
Keesokan paginya, Pandu sudah siap untuk pergi. Padahal Dewi sedang menyiapkan sarapan untuk mereka, meskipun dirinya buta tetapi tidak menjadi penghalang baginya untuk tetap melayani Pandu.
"Ndu, lu udah mandi? Sini makan," ajak Dewi yang mendengar suara kamar dibuka. Ia sudah mengira itu pasti Pandu
Bau parfum yang menyengat terendus oleh Dewi, tanda jika pria itu sudah mandi.
"Gue gak sempet makan, dah telat nih," ucap Pandu menyampirkan tasnya ke satu bahu
Dewi beranjak, dan langsung berjalan ke depan. Menduga pasti Pandu akan jalan dengan Nesty, mengingat soal pembicaraan kemarin.
Mendengar suara Pandu sepertinya dia akan ke teras memakai sepatunya
"Ndu....Lu mau kemana, kan kampus belum aktif," ucap Dewi berjalan sedikit cepat
"Gue ada aja janji sama Nesty," jawab Pandu yang sedang duduk di teras sambil memakai sepatunya.
"Segitunya ya lu mentingin Nesty, gue udah capek-capek masak buat elu tapi malah ga dimakan. Hargain kek usaha gue," ucap Nesty
"Njirrr nih cewek kayak emak gue aja deh ah! Makan nanti kan bisa kuntiii. Ntar gue juga pulang kok," ucap Pandu
"Ku kenapa sih segitunya sama Nesty sampe takut banget kalo telat,"
Pertengkaran Dewi dengan Pandu pagi itu terdengar hingga ke tetangga.
Pandu sebenarnya malas menjelaskan, ia pun beranjak dan mengatakan sebenarnya
"Gini ya kuntilanak, Nesty itu ngasih ke gue hapenya buat gantiin punya Sabri yang udah gue rusakin. Sebagai gantinya gue jadi sopirnya dia. Jadi ojeknya dia. Selama 4 bulan. Salah lu sendiri sendiri sih gak mau gantiin hapenya, kan gara-gara doa lu, tuh hape nyebur ke sumur. Udah ah males gue di recokin pagi-pagi, bye," ucap Pandu kemudian dia segera bergegas menaiki motornya dan pergi tanpa mendengarkan ucapan Dewi yang terus memintanya untuk sarapan dahulu.
Dewi pun kembali ke dalam meneruskan sarapannya. Dia tiba-tiba teringat akan Pandu yang belum makan lalu terbesit lah keinginan untuk mengantarkan sarapannya.
Lantas ia mengambil ponselnya dan meminta bik asih untuk memesankan ojek. Dewi nekad pergi ke UI sendirian
Sebelumnya Dewi juga meminta bik Asih untuk menaruh sarapan Pandu ke dalam wadah.
"Bibik temani ya non," Bim Asih khawatir jika Dewi disana tidak bertemu dengan Pandu
"Dewi bisa kok bik, kan ada telepon," ucap Dewi tersenyum sembari menunggu ojek
Tak berapa lama sebuah klakson motor terdengar dari depan rumahnya. Kang ojek sudah datang. Dewi pun pamit, tak lupa ia membawa bekal untuk Pandu yang belum sempat sarapan
"Dewi pergi ya bik, Assalamualaikum," ucap Dewi
"Waalaikumsalam non, hati-hati ya? Telpon bibik kalau ada apa-apa," ucap Bik Asih
__ADS_1
Bik Asih menuntun Dewi menuruni teras yang bertangga 3. Lalu Dewi melangkah pelan menuju tukang ojek, melipat tongkat panjangnya dan sang ojek memberikan helm kepada Dewi. Setelah itu ia mulai menaiki motor.
Pagi hari yang cerah, Dewi hanya bisa menikmati panas pagi hari dan aroma pagi yang masih sejuk. Tetapi dia tidak bisa melihat indahnya mentari pagi. Indahnya hijau yang membentang, bahkan ia merindukan warna langit.
Dewi hanya tersenyum simpul. Kapan dia bisa melihat lagi.
Sesampainya di UI, kang ojek menurunkannya tidak di depan gerbang. Dia malah masuk hingga gedung kampus. Kasihan kalau harus menurunkan wanita buta di depan gerbang.
Dewi turun dan berterimakasih kepada kang ojek. Setelah itu ia meraih ponselnya yang di kalung kan di leher dan dimasukkan ke kantong kemeja. Bisa dibayangkan, betapa repotnya jika menaruhnya di dalam tas. Atau jika langsung dimasukkan kedalam saku celana, Dewi takut jika ponselnya jatuh maka dia akan susah mencarinya. Jadi ponselnya akan terus dipasangkan di leher.
Dicarinya nama Pandu, dan mulai menelepon. Tetapi tidak tersambung.
Dewi yang berdiri di depan teras gedung UI menjadi pusat perhatian dosen, dan mahasiswa disana. Juga mahasiswa baru yang sedang mendaftar.
