
"Maksudmu Rian?" tanya Amelia.
Lissa mengangguk kepalanya dengan kurang pasti.
"Sepertinya bukan ia, lagipula Manajer Wang juga tidak begitu ramah kepada Rian." ujar Amelia sambil menggelengkan kepalanya.
"Siapa lagi kalau begitu? Kurasa orang yang bisa membantu kita untuk berbicara di hadapan Pengusaha Terkaya Yuzoda, juga memiliki posisi yang cukup tinggi. Tapi kita tidak pernah menemukan orang yang seperti,itu." Lissa juga mulai curiga.
Mereka berdua tenggelam dalam pemikiran mereka, hanya saja mereka tak pernah terpikir bahwa Rendi yang menolong mereka.
Bagi mereka, Rendi adalah orang yang tidak berguna, tentu tidak mungkin ada kaitan dengan Pengusaha Terkaya Yuzoda.
Kalau harus dikaitkan hubungan mereka, maka marga mereka berdua sama alias bermarga Lu.
__ADS_1
"Baik, tidak perlu peduli itu. Mari kita bahas lagi setelah menandatangani surat perjanjian. Lalu kita baru tanya kepada Manajer Wang siapakah orang itu."
Saat ini Rendi ke ruang inap Kiki setelah selesai makan mie. Melihat wajah Amelia mereka yang begitu ceria, ia telah tahu bahwa pihak Perusahaan Wijaya telah menghubungi mereka.
"Rawat Kiki dengan baik. Kita pergi membahas pekerjaan dengan Perusahaan Wijaya." Suasana hati Amelia sangat baik, bahkan nada bicaranya terdengar lebih baik dari sebelumnya.
Rendi mengangguk. Amelia mereka baru saja ingin pergi, lalu telepon Lissa berdering. Setelah mengangkat, ia langsung berkata, "Ibu, tunggu sebentar lagi. Rian datang menjenguk Kiki. La telah tiba di rumah sakit."
Rian dengan cepat membawa satu keranjang buah yang kecil masuk. Itu adalah buah naga, anak kecil juga suka makan itu.
Ini sama sekali tidak aneh. Siapa sangka kalau sekretaris pribadi Alex akan begitu hormat kepada Rendi. la persis dengan Amelia mereka, berpikir bahwa identitas Rendi mungkin saja tidak biasa.
Tapi Rian tidak Berbicara, begitupula dengan Rendi.
__ADS_1
la tahu kalau Rian bukan sengaja datang untuk menjenguk anaknya, jadi tidak perlu kasih kasih padanya.
"Oh iya, Rian, apakah kamu meminta bantuan Ayahmu? Tadi Manajer Wang Perusahaan Wijaya menghubungi Ibuku, menyuruh kita kesana untuk membahas kerja sama kita dan ingin membeli produk Ibuku." tanya Lissa tiba-tiba. la masih merasa bahwa Rian lebih mungkin untuk membantu Ibunya.
"Hah?" Rian terkejut pelan dan berpikir bagaimana mungkin Ayahnya sehebat itu. Apalagi Ayahnya mungkin saja bisa mengomelinya karena dirinya meminta bantuan.
"Aku sudah bilang kemarin Manajer Wang tidak memberi muka kepada Rian, jadi mungkin saja orang lain yang membantu kita." kacamata Amelia setelah melihat reaksi Rian.
Lissa juga mengangguk dan menatap sedikit kecewa kepada Rian.
"Tante Amelia, Manajer Wang telah menghubungimu? Gerakan Ayahku cepat juga. Baru saja siang ini aku meminta bantuannya dan ia bilang akan mencari waktu untuk bertemu dengan Manajer Wang. Kukira ia hanya bercanda denganku." Rian ragu untuk sewaktu-waktu, lalu mengakuinya.
Lagipula ia juga tidak takut terbongkar. Meskipun ia akan terbongkar kali lain, ia juga telah mendapatkan Lissa saat itu, jadi tidak perlu dipedulikan lagi.
__ADS_1
Hal yang terpenting adalah ia curiga Perusahaan Wijaya memang sudah ingin bekerja sama dengan Amelia, jadi menghubungi Amelia hari ini. Kalau seperti ini, rahasia ini tidak akan terbocorkan.
Kebetulan Lissa curiga ia yang melakukan, lalu ia sekaligus ia mengambil kesempatan ini, sehingga ia semakin dekat untuk mendapatkan Lissa.