Ternyata Suamiku Milyader

Ternyata Suamiku Milyader
episode 16


__ADS_3

"Ada apa? Apakah terlalu membayar diri? Mohon Anda segera bayar!" Pelayan pelayan itu setelah melihat Rendi terdiam melihat dompetnya.


Sejak awal, ia memang tidak percaya Rendi bisa membayar seratus juta itu. Saat ia melihat tidak adanya kartu ATM di dompet Rendi. sehingga ia mulai menertawakan Rendi.


Sepasang suami istri itu akhirnya juga bisa menghela nafas.


Sebenarnya tatapan Rendi yang sangat percaya diri yang benar-benar mereka berdua.


Mereka telah mengeluarkan kata-katanya, kalau Rendi bisa membeli semuanya pakaian di toko ini, maka mereka akan berlutut untuk meminta maaf dan satunya lagi berlutut sambil menjilat sepatunya.


Meskipun akhirnya mereka tidak mungkin mengabulkan janji mereka, tapi itu juga sangat memalukan.


"Aduh, sepertinya kebanyakan dia. Jangan- jangan menganggap kartu identitasmu sebagai kartu ATM. Kalau begitu, sungguh memalukan." Seorang pria dewasa itu


"Tadi kita telah mengingatkanmu, bahwa orang yang berkemampuan untuk bergaya baru keren, sedangkan kamu sekarang itu memalukan." ujar wanita itu menyindir.

__ADS_1


"Kiki, ayo kita pergi." Lissa sudah tidak kuat untuk mengocehinya. la tidak ingin lagi melihat Kakak Iparnya, sangat memalukan.


"Aku ingin bersama dengan Ayah." Kiki menggelengkan kepalanya dan menarik ujung pakaian Rendi, tidak ingin pergi.


Lissa sungguh kasihan kepada Kiki. la hanay bisa melototi Redni dengan kesal. "Kak Rendi, kapan kamu ingin bawa Kiki pergi setelah dipermalukan begitu lama?"


"Astaga, mungkin saja Kakak Iparmu suka tersiksa dan sangat suka dipermalukan orang." Rian pun juga ikut menyindir.


la sungguh bahagia selama dua hari ini.


Setelah ia berpura-pura bantu mendapatkan bisnis besar untuk Amelia, sikap Lissa kepadanya beberapa hari ini sungguh berubah banyak.


Jadi bagi dirinya, sama sekali tidak sudah untuk mendapat Lissa, paling hanya membutuhkan beberapa waktu lagi.


"Ayo pergi Lissa. Kakak Iparmu sungguh tidak tertolong lagi. Jangan membiarkan banyak orang yang mengira kita dátang bersama dengannya." ucap seorang wanita yang menggelengkan kepala sambil menatap remeh.

__ADS_1


Wajah Lissa sangatlah panas. la sama sekali tidak peduli kalau Rendi di permalukan, tapi ia peduli kepada Kiki.


Meskipun Rendi sangat tidak berguna, tapi satu keluarganya sangat menyukai Kiki, Kiki tidak mau pergi, ia juga kurang baik untuk membawa Kiki pergi.


"Tuan, apakah Anda lupa untuk membawa kartu ATM?" tanya pelayan itu dengan curiga.


"lya, tunggu sebentar. Aku akan menyuruh orang membawakan kartu ATM untukku."


Anaknya menyukai pakaian itu, maka ia harus membelikan pakaian itu. Itu sudah tidak berkaitan dengan ia dipermalukan atau tidak.


"Apakah kamu bodoh, Rachel? Kamu masih percaya kepada omong kosongnya?" sindir pelayan pertama.


Pelayan yang dipanggil Rachel itu hanya bisa tertawa pahit. Sebenarnya ia juga tidak percaya lagi kepada Rendi.


Tapi ia juga harus menjaga prinsip pekerjaannya. Meskipun Rendi akhirnya tidak membeli apapun, ia juga tidka akan mengatakan apapun.

__ADS_1


"Tuan, kalau Anda masih belum membayar, mohon Anda segera tinggalkan tempat ini. Jangan mempengaruhi bisnis kita." ujar pelayan pertama dengan cuek.


"Berpura-pura kaya akan di samber petir. Lebih baik sekarang Anda keluar, mungkin masih bisa menjaga mukamu, Jangan menunggu nanti banyak orang yang datang melihat, mungkin saja Anda nanti lebih memalukan." wanita tua itu menggelengkan kepalanya. Setelah melihat Rendi yang 'sebenarnya', ia juga telah hilang ketertarikannya.


__ADS_2