Ternyata Suamiku Milyader

Ternyata Suamiku Milyader
episode 13


__ADS_3

"Lissa, Kakak Iparmu kaya juga. Kudengar toko pakaian anak-anak ini paling murah juga membutuhkan beberapa juta." ujar seorang wanita.


"la sama sekali tidak kaya!" Rian tertawa dingin dan menyindir, "Kudengar ia berhutang sebanyak satu miliar lebih, apalagi ia tidak pergi bekerja dan menggunakan gaji Kakak Lissa untuk berlangsung hidup."


"Hah? Lelaki tidak pergi bekerja dan dirawat oleh seorang wanita?" ujar seorang wanita dengan terkejut.


"Ada lelaki seperti ini, sungguh tak berguna." ujar beberapa orang lain dengan merasa kesal, sambil menggelengkan kepalanya melihat punggung kepergian Rendi.


Apalagi kedua wanita itu memikir di dalam hati, ia mungkin sudah menendangnya keluar kalau suami mereka begitu tak berguna.


Rendi sedikit kesal mendengar ini dan raut wajahnya tidak terlihat baik.


Biasanya Lissa akan menyindir beberapa kata saat tidak ada orang. Sebagai Kakak Ipar, Rendi sudah malas berurusan dengannya, tapi ini sangat keterlaluan untuk menuduhnya di depan umum.


"Ayah, aku ingin pakaian itu." ujar Kiki sambil menunjuk pakaian anak-anak yang berwarna putih, saat Rendi ingin mengatakan sesuatu kepada Lissa.


"Baik." Rendi menahan amarah dalam hatinya dan mengangguk, lalu berbalik badan berjalan menuju pakaian yang Kiki tunjuk.


"Tuan, ini adalah pakaian musim panas yang baru diimpor dari Italia, baru saja lusa kemarin tiba Bagaimana dicoba dulu untuk anak Anda?" Pelayan wanita itu langsung mengenalkan produknya.

__ADS_1


Rendi mengangguk. Pelayan itu mengambil pakaiannya dan bersiap untuk mermbawa Kiki coba pakai, lalu ia bertemu dengan sepasang istri yang mermbawa anaknya berusia tiga tahu lebih datang.


"Ibu, aku juga ingin pakaian itu." Anak perempuan itu juga menunjuk pakaian anak-anak berwarna putih yang diambil pelayan wanita itu.


"Mohon langsung bungkus pakaian itu untukku." ujar wanita itu langsung kepada pelayan itu.


Pelayan melirik sekilas kearah Rendi, la sedikit kesusahan.


Lagipula Rendi mereka yang melihat pakaian ini terlebih dahulu dan juga bersiap untuk memakainya.


"Ayah, aku juga ingin pakaian ini." Kiki melihat ada orang yang ingin merebut dengannya, seketika langsung menarik tangan Rendi dan diayunkan.


"Mencoba? Orang-orang yang miskin seperti kalian, tidak sanggup membeli dan sering datang mencoba, sehingga banyak pakaian menjadi sangat kotor." Wanita mendengus dan menilai Rendi dengan tatapan meremehkan.


Pakaian Rendi sangatlah biasa. Wanita itu semakin merasa orang yang seperti Rendi tidak mungkin bisa membeli pakaian anak-anak itu.


"Tidak coba pakai, bagaimana tahu cocok atau tidak?" ujar Lissa yang ikut masuk dengan tak puas.


Meskipun ia tidak menyukai Rendi, tapi ia tidak boleh melihat Kiki dihina begitu saja.

__ADS_1


"Buang saja kalau tidak cukup. Ada apa yang susah? Kalian harus mendirikan prinsip keuangan yang benar untuk anak sejak kecil. Maaf, sepertinya kalian juga tidak mengerti kehidupan orang kaya." Wanita itu menatap jijik kepada Lissa mereka.


Ini bisa disebut melatih prinsip keuangan yang benar untuk anak kecil?


Semua orang membuka matanya besar. Pikiran wanita ini sungguh berbeda.


Bukankah kamu sejak kecil melatih anak yang tak berguna?


"Kamu bawa anakku pergi coba pakaiannya." ucap Rendi kepada pelayan wanita itu.


ia sudah malas berbicara dengan wanita itu. Berbicara dengan wanita seperti ini, sama saja menghabiskan waktu.


"Kamu tanya ia ingin menjualkan itu kepadamu atau kepadaku? Wanita itu tertawa dingin dan menatap jijik Rendi.


Lalu ia berbalik badan dan berkata kepada pelayan. "Tadi kita telah membungkus lima set pakaian, sejumlah delapan puluh juta. Kalau kamu berani menjual pakaian ini untuknya, maka kita tidak jadi membeli lima set pakaian itu."


"Dan kita juga akan mengadu kepada Manajermu. Lihat Manajermu ingin menolongmu atau menjilatku." ucap wanita itu dengan sombong, lalu menoleh menatap Rendi.


Rendi tetap tenang, sedangkan Lissa mereka melihat kearah pelayan dan melihat apa yang dikatakannya.

__ADS_1


__ADS_2