Terpaksa Menikah Gadis Buta

Terpaksa Menikah Gadis Buta
Kembali Melihat


__ADS_3

Dewi langsung diperiksa setelah dia jatuh pingsan. Ada benturan keras pada punggung dan kepalanya saat kecelakaan terjadi. Hal itu membuat Dewi kerap pusing dan bahkan pandangannya sedikit terganggu. Hikmah dari kecelakaan ini Dewi bisa mendapatkan kembali penglihatannya yang sempat memburuk.


"Bisa dipastikan karena benturan inilah Dewi dapat merespon cahaya di matanya. Sepertinya Dewi akan dapat melihat kembali tanpa harus operasi," ucap Dokter.


"Bukannya saat itu kondisi Dewi sudah parah ya? Dokter yang periksa pun bilang jika kebutaannya permanen, Dewi tidak dapat di sembuhkan," ucap Sam Ayahnya Dewi


"Siapa bilang Pak? Retina matanya masih bagus, Kalau boleh tahu saat itu dokter siapa yang periksa?" tanya Dokter firman, ahli syaraf mata.


"Duh saya lupa nama dokternya, Dokter ortopedi kayaknya soalnya kan saat itu tulang punggungnya ada keretakan," ucap Endah


"Sepertinya ada kemungkinan karena dia bukan ahli mata jadi Dokter itu hanya menerka saja. Kebutaan Dewi hanya bersifat sementara karena adanya syaraf yang istilah yang bisa dipahami orang awam itu otot syarafnya kaget nah seperti itu bu, Saya akan memberikan obat mata dan beberapa terapi kecil agar pandangan Dewi kembali jelas," ucap Dokter Firman.


"Alhamdulillah kalau begitu, semoga Dewi bisa kembali melihat. Tapi untuk kepalanya sendiri tidak ada luka serius kan dok?" ucap Sam


"Insyaallah tidak pak, semoga Dewi lekas membaik ya," Dokter Firman langsung menulisnya resep obat karena Dewi tidak dirawat inap sehingga obatnya ada yang harus di beli di luar. Tetapi sang dokter sudah memberikan beberapa obat lewat suntikan. Untuk mengurangi nyeri kepalanya.


Begitu keluar dari ruangan dokter, Endah menggerutu terus.


"Kalau tahu hanya bersifat sementara, aku gak akan nikahin Dewi sama Pandu," ucap Endah


"Udah terlanjur Mah, lagian Dewi juga bahagia kok sama Pandu. Bik Asih kan pernah ngerekam mereka kan kalau lagi berduaan Dewi tertawa terlihat sangat bahagia. Kita hanya perlu mengarahkan mereka saja jika ada pertengkaran kecil biar bisa diselesaikan secepatnya," ucap Sam


"Hmm trus soal Rahmat gimana tuh?" ucap Endah


"Ck ini nih yang Aku gak suka dari Bik Asih, gak langsung ngomong sama kita?" ucap Sam


"Aku udah bicara sama orang tuanya Rahmat, dia gak berani lagi nuntut Pandu. Tapi kita harus maju, untungnya Pandu udah bergerak cepat, Dia memakai jasa pengacara handal dalam hal ini," ucap Sam

__ADS_1


"Uang dari mana si Pandu bayar pengacara? Jangan-jangan dia pakai duitnya Dewi," ucap Endah


"Katanya Mas Pandu sih gratis Nyonya, maaf saya menyela. Ini Tuan, Nyonya air mineralnya," ucap Bik Asih yang langsung menyela dan memberikan air mineral kemasan botol


.


.


.


Dewi membuka matanya, tersadar dari pingsannya beberapa jam yang lalu. Terlihat di sekelilingnya ada keluarganya, Mama kandungnya dan Ayahnya.


