
pelayan toko itu langsung membungkus pakaian anak perempuan itu dengan cepat dan jumlahnya sebanyak 20 pasang.
pelayan toko yang awalnya meremehkan Rendi itu pun sibuk meminta maaf kepadanya:" tuan, maafkan aku, aku meminta maaf atas sikapku tadi. aku, aku terlalu meremehkan orang lain."
Rendi lalu mengalihkan padangan kepada pelayan berambut pendek itu dan berkata :" terserahmu saja, suruh orang untuk mengantarkan semua ini ke kediamanku sore ini."
"terimakasih tuan Rendi, silahkan beri aku alamat rumahmu. aku akan segera mengantarkannya kesana." kata pelayan wanita itu sambil meminta maaf.
dia bisa mendapatkan komisi sekian juta dari pembelian kali ini, wajar saja kalau dia bersemangat.
setelah Rendi memberikan alamat, dia lalu membawa Kiki pergi kearena permainan anak anak yang ada dilantai 1."
Lissa merasa sangat curiga, dia lalu segera mengejar Rendi dan Kiki setelah berpamitan dengan Rian dan beberapa orang lainnya.
" kakak ipar, bagaimana kamu bisa mengenal direktur Calvin?" sikap Lissa berubah drastis dan ini merupakan kali pertama ia tersenyum kepada Rendi.
"aku tidak mengenalnya, namun dia mengenalku." kata Rendi kepada adik iparnya itu dengan tenang.
__ADS_1
mendengar ini, Lissa pun melototinya dan berpikir kalau dia sedang memberitahu orang lain juga kalau direktu Calvin juga sangat ingin mendapatkan kepercayaannya kan?
meskipun dia sangat mengihina kepercayaan diri Rendi, namun dia tidak langsung mengatakan itu karena dia masih memiliki tujuan lain.
"oh iya, kakak ipar, aku ingin membeli sebuah baju, namun harganya sekitar 40juta. itu terlalu mahal bagiku. apakah kamu boleh meminjamkan kartu VVIPmu untukku?" tadinya Lissa mendengar jelas kalau kartu VVIP yang diberikan Calvin kepada Rendi bisa digunakan untuk membeli barang apapun disini tanpa membayarnya.
"ambillah." Rendi lalu memberikan kartu VVIP itu kepada Lissa, semua biaya yang telah digesek menggunakan kartu VVIP itu akan ditagih pada akhir bulan. jangankan 40juta, dia juga tidak menghiraukannya walaupun Lissa menghabiskan 400 juta. siapa suruh Lissa merupakan adik iparnya.
"terimakasih kakak ipar." Lissa pun segera mengambil kartu VVIP itu, lalu mencium Kiki dengan perasaan yang senang.
"Kiki, tante mau pergi beli baju dulu."
setelah Lissa pergi membeli baju impor bermerek dari Perancis yang tidak sanggup beli itu, dia pun tidak langsung mengembalikan kartu VVIP itu kepada Rendi. melainkan membawa kartu itu, lalu pergi ke perusahaan ibunya untuk mencari ibunya.
"ibu, lihatlah baju ini, cantik kan?" ketika Amelia Wang keluar, Lissa pun memamerkan baju yang ia kenakan itu dengan bangga.
Amelia menatap baju yang dikenakan Lissa dan berkata dengan terkejut :" ini adalah baju merek Channel yang diimpor dari Perancis itu kan, harganya sekitar 40jutaan, dari mana kamu mendapat uang sebanyak itu?"
__ADS_1
" gratis loh." kata Lissa kepada ibunya.
" gratis? apakah kamu bercanda?" kata Amelia.
" karena aku ada ini." Lissa lalu mengeluarkan kartu VVIP itu.
" apa itu?" tanya Amelia sambil menatap kartu itu.
"ini adalah kartu VVIP thamrin plaza, dengan kartu ini, kamu bisa membeli seluruh barang di plaza itu dengan gratis." kata Lissa.
Amelia mengerutkan kening dan sedikit tidak percaya pada putrinya sendiri.
Thamrin plaza merupakan salah satu plaza terbaik di kota Yuzoda. meskipun putrinya merupakan mahasiswa yang sudah tingkat akhir, namun dia masih merupakan seorang pelajar. bagaimana bisa dia mendapatkan kartu itu?
" sebenarnya ini adalah milik Rendi, aku juga tidak tahu keberuntungan apa yang sedang ia alami. dia bahkan kenal dengan direktur dari Thamrin plaza yang bernama Calvin itu. direktur Clavin memberikan kartu ini padanya dan aku lalu memintanya pada Rendi." kata Lissa.
"hm, kalau begitu, kamu tidak perlu mengembalikannya lagi, dia hanyalah seorang pria brengsek. bagaimana mungkin dia bisa memiliki kartu VVIP?" kata Amelia sambil menganggukkan kepala dan langsung mengambil ahli kuasa kartu VVIP itu.
__ADS_1
" aku juga berpikir seperti itu. ibu, ayuk pergi berbelanja." kata Lissa dengan senang.
Amelia menganggukkan kepala dan segera pergi ke Thamrin Plaza bersama putrinya itu.