Terpaksa Menikah Gadis Buta

Terpaksa Menikah Gadis Buta
Ungkapan Rasa


__ADS_3

Deg


Jantung Dewi berdebar, dengan apa yang dinyatakan Pandu terhadapnya. Antara percaya dan tidak percaya, karena sikap Pandu sendiri sering kasar terhadapnya.


"Hemm sejak lama?" Dewi ingin berbalik tetapi Pandu terus memeluknya erat dan malah menyembunyikan wajahnya di belakang leher Dewi


"Jangan balik, gue malu," ucap Pandu


"Lu malu juga kan gue ga bisa lihat," ucap Dewi


"Oh iya,"


Dewi tersenyum dengan tingkah Pandu.


"Ya sejak lama, waktu ospek SMA kayaknya. Gue juga baru sadar ma perasaan gue kuntii... waktu si mata empat itu bawa lu ke rumah kosong. Disitu Gue baru sadar kalau lu berarti buat gue. Gue juga baru sadar kenapa gue sering berantem sama Rahmat. Alasannya karena dia deket sama lu. Lucu ya.... Gue juga gak tahu kenapa gue suka ngebully lu, mungkin karena gue pengen dapat perhatian dari Lu," ungkap Pandu sedikit malu. Dia bukan tipe yang bisa ungkapin isi hati.


"Tapi kenapa waktu gue datang ke UI, Lu marahnya kayak gak seneng. Gue sedih Ndu....," ucap Dewi


"Hmm itulah bodohnya Gue. Gue terlanjur malu nunjukin perasaan Gue ke temen-temen. Dan.... ah udah ah kuntii Gue ga bisa terjemahin kenapa dan kenapa, intinya Gue gak mau pisah sama Lu," ucap Pandu masih terus memeluk Dewi


Dewi tersenyum kecil, ada sedikit kebahagiaan dihatinya saat Pandu mengatakan kata sayang. Kalau di ingat-ingat, memang Pandu selalu cari masalah dengan Dewi. Rupanya dia ingin dapat perhatian lebih.


"Lu sendiri gimana sama gue," tanya Pandu melepaskan pelukannya. Dia ingin lihat wajah Dewi saat mengungkapkan perasaannya.


"Hmm gimana maksudnya apa sih?" Dewi tersenyum masih membelakangi Pandu


"Heleh pakek pura-pura gak tahu, hadap sini kunti....," Pandu memegang bahu Dewi dan membuatnya terbaring terlentang.


"Masak Lu gak peka sih,"


"Ya kalau diungkapkan itu lebih berasa,"


"Hmmm Gue juga mulai sayang sama Lu... tapi... gue kan buta... Lu masih mau sama gue yang...," ucapan Dewi terhenti karena Pandu menutup bibirnya dengan sebuah kecupan.


Pandu memberikan jawaban dari pertanyaan Dewi dengan sebuah ciuman yang artinya dia tidak melihat fisik. Toh kebutaan Dewi juga karena dirinya.


Dewi mulai membuka mulutnya, instingnya berbicara untuk membalas kecupan itu menjadi sebuah ciuman.


Keduanya kini mengatakan perasaanya lebih dalam, detak jantung, napas yang sedikit memburu, dan bunyi perut tanda lapar


Dewi menghentikan ciumannya.


"Lu lapar ya?" tanya Dewi tak berapa lama suara perutnya Dewi juga berbunyi.


Dan keduanya tertawa


"Haha kalau gitu kita sama-sama lapar ya hehehe," ucap Pandu sambil terkekeh

__ADS_1


"Hehehe," Dewi tertawa terbahak. Meski dalam lampu remang tetapi Pandu jelas melihat kebahagiaan di wajah Dewi.


"Gue buatin makanan ya," ucap Dewi


"Eh jangan, gue aja,"


"Emang Lu mau bikin apa?"


"Indomiieee seleraku," Pandu terkekeh


"Haha iklan terus," Dewi juga terkekeh


Akhirnya jam 3 pagi itu mereka keluar dari kamar. Biki Asih masih tidur. Dewi menunggu Pandu di ruang makan, sementara Pandu beraksi diatas kompor.


Lima menit kemudian makanan mereka sudah matang. Pandu membawanya ke meja makan sekaligus membuat teh hangat untuk keduanya.


"Makasih sayang," ucap Dewi


"Hah apa? Lu bilang apa?" tanya Pandu meminta Dewi mengulang kalimatnya


"Sayang... Mas Pandu sayang...," jawab Dewi tersenyum


"Gue dengernya geli... tapi suka sih hehe," ucap Pandu


"Mau pakek nasi gak sayang?" tanya Pandu yang membalas kata sayang


"Tapi suka gak dipanggil sayang?"


