
Rumah yang baru dibelikan untuk Dewi benar-benar besar. Ibu Mila dan Pak Yoga, orang tua Pandu ikut mengantar mereka.
Wah gak nyangka rumahnya kayak istana. Pasti gaya hidup Pandu ma Dewi hedon banget nih. Sedangkan aku... tinggal di rumah kecil, susah sampai kulitku kering dan keriput gini. Kucel lagi... Aku harus ngerayu Pandu atau Dewi biar aku bisa tinggal disini, batin Mila
Saat mereka masuk yang paling heboh adalah Ibunya Pandu. Hingga pria itu sedikit malu dengan tingkah Ndeso, ibunya.
"Sayang, nanti Bik Asih yang nemenin kamu disini ya. Mama Khawatir dengan kondisi kamu seperti ini, kamu akan susah kalau ngerjain sesuatu," ucap Endah pada Dewi
"Iya Ma, terimakasih. Tapi... Dewi masih bisa kok,"
"Kalau perlu, saya akan tinggal disini membantu Dewi. Kemarin saja nak Dewi sudah mecahin tiga piring. Jadi lebih baik kalau ada yang menemaninya disini bukan?" tanya Mila berharap diperbolehkan tinggal di rumah Pandu
"Ya jangan dong Bu Mila, maksud kami sengaja membelikan rumah untuk Dewi itu agar dia mandiri. Bik Asih bisa mengurus semuanya kok jadi saya rasa kita para orang tua harus melepaskan mereka," ucap Bu Endah
"Kapan mandirinya kalau orang tuanya selalu ikut campur masalah mereka. Wajar Dewi memecahkan piring karena dia baru saja BUTA KARENA ANAK IBU!" sela Sam dengan menekankan kalimat yang seakan-akan semua kesalahan Pandu.
"Udah lah Ibu tinggal sama bapak saja, biar mereka membangun rumah tangganya sendiri," ucap Yoga bapaknya Pandu
Akhirnya Mila mengalah, tetapi dia memiliki seribu cara untuk bisa masuk ke dalam rumah Pandu.
Setelah beberapa menit mengobrol, akhirnya para orang tua pulang termasuk Mila.
Pandu juga ingin pergi, seperti biasa nongkrong dengan temannya.
"Gue pergi dulu ya kuntilanak," pamit Pandu
"Mau kemana lu?" tanya Dewi yang sejujurnya dia juga ingin berkumpul dengan temannya usai kelulusan SMA.
Dewi masih berkomunikasi dengan temannya lewat pesan yang ponselnya disetting aksesibilitas khusus penyandang tuna netra. Ketika ada pesan Dewi bisa membukanya dengan bantuan suara seperti mbak-mbak google.
Dan ketika membalas pesan Dewi bisa menggunakan VN.
"Biasalah nongkrong. Dua minggu lagi udah masuk kuliah jadi sekarang ya main-main lah," ucap Pandu
"Gue ikut dong,"
"Ogah ah, ribet ngajak Lu... Bye," ucap Pandu yang langsung menutup pintu rumahnya
__ADS_1
Dia tidak sadar ucapannya menyakitkan bagi Dewi. Siapa sih yang menginginkan kondisi buta, yang tadinya bisa melihat tiba-tiba saja warna dan cahaya semuanya tampak gelap.
Air mata Dewi menetes, dia duduk sendirian di kursi ruang tamu yang begitu luas. Bik Asih yang sedang menyapu rumah barunya mendengar suara isak tangis yang menggema di seluruh ruangan
"Non...," ucap Bik Asih merangkul Dewi serta mengusap punggungnya.
"Rasanya percuma Dewi menikah pun, Tidak ada cinta di dalam rumah tangga Dewi ini bik....Hiks...Rasanya sama saja dengan saat kemarin, terkurung dalam kegelapan," ucap Dewi
Dia mengenal Bik Asih sejak kecil, bahkan menganggapnya sebagai ibu keduanya.
