
Bunyi dering ponsel terdengar beberapa kali, ponsel jadul milik Pandu. Sebelum diangkat ia melihat nama si penelepon.
"Siapa yank?" tanya Dewi
"Bibik nih, bentar ya aku angkat dulu," ucap Pandu pada Dewi
"Ya bik... ada apa?" sahut Pandu setelah mengangkat teleponnya
"Mas Pandu, barusan orang tuanya Mas Rahmat kemari. Mereka mencabut gugatannya, mereka gak jadi nuntut Mas Pandu," ucap bik Asih dari seberang telepon
"Loh kok bisa tiba-tiba, pasti ada yang gak beres ini," ucap Pandu
"Ya mas, bibik rasa Mas Rahmat takut kalau kejahatannya kebongkar,"
"Kalau mereka mencabut gugatan, saya tetap ajukan banding, karena dia udah ngelecehin si Kunti," ucap Pandu
"Bagus mas, bibik dukung," ucap Bik Asih yang terus mendukung keputusan Pandu, kebenaran harus di tegakkan.
Usai pembicaraan selesai, Pandu mengakhiri pembicaraan dan mematikan telepon. Lalu ia menceritakan pada Dewi soal Rahmat yang mencabut tuntutannya.
Dewi juga mendukung keputusan Pandu, dia semakin suka dengan kepribadian Pandu. Walaupun orangnya cengengesan, sok jagoan tetapi dia yakin Pandu adalah orang baik.
"Kita gak jadi nginep deh, nanti malam kita pulang sekalian jalan-jalan malam, pacaran kita yank," sahut Pandu
"Yaudah terserah kamu aja, haha aneh ya pacarannya setelah nikah,"
"Ya gak anehlah kuntiii kan justru gak bikin dosa pacarannya setelah nikah,"
"Iya juga ya, eh jangan lupa mampir counter hape ya buat beli hape aku yang kemarin di ambil preman," ucap Dewi
"Ashiaaap,"
Setelah itu Pandu mulai manja, ia memeluk Dewi dan mengusel-nguselkan kepalanya di dada Dewi. Dewi membelai kepala Pandu bagaikan mengelus anak kucing di pelukannya.
"Anget ya disini," ucap Pandu, Dewi hanya terkekeh
.
__ADS_1
.
.
Malam menjelang, Pandu dan Dewi sudah meninggalkan area penginapan. Mereka menikmati suasana malam hari, suasana pedesaan. Sayangnya Dewi tak bisa melihat, hanya bisa mendengar suara jangkrik, kodok dan hanya bisa merasakan kesejukan malam itu.
Keluar dari pedesaan, Dewi sudah mendengar suara kendaraan bermotor, tidak ada lagi suara hewan malam. Tandanya mereka telah memasuki area perkotaan yang ramai kendaraan.
Tak berapa lama Pandu menghentikan motornya di salah satu pertokoan yang menjual beberapa merek handphone.
"Kita udah sampe nih, toko hape. Rame banget tokonya biasanya yang rame gitu harganya terjangkau," ucap Pandu
"Kamu tahu banget ya?" tanya Pandu
"Ya tahulah, yaudah yuk masuk mau di gendong apa jalan sendiri?"
"Masih bisa jalan, malu ah kalau di gendong hehe. Tuntun ya," ucap Dewi kemudian meminta untuk di tuntun jalannya.
Pandu memberikan lengannya, Dewi merangkul lengan Pandu, satu tangannya membawa tongkat yang bisa dilipat-lipat sebagai peraba jalannya.
Sesampainya di sana, mbak-mbak sales langsung memanggil Pandu dan Dewi menawarkan ponsel di toko mereka yang sedang promo.
"Mau warna apa yank? Ada yang bagus nih speknya tapi gak promo, gimana?" tanya Pandu
"Yang bagusan aja gak papa, dari pada murah cepat rusak hehe. Warna hitam ya," ucap Dewi
"Ini aja mbak, warna hitam," ucap Pandu
"Ini buat mbaknya ya? Ada yang warna ungu lilac nih,"
"Boleh gak apa-apa, bisa di setting juga kan mbak buat akses disabilitas," ucap Dewi
"Oh bisa dong. Yaudah jadi yang ini ya, 12 juta mau cash debit, uang tunai apa kredit mbak?" tanya sales
"Debit ya mbak, beli dua sekalian satu buat suami saya," ucap Dewi
"Loh saya kira masih pacaran soalnya wajahnya masih muda, yaudah sebentar ya, " ucap Sales yang hanya dianggukk senyum oleh Dewi
__ADS_1
"Loh kok kamu beliin aku...gak usah yank, mahal itu aku gak usah," ucap Pandu dengan berbisik
"Gak apa-apa yank, dari pada kamu dibeliin cewek lain,"
"Hmm nyindir nih ceritanya," ucap Pandu dan Dewi pun terkekeh.
Sementara mbak sales tadi ke belakang mengambil stok ponsel. Dia lalu bercerita dengan teman lainnya,
"Buset tuh lakik enak banget ya, dia dibeliin hape ma istrinya," ucap mbak sales yang tadi melayani
"Yang mana sih? Yang barusan ini yang kamu layani?" tanya temannya
"Iya, mbaknya juga tau banget spek mana yang bagus. Trus baik banget lagi, jadi aku gak usah capek nawarin," ucap Mbak sales
"Cowoknya cakep juga, tapi kayaknya tuh cowok mau nikahin yang cewek buta itu gara-gara dia kaya deh," ucap temannya
"Jangan suudzon ah, cinta tuh ga ada yang tau," ucap mbak Sales kemudian pergi meninggalkan temannya setelah mengambil handphone yang ingin di beli Dewi.
Dewi membayarnya dengan tunai lewat kartu debit. Untung saja saat kejadian penjambretan itu, Dewi tidak membawa kartu ATM-nya sehingga tidak ikut raib dan tidak perlu repot-repot mengurus.
Setelan membeli handphone, Pandu tidak jadi mengajaknya keliling kota malam itu karena petir berbunyi beberapa kali
"Sayang, kita gak jadi jalan-jalan tuh mau hujan kayaknya," ucal Pandu
"Yaudah pulang aja dari pada kehujanan," ucap Deei
"Tapi gak apa-apa kan? Lain waktu yaa"
"Iya gak apa-apa Mas Panduuu," ucap Dewi mengeratkan pelukannya yang duduk di belakang.
"Yang kenceng pegangnya abis ini aku ngebut. Oh ya makasih ya udah di beliin, nanti kalau aku udah kerja dan udah ada penghasilan sendiri bakal ku ganti," sahut Pandu
"Ck santai aja sayang, kayak ma siapa aja. Akun kan istri kamu hehe," celetuk Dewi
Kemudian Pandu menambah kecepatannya, Dewi semakin mengeratkan pegangannya seraya berkata, "Jangan ngebut dong,"
"Nanti kehujanan," ucap Pandu yang tidak menghiraukan perkataan Dewi.
__ADS_1
Gas pulang ditancapkan, Dewi terus berdoa dalam hati agar mereka diberi keselamatan. Tetapi tak berapa lama, ada mobil yang berbelok tiba-tiba dengan kencang dan mengarah ke Pandu. Jika Mobil itu tidak putar setir atau tidak menginjak rem kemungkinan akan menabrak Pandu dan Dewi.