Terpaksa Menikah Gadis Buta

Terpaksa Menikah Gadis Buta
Eksekusi


__ADS_3

Dewi menyerahkan sebotol urinenya ke laboratorium. Sembari menunggu hasilnya keluar. Pandu dan Dewi pergi mencari bukti CCTV.


Ada rekaman yang menunjukkan Rahmat ke dalam apotek dan keluar tanpa bungkusan atau tanpa membawa obat. Hasil rekaman dari CCTV juga tidak menunjukkan tanda-tanda Rahmat memasukkan obat. Dan saat Rahmat membeli Teh hangat juga tidak ada, yang terlihat hanyalah Rahmat datang ke parkiran membawa teh hangat dan menyerahkannya pada Dewi. Percakapan mereka juga tidak terdengar


"Ck parah banget ini rekamannya ga mendukung banget," ucap Pandu


"Trus kita gimana dong. Minta bantuan orang tua aku ya Ndu, kamu telpon Mama aku gih,"


"Jangan, aku gak mau dibilang gak bertanggungjawab,"


"Tapi kan...,"


"Stttsst, kalau kejepit banget baru bilang," ucap Pandu memotong kalimat Dewi seraya mencepit bibirnya dengan ibu jari dan telunjuknya


"Ini namanya keadaan terjepit ndu. Hmmh abis ambil lab kita ke toko handphone ya," ucap Dewi


"Ok kanjeng ratu,"


Dewi tertawa kecil, ada-ada saja tingkah Pandu yang selalu memberi julukan aneh-aneh pada istrinya.


Sesampainya di laboratorium, Pandu membaca hasil lab setelah satu jam menunggu. Hasil pemeriksaan mengatakan jika ditemukan zat hypnotic dan melatonin yang dapat membuat orang jatuh tertidur.


"Apa hasilnya yank?" tanya Dewi


"Hemm tuh cowok brenggsek banget, dia pake 2 obat. Pantesan aja kamj gak bangun-bangun yank. Kalau liat itu rasanya ga cukup kalo sekedar gebukin," ucap Pandu


"Ih aku ikutan sebel, dia ngapain aku kemarin ya? Waktu kamu dateng, keadaan aku kayak gimana? masih pakaian utuh kan?" tanya Dewi


"Utuh sih utuh, tapi kancingnya dah kebuka. Pasti dia udah cium ma remes-remess punya kamu," ucap Pandu


"Yank kecilin tuh suara, malu tauk," ucap Dewi menundukkan kepala


"Abisnya aku cemburu, kamu harus di prospek sekarang yank," ucap Pandu


"Apaan sih Prospek artinya apa?"


"Katanya pinter kok prospek aja gak ngerti. Prospek itu....calon konsumen ato pelanggan," ucap Pandu makin membuat Dewi tak mengerti


Yang gak ngerti skip aja author lagi konslet🤣


Pandu meraih tangan Dewi, menggenggamnya dan menuntutnya berjalan.


"Yuk,"


"Ya udah pulang aja," ucap Dewi


Sementara Pandu tersenyum karena dia tidak ingin pulang. Di lajukannya kendaraan tua keluaran jaman dulu, bekas Ayahnya saat muda. Masih awet, kinclong namun mesin sudah turun panggung alias suka ngambek karena gak dikasih jatah bulanan

__ADS_1


Semoga lu gak ngambek ditengah jalan ya siti, kan kemarin udah diobatin sama montir jadi kudu kuat ya ya ya batin Pandu


Seolah-olah berbicara telepati kepada motor bututnya yang diberi nama Siti. Karena Pandu ngefans sekali dengan suara Siti Nurhaliza penyanyi Malaysia. Ia mengenal Siti juga karena emaknya yang suka nyetel lagu Malaysia.


"Ini kita kemana sih, perasaan gak sampe-sampe, jalanannya juga kayak naik kuda," ucap Dewi


"Sabar... bentar lagi nyampe," ucap Pandu


Dia membawa Dewi ke penginapan yang jauh dari kota, bukan puncak karena motornya gak akan sanggup naik gunung.


Tak berapa lama Pandu mematikan mesinnya dan menyuruh Dewi turun. Mereka sudah sampai di penginapan desa, jauh dari kota, jauh dari rumah warga. Banyak pohon-pohon yang rindang, suara burung yang berkicau merdu saling bersahutan. Suasana pedesaan yang sunyi dan sejuk membuat siang itu terasa damai.


"Kita dimana?" tanya Dewi.


"Di rumah penginapan hehe bentar ya, kamu tunggu sini jangan kemana-mana," ucap Pandu


"Eh penginapannya ngapain ke...," Dewi menghentikan kalimatnya karena Pandu juga sudah pergi terdengar dari suaranya berjalan semakin menjauh.


Astaga penginapan, itu berarti.... batin Dewi dan malu sendiri


Pandu pergi ke resepsionis untuk melakukan pembayaran. Sementara pihak resepsionis meragukan Pandu yang telah menikah dengan Dewi meskipun di KTPnya sudah berstatus Kawin.


