
Dewi masuk ke dalam kamarnya, ingin membersihkan diri di kamar mandi dalam kamar. Bunyi air guyuran deras terdengar dari dalam kamar mandi. Pandu rupanya telah mendahuluinya, sebentar lagi subuh dan dia harus ke masjid dekat rumah.
Dewi tersenyum mendengar guyuran air jebar jebur, di dalam ada shower dengan settingan air hangat namun Pandu lebih suka mandi dengan gayung dan air dingin. Padahal cuaca subuh kala itu sangat dingin.
Di dalam kamar mandi ada 3 jenis tempat, ada bak yang tingginya sebatas perut orang dewasa. Namun air kerannya tidak ada setingan air hangat. Dan di samping bak beberapa meter ada closet, lalu di depannya agak jauh dari bak, ada box showerr dengan settingan air hangat dan air biasa. Di seberang box Shower ada Bath up jika ingin berendam juga bisa menggunakan settingan air hangat.
Dewi menunggu Pandu keluar dari kamar mandi dengan duduk diam di tepi ranjang.
Ceklek.
"Brrr dingin banget," ucap Pandu.
"Kan showernya bisa di setting hangat," sahut Dewi
"Ga kebiasan Kuntiii...dari jaman brojol, gue mandinya pake air sumur terus, lebih seger. Mandi gih," ucap Pandu menyuruh Dewi untuk mandi
Pria itu keluar dengan hanya mengenakan handuk, lalu berjalan menuju lemari pakaian. Dewi tidak terkejut karena dia tidak melihat tubuh Pandu saat itu
Dewi berjalan mendekati Pandu.
"Nduu... "
"Gue disini, apaan? Mau di mandiin haha,"
"Udah dong candanya. Gue mau ngomong serius,"
"Hemm ngomong aja," ucap Pandu kemudian memakai pakaiannya.
Dewi mengatakan apa yang tadi diceritakan Bik Asih.
"Trus kita gimana Ndu... kita ga punya bukti, dia juga belum apa-apain gue, ga ada jejaknya. Gue bilang sama orang tua aja kali ya, ini kan juga masalah gue," Dewi ketakutan. Dia berbicara menghadap Pandu tetapi pandangannya entah kemana.
"Belum apa-apain gimana? Dia udah buka baju lu kuntii.. Ya walau masih pake beha sih tapi kan sama aja itu pelecehan dan penghinaan, gua aja belum apa-apain Lu," seru Pandu sembari memakai cel4n4 panjangnya.
__ADS_1
"Pokoknya jangan bilang Nyokap Bokap lu dulu deh. Disini gue yang salah, ga bisa jagain lu," ucap Pandu
Sementara Dewi terdiam, dia juga sedikit malu saat Pandu terang-terangan bilang kalau dia belum menyentuh Dewi
Selesai memakai pakaiannya lengkap, Pandu mendekati Dewi, menangkup wajahnya dan berkata, "Sayang, urusan Rahmat biar jadi urusan gue. Emang sih gue gak punya uang buat bayar pengacara atau sewa detektif. Tapi gue bakal cari bukti secepatnya, temen gue banyak, meski anak jalanan tetapi mereka bisa diandalkan," ucap Pandu kemudian membelai rambut Dewi
"Tapi orang tua Rahmat itu dari kalangan berada, gue takut mereka akan bawa pengacara handal dan bisa...." ucapan Dewi terputus karena Pandu langsung menyelanya.
"Mau bawa pengacara kek, hakim kek, bakal kalah sama keadilan, ikhtiar, percaya ma gue kalau Allah bakal membuka jalan orang yang benar," ucap Pandu percaya diri, padahal Dewi hanya takut kalau Pandu masuk penjara karena sikap brutalnya.
Tak berapa lama Adzan Subuh berkumandang.
"Gue ke masjid dulu. Assalamu'alaikum," ucap Pandu kemudian mengecup pucuk kepala Dewi
Ada perasaan berdebar yang Dewi Rasakan. Rasa senang dan menggelitik hatinya. Pandu kemudian keluar dari kamar dengan tersenyum. Dewi juga tersenyum seraya memegang bekas kecupan Pandu
Meski urakan, brutal, sok jagoan, berandalan tetapi Pandu tidak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang Muslim.
