
Rendi menatap wanita kaya itu sekilas, baru saja ingin mengeluarkan telepon menghubungi Alex, lalu ia melihat seorang pria botak mendekatinya.
"Ternyata Pak Calvin yang datang." Pria dewasa itu langsung mendekati si botak itu dengan senyuman.
Si botak itu melirik pria dewasa itu sekilas, sama sekali tidak menyapa balik dan berjalan menuju Rendi.
Pria dewasa itu seketika canggung, tidak mengerti apa yang harus ia lakukan.
"Siapakah ia, sayang?" tanya wanita kaya itu berkerut alis sambil bertanay dengan suara pelan. Suaminya juga merupakan orang yang memiliki koneksi luas. Tapi siapa sangka kalau si botak itu tidak memberi muka untuk suaminya, sehingga ini cukup membuatnya kesal.
"Calvin alias Direktur pemilik plaza ini. Di belakangnya ada mendapat bantuan dari Perusahaan Wijaya." ucap pria dewasa itu pelan.
Wanita kaya itu mengangguk, ternyata orang itu merupakan tokoh besar, pantas tidak memberik muka untuk suaminya.
Tidak perlu bilang Perusahaan Wijaya, bahkan mereka sangat susah untuk datang ke plaza ini, demi menyewa sesuatu.
"Jangan-jangan ia juga datang untuk membeli pakaian anaknya?" ucap wanita kaya itu curiga sambil melihat kepergian Calvin ke kasir.
"Seharusnya iya." Pria dewasa itu mengangguk dan saat ini Calvin telah tiba dihadapan Rendi.
__ADS_1
"Tuan Muda Rendi, ini benar-benar dirimu. Kukira aku salah lihat." Si botak itu menatap Rendi dengan hormat.
"Kamu adalah." Rendi menatap Calvin dengan bingung.
"Namaku adalah Calvin, merupakan penanggung jawab Thamrin Plaza." balas Calvin dengan sopan.
Beberapa hari yang lalu, Alex sudah mengumpul seluruh pejabat tinggi Perusahaan Wijaya untuk rapat bersama. Inti dari rapat ini bertujuan untuk mengumumkan masalah Rendi meneruskan warisannya dan menunjukkan berbagai foto Rendi, agar semua pejabat tinggi lebih hormat. Jangan mencari masalah dengan pemimpin mereka.
Sebagai penanggung jawab Thamrin Plaza, Calvin tentu juga menghadiri rapat kali itu.
Jadi melihat Rendi datang belanja di plazanya, ia terburu-buru datang untuk menyapa.
Tapi raut wajah pria dewasa itu seketika berubah setelah melihat Direktur plaza ini begitu menghormati pemuda yang ia tertawakan.
Apakah status orang itu, sehingga Calvin juga harus membungkuk untuk menghormatinya? Apakah ia merupakan tokoh besar di Perusahaan Wijaya?
"Oh, aku tahu." Rendi mengangguk. Setelah meneruskan warisan keluarganya, ia tentu mengetahui bisnis apa saja yang berada dibawah miliki Perusahaan Wijaya. Jadi ia sama sekali tidak terkejut kalau Calvin mengenalinya.
"Tuan Muda, ini merupakan kartu VVIP satu- satunya yang dimiliki Thamrin Plaza. Lain kali Anda boleh datang berbelanja dengan menggunakan kartu ini, bebas memilih apapun. Plaza kita akan mermbayar kepada pemilik toko di akhir bulan." ucap Calvin sambil mengeluarkan selembar kartu berwarna emas ungu kepada Rendi.
__ADS_1
Rendi menerima kartu itu dan bertanya, "Apakah aku bisa menggunakan kartu ini membeli seluruh pakaian di toko ini?"
"Boleh, hanya perlu menunjukkan kartu ini, Anda boleh membawa semua barangnya." Calvin mengangguk kepalanya. Kartu VVIP ini melambangkan status seseorang. Awalnya dirancang untuk menunggu kedatangan hari ini.
"Baik, kalau begitu tolong bungkus seluruh pakaian anak perempuan disini. Untuk pakaian anak laki- laki, disumbang saja ke panti asuhan." ujar Rendi.
Kedua pelayan itu tercengang dan membutuhkan waktu lama untuk tersadar kermbali.
Rendi tidak membawa kartu ATM, tapi kartu VVIP ini lebih berguna dari kartu ATM.
Saat seluruh karyawan plaza ini menerima pelatihan, diminta untuk mengingat selembar kartu VVIP itu dan menyuruh mereka tidak boleh menerima uang dengan menunjukkan kartu VVIP ini, walaupun harga barang itu sangatlah mahal. Biasanya di setiap area plaza ini akan memasang video kartu VVIP ini, sehingga mereka sangat mengingat ini.
"Mengapa kalian masih diam disana? Cepat bungkuslah!" Calvin menegur pelan kepada dua pelayan yang terdiam disana.
Mereka berdua reaksi kembali dan segera membungkus seluruh pakaian anak perempuan, bahkan kasir pun ikut serta membantu mereka membungkus, setelah selesai menghitung total pembelian.
Sedangkan Calvin mengeluarkan teleponnya untuk menyuruh orang membawa pakaian anak laki-laki ke panti asuhan.
Saat tatapan Rendi pelan-pelan teralihkan kepada sepasang suami istri itu.
__ADS_1