Ternyata Suamiku Milyader

Ternyata Suamiku Milyader
episode 15


__ADS_3

"Darimana kamu melihat diriku tidak bisa membeli pakaian itu? Bukankah mereka hanya membeli enam set pakaian, apakah kamu begitu merendahkan kita?" Rendi sudah agak kesal.


"Bagaimana, anak muda? Kamu ingin bermain denganku?" Pria dewasa itu menatap Rendi kesal.


Melihat Rendi yang kesal, ia merasa sangat puas. Rendi menoleh kepalanya dan menyipitkan matanya melihat pria dewasa itu. "Oh, bagaimana kamu ingin bermain?"


Lissa menarik tangan Kiki dan berkata, "Ayo, Kiki. Tante bawa kamu beli di toko lain. Kita beli dua set."


Biarkan Rendi yang memalukan dirinya saja.


Apakah ia tidak melihat kemampuannya?


Sepasang suami istri ini terlihat kaya dan kamu masih ingin bermain dengan mereka?


Apa yang kamu gunakan untuk bermain dengan mereka?


Bukankah ia bodoh?


"Benarkah, Tante?" Kiki menatap Lissa bahagia.


Lissa mengangguk dan Kiki menarik tangan Rendi berkata, "Ayah, ayo kita pergi beli di toko lain dengan Tante."


Meskipun Kiki tidak mengerti percakapan antar orang tua, tapi ia bisa merasakan bahwa mereka sedang bertengkar dengan Ayahnya.


"Kak Rendi, apaka kamu sungguh ingin membiarkan Kiki melihat dirimu dipermalukan? Kamu boleh dipermalukan, tapi kamu jangan membiarkan Kiki melihat adegan ini, baik?" Lissa seketika marah lagi, melihat Rendi yang begitu tekad.


"Kiki menyukai pakaian ini. Kalau aku tidak bisa memuaskannya, bagaimana aku berhak menjadi Ayahnya?" Rendi menggandeng tangan Kiki dan berkata kepada Lissa.

__ADS_1


"Kamu juga ingin belajar mereka untuk membeli enam set pakaian? Padahal pelayan itu sudah menunjukkan maksudnya. Apakah kamu tidak mengerti?" Lissa sungguh kesal.


Kalau Rendi bukanlah Kakak Iparnya, ia tidak akan mengurus begitu banyak.


la selalu merendahkan Kakak Iparnya dan merasa ia sama sekali tidak berusaha. Tapi bagaimanapun, Kakaknya sudah menyukainya dan Kiki telah berusia tiga tahun, tentu Lissa tidak akan membiarkannya dipermalukan orang lain.


"Anak muda, sebaiknya kamu dnegar nasehat adik iparmu. Lebih baik menilai kemampuanmu terlebih dahulu. Kalau tidak setelah dipermalukan olehku, kamu tidak berani keluar." Pria dewasa itu sangat puas melihat Lissa yang ketakutan.


"Benar, jangan memaksa diri kalau tidak ada kemampuan. Ada satu kalimat yang bilang bergaya kalau ada kemampuan. Kalau tidak ada berarti itu sungguh bodoh." ujar wanita kaya itu penuh sindiran.


Ia menoleh lagi kearah pelayan. "Seperti orang yang memaksa diri, lebih baik diusir saja, agar tidak mempengaruhi suasana hati pelanggan."


Pelayan itu mengangguk kepalanya dna berkata kepada Rendi. "Sebaiknya kalian cepat pergi. Jangan menganggu pelanggan kita."


"Kiki, apakah kamu menyukai pakaian disini?" Rendi tidak peduli pelayan itu dan bertanya kepada anaknya.


Kiki mengangguk. Rendi tersenyum dan berkata, "Kalau begitu, Ayah belikan semuanya untukmu. Kamu setiap hari pakai pakaian yang berbeda."


Lissa tercengang. Kakak Iparnya ini sudah gila.


Membeli semuanya?


Kamu kira dirimu adalah orang kaya?


"Kak Rendi, kalau kamu masih tidak ingin mendengar nasehatku, aku akan langsung menghubungi Kakakku!" Lissa sangatlah kesal dan segera mengeluarkan teleponnya untuk menghubungi Kakaknya.


"Kak Rendi, kalau kamu masih tidak ingin mendengar nasehatku, aku akan langsung menghubungi Kakakku!" Lissa sangatlah kesal dan segera mengeluarkan teleponnya untuk menghubungi Kakaknya.

__ADS_1


"Hebat juga kamu, anak muda, Aku memberikan nilai sempurna untuk dirimu. Oh iya, kalau kamu sungguh bisa membeli seluruh pakaian di toko ini, aku akan berlutut untuk meminta maaf kepadamu." Pria dewasa itu terbahak-bahak setelah mengatakan itu.


"Aku juga akan berlutut sambil menjilat sepatumu." ujar wanita kaya itu.


Gaya pakaian Rendi ini terlihat sangat murah, hanyalah karyawan biasa yang menerima gaji. Bagaimana mungkin sepasang suami istri itu menganggapnya.


"Aku takut kalian berdua akan nangis." Rendi tertawa dingin, lalu menoleh kearah pelayan wanita yang berambut pendek yang tidak berbicara sejak tadi.


"Hitung total harga seluruh pakaian di toko kalian. Aku akan membeli semuanya." ujar Rendi.


"Hah? Sungguh membeli semuanya?"Pelayan rambut pendek itu terkejut dan tak percaya kepada Rendi.


"Aku telah menghitung semuanya, ditambah beberapa set pakaian yang dipilih Nyonya itu, totalnya seratus empat juta rupiah. Maaf Anda ingin membayar via tunai atau kredit?" Pelayan tadi itu meremehkan Rendi.


Rendi menoleh kearah pelayan berambut pendek. "Seratus empat juta?"


Pelayan itu menganggukan kepalanya.


"Baik, aku bayar via kartu, semuanya hitung untukmu." ujar Rendi dan berjalan menuju kasir.


Pelayan berambut pendek itu baru tersadar kembali dan mengikuti jejaknya.


"Sial, apakah ia sungguh sanggup untuk membelinya?" Sepasang suami istri ini tercengang. Anak muda ini sama sekali tidak terlihat seperti bisa menghabiskan ratusan juta untuk membeli pakaian.


Lissa mereka juga membuka mata mereka besar. Tatapan Rendi yang pasti juga membuat mereka tidak tenang.


"Tuan, Anda membeli begitu banyak, aku bisa memberi diskon untukmu. Anda hanya perlu membayar seratus juta." Pelayan itu menahan semangat di dalam hatinya.

__ADS_1


Rendi mengangguk, tapi saat ia mengeluarkan dompetnya, tiba-tiba ia menyadari bahwa ia meninggalkan kartu ATM utamanya di rumah.


Oh Tuhan, tidak begitu sial kan?


__ADS_2