Kali ini aku bisa melihat sangat jelas, batin Dewi


"Dewi kamu sudah sadar," ucap Mama Endah


"Ma... Yah... ," sapa Dewi


Dewi mengerjabkan matanya masih sedikit buram tapi dia bisa dengan jelas melihat, warna dan siapa yang dilihatnya, juga dia bisa melihat ke sekelilingnya


Dia melihat kedua tangannya salah satu tangannya di infus, Dewi menangis terharu seraya berkata, "MaMa...Ayah..., Dewi bisa melihat lagi Mah..., "


"Alhamdulillah ya Nak, semua berkat kuasa ilahi. Bik Asih juga berperan dalam hal ini, setiap hari dia membuatkan jamu khusus untuk mata kamu," ucap Sam, Ayahnya Dewi.


Ketiganya berpelukan, tak berapa lama Orang tua Pandu datang bersama dengan Sinta. Dewi yang merasa aneh kenapa Sinta selalu saja mengikutinya juga kini dia datang bersama keluarga Pandu.


"Hemm Dewi... Bagaimana kondisi kamu? Kata dokter kamu sudah bisa mulai melihat? Apa betul? " tanya Yoga

__ADS_1


Dewi mengiyakan, lalu orang tua Dewi turut membantunya bercerita seperti apa yang di sampaikan dokter.


Lalu orang tua Dewi bertanya soal keberadaan Sinta di ruangan Dewi.


"Dia Sinta, yang sebenarnya Ibu kandung Pandu," ucapan Yoga mengejutkan semua orang


"Jadi... Ibu Sinta itu... Ibu kandungnya Pandu?" tanya Dewi memastikan


"Iya Dewi, saya juga baru tahu sekarang saat bertemu dengan mantan suami saya," ucap Sinta.


Orang tua Dewi berkenalan dengan Ibu Sinta, mereka juga berbincang banyak hal, sementara Mila sedari tadi diam, dia enggan bicara. Dia takut jika dirinya dibanding-bandingkan juga takut dengan apa yang dilakukan Mila pada Dewi saat diluar.


"Kamu diem kenapa? Gak ikut ngobrol?" tanya Yoga dengan berbisik


"Obrolan sultin disana mas, remahan peyek kayak aku mana bisa gabung," ucap Mila yang menciut seketika


"Kamu itu juga orang tua Pandu. Walau kamu bukan ibu yang melahirkan tetapi kamu lah yang membesarkan dirinya," ucap Yoga.


Malas mendengarkan ucapan Yoga, Mila memilih keluar dan pergi melihat Pandu. Setelah pemeriksaan menyeluruh terhadap Pandu, tidak ditemukan hal buruk pada otaknya. Namun Pandu tetap harus menjalani perawatan di rumah sakit.


"Mama pikir kamu tuh hamil Dew, haha rupanya kamu kebentur cukup keras," ujar Endah


"Aduh Ma nikah belum ada seminggu, ya belum lah Ma," sahut Dewi


"Semoga segera ya Dew," ucap Bu Sinta dan di aminkan oleh semua orang didalam ruangan itu.


Sebelum orang tuanya dan orang tua Pandu pamit pulang, Dewi meminta untuk merahasiakan soal penglihatannya yang sudah kembali. Dia yakin kecelakaan itu pasti karena ulah Rahmat.

__ADS_1


Dewi juga sudah tahu kalau ternyata Rahmat tidak jadi melanjutkan perkaranya lantaran karena Ayahnya Dewi yang memiliki pengaruh cukup besar di perusahaan Ayahnya Rahmat.


Sementara disisi lain, Rahmat bersembunyi dan mengintip di balik dinding rumah sakit. Pria itu ingin memastikan kondisi Pandu dan Dewi terkini. Dia berharap Dewi baik-baik saja tetapi tidak untuk Pandu. Rahmat menginginkan Pandu agar sekarat, menderita lalu meninggal dengan cepat, sehingga dia bisa menjadi suami Dewi menggantikan Pandu.


__ADS_2