"Non, harus sabar ya... bibik yakin Mas Pandu orang yang baik. Suatu saat kalian akan saling jatuh cinta. Hemm nak Pandu ini kan yang pernah membelikan Non pembalut kan?" tanya Bik Asih
Dewi menganggukkan kepala
"Iya bik,"
"Bibik rasa Non sudah ada rasa sama cinta sama mas Pandu tapi karena tingkahnya nakal sehingga Non menepis perasaan itu," ucap Bik Asih
"Ahh masak sih, enggak ah bik. Dia itu musuh aku yang doyan banget ngebully aku,"
Dewi pun teringat saat itu. Mereka sedang olahraga dengan menyusuri jalan di luar, masih sekitar sekolahan. Di tengah jalan, Dewi yang sedang menstruasi mengalami kebocoran hingga tembus di sekitar celana olah raga nya. Hingga wanita itu duduk di jalan karena malu melanjutkan perjalanannya.
Temannya pun tidak bertanya, Dewi juga tidak dengan teman wanita yang lain. Bisa di bilang Dewi dijauhi karena dianggap sombong karena kepintarannya.
Satu-satunya orang yang bertanya adalah Pandu yang menghampirinya dan menanyakan keadaan Dewi apakah sakit atau tidak. Bahkan Pandu rela membuka baju olah raganya untuk menutupi celana Dewi yang tembus karena menstruasi. Tak hanya itu Pandu juga membelikan pembalut di toko sekitar.
Di balik kejahilan Pandu hanya dia yang terlihat tulus membantu. Tapi setelah itu Pandu mulai bertingkah nakal lagi.
Dewi tertawa setelah menangis, "Haha sudah Bik jangan diingat. Ya itu kan waktu kelas satu. Itu cuma kenangan yang hanya Dewi ingat. setelah ini Dewi tidak bisa mengingat apapun kecuali suara dan semua hanya bayangan gelap,"
"Bibik hanya bisa menasihati Non. Sekarang Non sudah menjadi istri. Dan Istri yang baik adalah yang menuruti perkataan suaminya. Melayani suaminya dengan senyum dengan ketulusan. InsyaAllah lama kelamaan cinta itu akan hadir lewat kasih sayang, kedamaian, dan berlanjut kebahagiaan," ucapan bik Asih membuat Dewi sedikit tenang.
Kemudian Dewi bertanha tentang rumah yang dimilikinya sekarang. Dimana letak ruang televisi, ruang makan, dapur. Kamar tidur dan seperti apa warna dindingnya. Warna perabotan nya dan lain sebagainya.
Sambil meraba, menghitung langkah kaki di dampingi bik Asih di sebelahnya.
"Sekarang Dewi ingin berjalan sendiri Bik. Bibik bilang kalau salah ya hehe. Jangan di pegang dulu karena baru latihan,"
__ADS_1
"Iya Non, bibik berdiri agak jauhan ya,"
Dengan Sabar bik Asih menemani dan mengajari Dewi, wanita yang berumur 50 tahun itu masih terlihat sangat muda.
.
.
.
"Eits ini dia nih pengantin baru," celetuk Maulana
"Gimana bro rasanya malam pertama ehek pasti ya, berapa ronde," tanya Sabri
"Haha statusnya doang yang pengantin baru. Nyoblos aja belum ahhahaha," celetuk Pandu dengan tingkahnya yang masih selengekan
"Lu kira Dewi tuh banteng," tanya Andy
"Oiiits udah beda jalur itu," ucap Maulana
"Eh ngomong-ngomong kemarin kenapa lu tiba-tiba off, trus hape gue mana," ucap Sabri
"Hemm masuk sumur. Untung sumur nya gak alem. Sorry ya bri" ucap Pandu seraya memberikan ponselnya pada Sabri
"Hah serius lu!" seru Maulana
"Wah ganti dong," tuntut Sabri sambil melihat pknselnya yang sudah tak menyala.
"Gue bawa ke tukang servis aja dulu ya. Kalau gak bisa baru gue ganti," ucap Pandu
"Yaudah ni, bawa ke servisan. Kalau gak bisa juga, ganti loh," sahut Sabri
"Iya-iya janji," ucap Pandu
"Wah ndu yakin lu mau ganti? Harganya 8 juta loh itu," sahut Maulana
"Hah serius. Buseeet!" sahut Pandu yang langsung stress mikir nominalnya.
__ADS_1