"Suka," jawab Dewi singkat dan sedikit menunduk karena malu sambil memasukkan mie kedalam mulutnya


"Kalau gitu mulai sekarang gue panggil lu, sayang hehe," ucap Pandu


dan keduanya tersenyum sayangnya Dewi tidak bisa melihat senyuman Pandu, hanya Pandu saja yang menikmati senyuman Dewi.


"Orang Indonesia tuh gak afdol kalo gak pake nasi," ucap Pandu setelah beberapa menit terdiam karena sambil makan


"Trus makan coklat juga pake nasi?"


"Hahaha," keduanya tertawa lagi hingga bik Asih terbangun dan mengintip melihat keduanya saling bercanda.


"Ya Allah, dekatkanlah mereka dengan kebahagiaan, jadikanlah mereka keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah. Hamba tidak meminta lebih Ya Allah, sekiranya engkau berikan mukjizat Mu pada Dewi untuk bisa melihat lagi, hamba akan semakin bersyukur, Kabulkanlah ya Allah, Amiin," gumam Bik Asih lirih dan hanya bisa didengar olehnya dan Allah juga malaikat sebagai saksinya.


Selesai makan, Bik Asih sengaja keluar agar Dewi dan Pandu tidak repot mencuci piring.


"Astaga baru setengah empat kalian sudah sarapan?" tanya Bik Asih


"Haha ini makan kemarin Bik, Dewi kan ketiduran," ucap Dewi

__ADS_1


"Iya non itu ceritanya gimana kemarin. Kata mas Pandu, non ditelpon gak bisa-bisa, terus untungnya mas Pandu lihat non dibawa si Rahmat. Untung loh non mas Pandu datangnya cepat," ucap Bik Asih yang langsung duduk di samping Dewi


"Pandu datangnya udah telat lah bik, si Rahmat pan udah ngebuka tuh baju keliatan gunung kembarnya, beuh rasanya pengen nonjok sampe mati," geram Pandu.


Dewi langsung menundukkan kepala dan memegang dadanya merasa malu karena telah dilihat oleh seseorang yang bukan muhrimnya


" Ih ga nyangka ya Rahmat yang kliatan alim malah bejat, Dewi mau laporin dia ke polisi,"


"Eh Iya hape sama tas lu mana yank?" tanya Pandu pada Dewi


"Tas sama hape di ambil sama preman,"


"Yaudah sekalian Laporin aja non, perbuatan Rahmat sama tu preman ke polisi," ucap Bik asih


"Gak bakal balik Bik, apalagi Kuntii ga tahu orangnya kayak gimana. Dah ikhlasin aja hapenya, makannya nurut kata suami," ucap Pandu


Dewi memajukan bibirnya dan berkata, "Ya, maaf,"


Pandu gemas dengan wajah Dewi apalagi dengan bibir mode cemberut


"Ihh gemes banget gue," ucap Pandu, langsung menarik bibir Dewi dengan tangannya tetapi tidak kasar


"Hmmhh Pandu jelek ahhh tangan Lu bauk trasi," seru Dewi ingin marah tetapi Pandu sudah kabur berlari masuk kedalam kamar.


"Haha, Non mau? Ada sambal trasi dan tahu goreng sisa semalam," tawar Bibik


"Boleh deh Bik," ucap Dewi.


Bik Asih kemudian mengambilkan tahu goreng dan berkata sedikit serius.


"Non, semalam orang tua Nak Rahmat kesini," ucap Bik Asih


"Hah? Trus? Dia mau minta maaf gitu?" tanya Dewi


Bik Asih menggelengkan kepala tetapi percuma, Dewi tidak melihatnya. Dia pun melanjutkan ceritanya.


"Mereka marah non, karena Nak Pandu memukulinya sampai wajahnya bonyok. Beneran hancur wajahnya non. Bibik sampe gak kenalin. Bibirnya bengkak, matanya, pipinya juga bengkak. Kayaknya Nak Pandu memang marah sekali saat itu," ucap Bik Asih


"Astaghfirullah trus Pandunya gimana bik?"


"Dia santai aja non, dan ngotot karena Rahmat salah mau memperkosa non. Sementara Rahmat sendiri tidak mengaku. Dan keluarganya meminta bukti kalau Rahmat memperkosa non. Mereka juga akan membawa ini ke jalur hukum," ucap Bik Asih


"Kok Pandu gak bilang sih,"


"Mungkin gak sempat non,"


Dewi pun cemas, dia tidak mengira Pandu akan nekat menghajar Rahmat habis-habisan.

__ADS_1


__ADS_2