Tak berapa lama, Maulana melihat sosok Dewi dengan memiringkan matanya untuk memastikan apakah itu Dewi atau bukan
"Eh ndu, Istri lu nyamperin kesini tuh," ucap Maulana seraya menepuk bahu Pandu.
Mereka sedang duduk di dekat parkiran
"Hahah Kenapa tuh dia kesini, ngekorin lu mulu. Jangan-jangan lu itu macam suami-suami takut istri. Jadinya Istrinya nyusul takut Lu selingkuh hahaha," ucap Sabri
"Njiirr kurang kerjaan tuh anak. Udah dibilang gue gak selingkuh. Tanya aja ma Nesty," ucap Pandu
"Lu kayak anak bebek aja Ndu yang di cariin kalo telat pulang," ucap Sabri
"Yaelah samperin dulu napa? Kasian tuh anak orang, haha," tawa Maulana.
"Yaudah deh gue kesana dulu,"
"Eh Ndu, buruan ya. Mau pulang, Bentar lagi panas nih," ujar Nesty dan dijawab oleh Pandu dengan isyarat jari telunjuk dan jari jempol di satukan membentuk huruf O, pertanda OK
Pandu berjalan dari parkiran menuju gedung, menghampiri Dewi yang sedang menelepon dirinya. Tentu saja tidak diangkat, ponsel Pandu yang sudah butut itu tidak mempunyai suara dering, nada deringnya rusak.
"Heh kuntilanak, ngapain lu kesini," tanya Pandu dengan lantang
"Gue cuma mau nganterin ini, lu kan belum makan," ucap Dewi seraya menyerahkan plastik berisi kotak makan
Pandu mengibaskan tangannya tetapi malah terkena tempat makan hingga jatuh terlempar.
"Halah, Lu tu malu--maluin gue tahu gak. Gue dikatain aneh-aneh sama temen Gue. Gue gak butuh diperhatiin kayak gini," ucap Pandu
"Gue mau antar Nesty pulang, dia takut kepanasan. Lu tunggu disini, awas kalau lu pergi, tar nyasar, gue yang repot! Argghh bikin ribet aja lu," ucap Pandu kesal
__ADS_1
Dewi shock mendengar ucapan Pandu. Dia menahan tangisnya tapi air mata itu tidak bisa tertahan lagi.
Jahat banget kamu ndu, Apa aku keterlaluan, cuma sekedar ngantar makanan dan juga ingin berteman dengan teman kamu batin Dewi
Dia pun mengusap air matanya, beberapa orang disekitarnya berbisik. Dewi bisa mendengar meski tidak bisa melihat. Ia pun melangkah pergi. Diingatnya tadi saat ojek mengantar dirinya. Dewi menghitung dan mengingat alur jalannya tadi..
Tetapi saat tiba di depan gerbang Dewi berjalan entah kemana, pikirannya sedang tidak sinkron. Apa yang terjadi dengannya, kenapa dia harus memperhatikan Pandu.
Berulang kali Dewi mengutuk dirinya sendiri dan tidak akan mengulang kesalahan yang sama.
Lama berjalan Dewi baru menyadari dia telah berjalan sangat jauh dan tidak tahu dimana. Masih dijalan raya, suara kendaraaan dan klakson juga suara penjual yang berteriak-teriak.
"Aku....dimana....," gumam Dewi
Ia melambaikan tangan dan meminta tolong pada siapapun di sana
"Tolong bantu saya, tolong... " tetapi suara Dewi kalah besar dengan suara kendaraan.
Tidak ada siapapun di sana. Tidak ada yang menghampiriinya.
Dewi ketakutan sendiri, lantas mengambil ponselnya dan mulai menelepon Pandu.
Lagi-lagi teleponnya tidak diangkat. Sampai nada suara sambungan yang tadinya nyambung, berubah menjadi pesan suara. Tanda kalau daya ponsel Pandu telah habis.
Dewi berbicara di pesan suara itu. meminta tolong Pandu karena dia tidak tahu jalan.
"Pandu... aku gak tahu aku dimana... tolongin Nduu. . hiks," ucap Dewi dalam tangisnya
Berulang kali pesan suara di rekam hingga panas terik menyengat kulitnya.
Tak berapa lama seorang preman datang, merampas ponsel Dewi dan tas kecilnya.
"Hahaha panen kita bro..," ucap Preman berkumis tebal
"Tolong kembalikan, saya tidak bisa pulang tanpa ponsel itu," ucap Dewi yang berbicara salah arah.
"Heh buta, kita disebelah sini hahah," cibir preman yang bertato
"Gue gak peduli lu mau pulang, mau piknik mau bunuh diri sekalipun gue gak peduli hhahaha thanks ya ponselnya," ucap Preman berkumis tebal
Mereka pergi meninggalkan Dewi. Sementara Dewi terus berteriak meminta tolong, tapi tak ada satupun yang datang. Mereka memilih hanya melihatnya saja karena tidak ingin berurusan dengan preman
"Tolong!!!! Siapapun... saya di rampokk!" teriak Dewi
__ADS_1