"Kurang ya mbak buktinya kalau saya sudah menikah?" ucap Pandu karena melihat resepsionis yang mengerutkan dahinya.


Lalu Pandu mengeluarkan fotokopi buku nikah yang ia lipat kecil-kecil dan disimpan di dompetnya. Ia lakukan untuk berjaga-jaga.


"Hemm hehhe maaf ya Mas, karena jaman sekarang kann jarang banget orang nikah di usia muda. Apalagi laki-laki, kalau perempuan sih kebanyakan masih ada yang menikah di usia muda. Sudah pilih tempatnya belum Mas?" tanya resepsionis


"Udah, di Pandawa C ya,"


"Baik, sebentar," Resepsionis tersenyum, "Ini kuncinya. Besok siang jam 1 batas cek outnya ya,"


"Ya, terimakasih," ucap Pandu seraya menganggukkan kepalanya.


Pandu kembali, tetapi ia tidak melihat keberadaan Dewi.


"Duh kemana lagi si Kunti," ucap Pandu pada dirinya sendiri


Matanya mengedarkan luas ke segala penjuru.


"Kuntiiii," teriak Pandu


Tak berapa lama ada seorang wanita sedang menggandeng Dewi kembali ke tempat semula.


"Eh kunti,...lu dari mana sih," ucap Pandu sedikit kesal karena pergi tanpa bilang.


"Ya maaf, tadi ke toilet, diantar sama mbak laras... Makasih ya mbak,"

__ADS_1


"Sama-sama mbak Dewi, kalau gitu saya pergi dulu ya," ucap Laras dan ingin pamit namun mata Laras terus tertuju pada Pandu


"Makasih ya mbak Laras," ucap Pandu kemudian merangkul Dewi.


"Kamu... Pandu anaknya Bu Mila itu kan?"


"Eh kok tahu," tanya Pandu


"Yaelah Nduuu... Gue larasati, anaknya Bu Ajeng," ucap Laras.


"Heh masak sih, Laras yang gembul item itu? Gak mungkin ah tetiba jadi putih kinclong bening cantik lagi," ujar Pandu yang memuji Laras membuat Dewi panasss


"Iya, ihh sejak pindah rumah gue langsung luluran lah perawatan abisnya Lu katain mulu hehe," ucap Laras


"Hehe bagus deh tapi lebih cantik bini gue," sahut Pandu, "Ini bini gue," ucap Pandu pada Laras, " Yank itu Laras tetangga waktu kecil," rupanya dia tidak lupa akan keberadaan Dewi.


"Oh begitu, gak nyangka ya dunia sempit hehe," sahut Dewi


Laras menatap ke arah Dewi dengan pandangan tidak suka.


Ya ampun Pandu gue perawatan demi Lu tapi malah Lu udah nikah ma cewek lain, buta lagi cibir Laras dalam hatinya


"Oh selamet deh moga langgeng, tadi kita udah kenalan ya mbak Dewi hehe," ucap Laras memasang senyum cantiknya


"Makasih, Iya, kita udah kenalan juga tadi," jawab Dewi


"Makasih doanya, yaudah kita ke dalem dulu ya," ucap Pandu ingin mengakhiri percakapan


"Eh bentar, minta nomer Lu dong Ndu," pinta Laras yang langsung mengeluarkan ponselnya merek Apple kroak


"Sorry gue gak punya handphone, duluan ya...makasih yang tadi, " ucap Pandu merangkul Dewi dan masuk ke dalam rumah berukuran kecil hanya ada satu tempat tidur ukuran besar dan satu kamar mandi.


Laras ingin memanggil Pandu lagi, tidak mungkin jaman sekarang tidak punya handphone, handphone itu nomer satu, menurut Laras. Tetapi ia urungkan karena Pandu telah menjauh


Setelah membuka pintu kamar Pandawa C, Pandu menggendong Dewi dengan tiba-tiba


"Lu harus dihukum karena gak nurutin kata gue," ucap Pandu


Jika sebal dia kembali lagi dengan panggilan Lu Gue


"Ih masak mau buang air kecil harus nungguin Lu sih, kan gak baik tahan-tahan," ucap Dewi ikutan manggil Lu Gue


Pandu malas berdebat ia langsung mencium Dewi dan membaringkan tubuhnya perlahan ke atas ranjang.


"Gue mau eksekusi Lu, diem jangan gerak dan nikmatin aja,"


Dewi malah tertawa kecil mendengar ucapan Pandu.

__ADS_1


Eksekusi di siang bolong. Jeritan kecil yang harus ditahan Dewi berubah menjadi lenguhan yang membara. Cinta di tebarkan lewat dermaga dan berlabuh ke lautan samudera, mengudara hingga batas langit ketujuh dan berakhir bisu yang berujung berpeluh alias capek bobok cantik.


__ADS_2