
melihat Rendi sedang menatap mereka, ekspresi wajah kedua suami istri itu pun berubah drastis.
ini bukanlah merupakan masalah gengsi atau tidak bagi Rendi.
yang mereka khawatirkan adalah apa sebenarnya identitas asli Rendi dan bagaimana caranya membalas dendam kepada mereka.
dia akan sangat mudah membalas dendam kepada mereka jikalau dia memang orang penting di perusahaan Wijaya.
bahkan jika dia membocorkan sedikit tentang masalah ini, maka sejumlah orang yang ingin mendapatkan kepercayaan Rendi akan langsung mencelakai mereka hingga tidak tersisa apapun.
" aku masih ingat kalau tadinya kalian berdua berkata jika aku bisa membeli semua baju yang ada disini, kalian akan berlutut dan meminta maaf kepadaku dan bahkan kalian akan menjilat sepatu juga kan." kata Rendi sambil tersenyum.
pasangan suami istri itu pun gemetaran. apa yang mereka khawatirkan akan segera terjadi.
"tuan Rendi, maaf, kami tidak bisa melihat dengan baik, semoga kamu bisa memaafkan kami." kata pria paruh baya itu sambil meminta maaf kepada Rendi. dia tidak tahu harus dimana lagi dia meletakkan wajahnya itu.
"tuan Rendi, kami tahu kalau kami bersalah. kami tidak seharusnya merebut pakaian dengan putrimu, semoga kamu bisa memaafkan kami demi tidak mempengaruhi anakmu." kata wanita kaya itu dengan wajah yang pucat.
__ADS_1
tidak tahu seberapa besar pengaruh bagi putrinya jika melihat wanita itu menjilat sepatu Rendi hari ini.
lagipula jika Rendi berhasil membeli semua pakaian ditoko ini, pasutri itu pun tidak lagi bertaruh. kemungkinan mereka akan dihina oleh Rendi lalu mereka pergi ketoko lain dan membeli pakaian putri mereka disana.
mereka pun tidak lagi berani menyombongkan diri ketika tahu kalau Rendi kemungkinan besar merupakan orang penting dari perusahaan Wijaya.
perusahaan Wijaya adalah perusahaan terbesar di kota Yuzoda. pemilik perusahaan Wijaya bernama Alex. dia bahkan masuk kedalam daftar orang kaya sedunia dan memiliki posisi teratas.
mereka tidak berani menganggu orang penting seperti dia.
apakah mereka harus ketakutan seperti itu meskipun Rendi memang kenal dengan bos plaza itu?
namun Lissa juga merasa penasaran, kenapa Rendi yang merupakan seorang brengsek bisa berkenalan dengan orang kaya seperti Calvin.
" berani beraninya kalian merebut barang dengan tuan putri kecilku? siapa yang memberi kalian keberanian?" Calvin langsung mengerti dan seketika memandang mereka dengan wajah penuh amarah.
Tuan Putri kecil!
__ADS_1
apakah pria muda ini adalah anak keturunan dari pemilik perusahaan Wijaya?
ya Tuhan!
mereka pun memikirkan itu dan ekspresi wajah mereka semakin berubah.
" direktur Calvin, maaf, kamilah yang tidak bisa melihat jelas identitas tuan Rendi, kami layak untuk mati!" kata pria itu dengan wajah yang sedih dan penuh bersalah.
dia juga memiliki perusahaan kecil dan sedikit kaya. namun didepan orang kaya besar seperti Calvin, dia hanya bagaikan butiran debu.
bahkan Calvin juga merupakan bagian dari perusahaan Wijaya.
"minggirlah, semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi kalian agar kalian tidak meremehkan orang lain lagi kedepannya." kata Rendi sambil menatap anak perempuan pasutri itu. umur anak perempuan mereka tidak beda jauh dengan putrinya. disaat ini, anak perempuan itu hanya memandang kedua orangtuanya dengan kebingungan.
perkataan ibunya sedikit menggerakkan hati Rendi. Rendi tidak ingin membuat orang tuanya malu didepan perempuannya yang begitu imut itu dan memberikan pengaruh yang buruh pada anak perempuannya itu. anak
" terimakasih tuan Rendi, terimakasih direktur Calvin!" mereka merasa lega ketika Rendi tidak lagi mempeributkan masalah ini dan mereka langsung pergi dengan cepat.
__ADS_1