Rasanya senyaman ini punya suami, gak takut dosa dan haha astaga kenapa aku seneng banget ya, aneh juga. batin Dewi
"Aduh bibik ga tahu non, ada atau tidak. Emang untuk apa non?"
"Buat tempat urine bik, biar di tes di lab dan bisa dijadikan bukti kalau Dewi meminum air yang mengandung obat tidur yang diberikan Rahmat,"
"Oh gitu ya non, gini aja non tampung ke plastik dulu ya, takutnya non ga tahan untuk buang air kecil soalnya cari tempatnya dulu non," ucap Bik Asih kemudian bergegas mengambil plastik putih setelah Dewi mengiyakan.
Karena Dewi baru saja pindahan sehingga tidak banyak barang dirumah itu. Bik Asih kembali ke kamar dan memberikan plastik bening yang biasa untuk bungkus es Batu.
Dewi kembali lagi ke kamar mandi dan menampung air kecilnya untuk di tes di lab. setelah itu mulai membasahi tubuhnya dan membersihkannya dengan sabun yang super wangi.
Selesai Ibadah Subuh, Pandu tidak langsung pulang. Dia berdiam diri di masjid, meminta pertolongan sang maha Pencipta sekaligus berpikir mencari cara harus dari mana memulainya.
Beberapa orang di yang duduk di dekat Pandu mulai pergi. Dan ada seseorang yang duduk di shaf depan Pandu, meninggalkan Handphonenya saat keluar Masjid. Pandu cepat-cepat menyelasaikan dzikirnya agar bisa memanggil orang yang ketinggalan Handphone.
__ADS_1
Segera diambilnya dan sedikit berlari kecil keluar masjid Pemilik Handphone itu telah berjalan keluar halaman Masjid
"Pak.... tunggu pak," panggil Pandu ketika sudah mendekati orang tersebut
"Ya ada apa ya?"
"Handphone bapak tertinggal," ucap Pandu seraya menyerahkan Handphonenya.
Pria itu mengambil Handphonenya dan meneliti apakah benar. Dan ternyata memang benar ini ponselnya
"Astaghfirullah Saya sampai lupa. Terimakasih ya Mas... duh handphone ini sangat penting buat saya karena semua nomer klien saya ada disini," ucap Pria itu kemudian merogoh celananya ingin mengambil sesuatu
"Iya Pak, sama-sama lain kali hati-hati Pak, saya permisi" ucap Pandu sekaligus pamit.
"Tunggu mas, ini ada sedikit rejeki buat Mas, sebagai rasa terimakasih," ucap Pria itu
"Ah jangan Pak, saya ikhlas mengembalikan tanpa mengharap imbalan," ucap Pandu
"Wah masih ada ya orang sebaik Mas, Maaf dengan Mas siapa? Saya Ronny Talapessy,"
Kok namanya kayak pernah denger ya, kayak nama pengacaranya Bharada E, masa iya sih dia batin Pandu
"Saya Pandu, Pak Ronny. Hemm Bapak tinggal di sini?" tanya Pandu basa-basi
Mereka pun berbincang sedikit setelah perkenalan itu, rupanya Pak Ronny baru pulang dari luar kota dan rumahnya dekat dengan rumah Dewi hanya berbeda blok. Saat pria itu juga pamit, ia berjalan sedikit ke arah mobilnya yang terparkir di seberang Masjid.
Pandu melihat plat polisi di mobilnya, ia pun segera menghampiri pria tadi. Seumpama orang itu ingin membantu kebaikan Pandu dengan kebaikan pula maka tak ada salahnya di coba.
"Maaf Pak, boleh bicara sebentar?"
"Ya ada apa lagi ya?"
"Apakah bapak seorang polisi?" tanya Pandu
__ADS_1
"Bukan... saya pengacara, ini mobil kakak saya yang saya pinjam karena tadi mobil saya masuk bengkel. Ada apa ya?" tanya pria itu
Inikah jawab Mu Tuhan... semoga pria ini mau membantu ku, batin Pandu