
Pandu mengakhiri pembicaraan, mematikan teleponnya dan buang air kecil. Lalu kembali ke meja makan melanjutkan makannya yang belum selesai.
Dewi mendengar suara kursi di tarik.
Kelihatannya Pandu udah balik, batin Dewi.
"Hemm Pandu," ucap Dewi
"Ape," jawab Pandu sambil mengunyah makanan.
"Tadi siapa yang nelpon elu?" tanya Dewi
Dia hanya ingin tahu siapa yang memanggilnya sayang karena Dewi tidak ingin di duakan meski belum ada cinta diantara mereka.
"Cuma temen," jawab Pandu singkat
"Soalnya tadi gue denger lu ngomong sayang-sayang gitu,"
"Lu nguping ya? Kenapa emangnya kalo gue bilang sayang. Lu semburu? Hemm,"
"Ya gue gak mau aja lu selingkuh,"
"Haha ngaku aja lu cemburu. Dia itu temen cuma temen. Mo manggil sayang juga gak masalah kan karena emang ga ada hubungan apapun," jelas Pandu
"Ya tapi kalau di dengar orang lain jadi gak enak," ucap Dewi
Pandu melempar sendoknya ke atas piring
"Eh kunti, apa salahnya sih panggil sayang ke temen. Jangan bilang lu mulai protektif ya. Diantara kita tu gak ada cinta, jadi jangan ngatur-ngatur gue. Artis aja banyak kok bilang sayang ke temen lawan jenisnya. so what gitu loh yang penting kan gue gak ngapa-ngapain. Dah lah gue mau ke kamar," ucap Pandu meninggalkan ruang makan
Dewi tidak bisa bicara lagi, Karakter Pandu dari dulu tidak bisa di atur, suka membantah dan melawan.
Tak berapa lama Pandu datang lagi dan bilang kalau mereka tidak akan seranjang malam ini.
"Kita seranjang kalau ada bokap nyokap Kita oke, dah ya gerah mau mandi," Pandu beralih ke kamar
"Iya," jawab Dewi.
Bik Asih yang mendengar percakapan mereka tidak ingin ikut campur, dia hanya diam dan membantu Dewi mengangkat piring kotornya
"Non, mulai sekarang bibik panggil Non itu Nyonya aja ya," ucap Bik asih mencairkan suasana. Ia kembali lagi setelah dari dapur untuk membawa piring lainnya lagi
"Yah jangan dong bik, tetep aja panggil Non. Dewi terlalu muda untuk dipanggil nyonya hehe,"
"Yaudah deh terserah Non Dewi aja. Mejanya udah bibik bersihin non. Non bisa ke kamar kalau mau istirahat. Mau Bibik bantu gak non?" tanya bibik kemudian kembali lagi ke dapur
"Makasih bik, tapi Dewi bisa kok," jawab Dewi
__ADS_1
Ia pun bergegas menuju kamar, dihitungnya tiap langkah kaki. Lalu tangannya meraba dan meraih pintu. Tangannya menelusuri daun pintu kemudian membukanya.
"Heh kuntilanak, lu salah kamar," ucap Pandu
Dewi juga tidak tahu jika Pandu memilih kamar tamu. Rupanya Dewi menempati kamar utama yang ruangannya sangat besar.
"Ya sorry, lu kan gak bilang tadi kamar yang mana,"
Dewi keluar lagi dan menuju kamarnya sendiri. Dewi berjalan dengan tongkat untuk meraba lantai agar tidak tersandung. Beberapa langkah menuju kamar utama.
Ia sampai di depan kamar dan segera membuka pintu kamar. Ruangannya sejuk, padahal belum dinyalakan AC kamarnya, serta wangi parfum ruangan yang menyejukkan.
Langkahnya terhenti di depan cermin. Meraba cermin dan berharap suatu keajaiban terjadi padanya.
Alangkah nikmatnya orang-orang yang masih bisa melihat dengan normal. Mau apapun terasa hampa, semua gelap dan setiap berjalan kemanapun sangat tidak nyaman. Was-was jika di depannya ada batu atau tangga yang menghalangi. Meskipun ada tongkat tetapi Dewi belum terbiasa
Dewi meraba lagi pembersih wajah dan menghapus bedaknya dengan cairan pembersih wajah. Lalu beranjak ke lemari dan meraba lagi baju piyama miliknya. Setelah itu ia berjalan menuju tempat tidur.
Lalu meraba lagi ranjang dan terus meraba hingga meja nakas. Diambilnya remot AC yang tadi di letakkan di sana. Kemudian di arahkan ke depan tempat tidur.
Ting
Suara power on menyala dan mesin AC mulai berjalan. Lalu ia merebahkan tubuhnya yang lelah meski aktivitasnya tidak terlalu mengeluarkan keringat.
