuk membeli, jadi sengaja datang untuk mencoba." ujar seorang pria dewasa yang merendahkan Rendi mereka.


"Pelayan, dengar atau tidak? Mereka sama sekali tidak sanggup untuk membelinya. Seperti orang-orang yang sengaja memakai pakaian mahal untuk memuaskan jiwa mereka, kalian seharusnya tidak membiarkan mereka masuk untuk mempengaruhi suasana hati pelanggan asli." ujar wanita kaya itu sambil tertawa dingin.


Lissa sangatlah kesal.


Meskipun keluarganya tidak terhitung kaya, tapi tidak semiskin hingga mereka tidak bisa membeli pakaian yang senilai beberapa juta.


Wanita kaya ini begitu merendahkan orang-orang, bagaimana mungkin ia bisa menahannya.


Enam set pakaian keatas?


la sungguh tidak sanggup untuk membelinya.

__ADS_1


Rian sanggup untuk membelinya, tapi ia ingin melihat lelucon Rendi, jadi ia terus berdiri diam disamping.


Untuk beberapa wanita yang lain juga persis dengan Lissa. Mereka masih sanggup membeli satu dua set pakaian, sepertinya tidak mungkin untuk membeli lebih.


Hal yang terpenting adalah mereka sengaja mencari masalah dengan Rendi, juga tidak berkaitan dengan mereka.


"Sendiri tidak memiliki kemampuan seperti itu, masih saja ingin membawa Kiki ke tempat seperti ini. Sekarang lihatlah, kamu malu kan." Lissa melampiaskan amarah kepada Rendi, setelah melihat pelayan itu sedang membungkus pakaian yang disukai Kiki.


Baginya, Kakak iparnya memang adalah orang yang tak berguna, merupakan tempat pelampiasan amarah.


"Apakah aku sudah menyuruhmu untuk membungkusnya? Bahkan anakku belum mencobanya, untuk apa kamu membungkusnya?" ujar Rendi kepada pelayan tanpa mempedulikan Lissa.


Tidak membahas tindakan wanita kaya itu terlebih dahulu, tapi sikap pelayan itu sungguh membuatnya merasa jijik.

__ADS_1


Apalagi Kiki menyukai pakaian itu. Sebagai seorang Ayah yang memiliki kemampuan untuk memuaskan keinginan anak, ia tentu tidak akn membuat anaknya kecewa.


"Mencoba lagi? Jangan-jangan kamu seperti apa yang dikatakan wanita itu, demi memuaskan jiwa, sengaja datang untuk mencoba? Pak, bukan aku ingin menceramahimu. Apakah kamu tidak takut dapat membawa pengaruh buruk untuk anakmu?" pelayan itu menoleh kepala nya menatap rendi.


__ADS_2