Hampa banget, mending dirumah Mama kalo sepi aku bisa cerita apa aja ke Mama atau Ayah. percuma aku nikah. Si Pandu ga bisa diharapin, dia bukannya nemenin malah asik dengan dunianya, batin Dewi
Tak berapa lama terdengar suara Pandu tertawa terbahak-bahak. Suaranya terdengar dia sedang berkomunikasi di telepon.
Di tutupnya kaca jendela itu tetapi suara Pandu makin terdengar sangat jelas. Pria itu berbicara di telepon dekat jendela kamarnya. Dewi menguping sedikit.
"Haha lu tu bisa aja jadi cewek. Serba bisa tau gak. Salut sih gue, tapi ya yang harus lu ubah tu sikap genit lu," ucap Pandu
"Kan genitnya cuma sama Elu Pandu sayang...., eh besok jangan lupa ya jam 8 pagi jemput gue," ucap seorang wanita yang suaranha di laundspeaker
Dewi bisa mendengar suara wanita itu membuatnya sedikit panas ketika mendengar kata sayang dan genit
"Ya cantik... besok gue jemput lu... emang mau kemana?"
"Ke kampus lah,"
"Oh kampus mana?" tanya Pandu Dewi masih mendengar pembicaraan mereka.
"UI sayang, astaganaga perasaan Lu udah nanya deh kok nanya lagi sih," ucap wanita di seberang telepon
"Haha sory.., emang udah masuk ya?" Pandu masih berbicara di telepon
"Nyerahin berkas doang kok,"
__ADS_1
"Nyerahin berkas doang kan abis tu pulang. Maulana juga kuliah disitu, kayaknya banyak deh yang kuliah di situ. Besok nongkrong dulu aja ma anak-anak ntar gue kabarin mereka biar sekalian kesana,"
"Wah boleh juga tuh,"
Seketika Dewi sedikit curiga, takut jika Pandu menganggap pernikahannya adalah sebuah permainan. Takut jika Pandu mengkhianatinya. Meskipun belum tumbuh rasa cinta setidaknya dia mencoba untuk tetap setia hingga rasa cinta tumbuh diantara keduanya.
Langsung saja Dewi menyela dengan berteriak dari arah kamarnya.
"Lu telpon sama siapa sih Ndu," tanya Dewi
"Temen," jawab Pandu singkat
Kemudian Pandu menutup jendelanya dan meneruskan perbincangannya di telepon.
Dewi kesal lantaran sikap Pandu yang langsung menutup jendela seakan-akan menghindarinya. Ia lalu keluar dan berjalan menuju pintu kamara Pandu tetapi terkunci.
"Pandu... buka... gue mau ngomong,"
"Ngomong apa sih ganggu aja," sahut Pandu
Pandu tidak langsung membukakan Akhirnya Dewi mengetuk pintu berkali-kali hingga pria itu membukakan pintu
Cek lek
Pandu membuka pintu dan langsung mengakhiri pembicaraan di teleponnya
"Nanti kita sambung lagi ya teleponnya," ucap Pandu laku menutup telepon
"Lu dari tadi teleponan sama siapa? Cewek kan?" tanya Dewi
"Ya cewek, tapi dia temen gue," ucap Pandu
"Siapa?"
"Emang kalau gue ngomong siapa trus lu mau apa? Lu mau bilang gue gak boleh temenan ma cewek? Telponan ma cewek gitu?" ucap Pandu
"Ya...ya boleh," ucap Dewi yang langsung menyadari akan sikapnya yang sedikit protektif. Sebenarnya Dewi cemburu hanya dia belum yakin akan kecemburuannya
"Tapi lu harus batasin waktu, jangan terus-menerus telponan ma dia, ini udah malem. Dan lagi lu muji dia cantik lah, trus tadi ngomong sayanglah. Gue panas dengernya," ucap Dewi yang akhirnya berterus terang.
"Astaga kuntilanak, bisa juga ya lu cemburu. Heh gua ga ada apa-apa sama Nesty. Tau sendiri kan di Sekolahan gue ma Nesty kayak gimana. Cuma temen," ucap Pandu
"Jadi dia nesty yang suka meluk-meluk elu. Pokoknya gue mau ikut kemana lu pergi, gue gak mau di tinggal sendiri di rumah,"
"Ah males ah, besok gue udah janji mau jemput Nesty. Dia udah gantiin hapenya Sabri yang gue rusakin, ya gue gak enaklah kalau nolak permintaan dia,"
"Jadi lu lebih milih jalan sama Nesty ketimbang sama gue?"
__ADS_1
"Udah deh gak usah kayak anak kecil. Gue tau diri dan gue tau status gue. Dah ah mau tidur, mundur lu entar kena pintu gue gak tanggung," ucap Pandu dan menutup pintunya karena sebenarnya Dewi sedikit jauh dari pintu.
Gue cuma mau bilang ke Nesty buat gak dekat-dekat sama lu, Salah gak sih gue, batin Dewi