
Braaaak
Cesssziiiiing
Bunyi besi yang menggores aspal, berdengung di telinga Dewi. Motor Pandu yang ditabrak mobil Alphard, remuk. Tubuh Pandu sempat terseret motor beberapa meter, sedangkan Dewi melayang lalu terhantam kaca mobil dan jatuh berguling hingga tepi trotoar. Kepalanya terhantam badan jalan dan luka menggores pelipisnya.
Tragedi itu, disertai petir yang tak kunjung hujan. Dewi membuka matanya melihat bias cahaya yang masuk ke matanya.
Cahaya putih yang buram. Dia hanya melihat puing-puing motor yang hancur dan Pandu yang tergeletak dijalan tak sadarkan diri.
Dewi berusaha bangun, tetapi kepalanya terus berputar dan bunyi denging di telinganya tak kunjung berhenti. Darah terus mengalir dari samping kepala, padahal dia menggunakan helm namun tidak berlabel SNI.
Dewi memejamkan matanya, mengucek matanya agar pandangannya tidak kabur.
"Aku... aku bisa melihat lagi?" ucap Dewi dalam hatinya
Meskipun tidak jelas, sangat tidak jelas, pandangannya masih buram, sesekali juga masih terlihat gelap. Bagaikan menonton film jaman dahulu berwarna hitam putih namun lebih banyak blurnya namun ia tetap bersyukur bisa melihat walau sedikit.
Dewi terus berusaha bangkit dan ingin menghampiri Pandu, ia memanjangkan tongkat yang selalu terikat di pergelangan tangannya.
"Mbaknya gak apa-apa Mbak? Sini mbak saya antar ke pacarnya," ucap seorang pengendara wanita yang memberhentikan mobilnya demi menolong Dewi.
"Terimakasih, saya sedikit pusing. Tapi pria itu bukan pacar saya, Dia suami saya," ucap Dewi
Wanita penolong itu mengantarkan Dewi pada Pandu yang sudah diangkat pengemudi lain di pinggir jalan.
"Sini mbak duduk, Masnya sudah ditepikan di bahu jalan," ucap wanita penolong itu dengan menuntun Dewi, ia meraih tangan Dewi dan menaruhnya di dada Pandu
"Astaga, Sayang... kamu kok diem aja, kamu gak apa-apa kan?" tanya Dewi tetapi Pandu hanya diam.
Kepala Dewi kembali nyut-nyutan. Pandangannya juga belum stabil masih buram dan cenderung gelap meski ada sedikit cahaya yang masuk.
"Mobil yang menabrak itu kabur, sedangkan Mas ini tidak sadarkan diri. Sebaiknya segera diantar ke rumah sakit," ucap seorang pria.
Aku kenal mobil itu, apakah itu mobil orang tuanya Rahmat. Haruskah aku berakting dengan masih berpura-pura tidak bisa melihat? batin Dewi
Akhirnya Dewi di bantu dengan wanita penolong, Sinta namanya. Dia mengantar Pandu ke rumah sakit, Dewi juga ikut menemani. Soal kendaraan Pandu yang hancur, akan diantar ke rumahnya oleh salah satu pengendara pick up. Mereka menolong tanpa pamrih.
"Mbak, ada keluarga yang bisa dihubungi? Saya akan bantu meneleponnya," ucap Sinta setelah Pandu masuk ke ruang IGD.
__ADS_1
"Terimakasih atas bantuannya mbak Sinta, kalau begitu bisa hubungkan saya dengan bik Asih," ucap Dewi.
Dewi sebenarnya masih pusing terutama pada area kepala dan mata nya. Mungkin karena shock atau syaraf yang sempat membuatnya buta tersebut kembali normal. Sehingga dia belum bisa benar-benar melihat.
Setelah terhubung, Dewi langsung berbicara dengan bik Asih. Setelah itu Dewi juga mengabari orang tua Pandu, kali ini tanpa bantuan Sinta. Karena Dewi menyetting mode aksesbilitas yang mengeluarkan suara setiap kita menekan sesuatu.
Rupanya dia bisa sendiri, baguslah dengan begitu aku akan tenang meninggalkan dia disini, batin Sinta yang merasa kasihan dengan keadaan Dewi tetapi dia jadi tenang ketika dia bisa lihat Dewi mengoperasikan ponselnya sendiri
Sinta ingin pamit, tetapi dia memutuskan untuk menunggu keluarga Dewi datang. Wanita itu berusia dua kali lebih tua dari Dewi. Tetapi saat mereka berdekatan bagaikan adik dan kakak.
Sambil menunggu keluarga Dewi dan Pandu datang, Sinta mengobati pelipis Dewi yang terluka. Tak berapa lama suster memanggil Dewi untuk pembicaraan serius di ruangan dokter.
"Malam bu Dewi, silahkan duduk," ucap Dokter Alwi kemudian dia sedikit membungkuk memberi hormat pada Dewi tetapi anehnya seakan-akan dia membungkuk ke arah Sinta
"Malam Dok, terimakasih. Hemm bagaimana dengan keadaan suami saya Dokter?" sahut Dewi kemudian diakhiri dengan sebuah pertanyaan
Sang Dokter mengambil napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan.
Sepertinya cukup serius, Sinta menemani Dewi di sampingnya. Entahlah wanita itu terus mengekor pada Dewi.
"Maaf sebelumnya bu Dewi, kecelakaan yang dialami Pasien, saya rasa cukup hebat. Hingga kepalanya mengalami cidera dalam. Kami sudah memeriksanya dan untuk menentukan Pasien ini koma atau tidak, kami juga sudah melakukan pemeriksaan dengan elektroensefalogram, atau EEG, oleh MRI, dan upaya lain untuk menemukan kelainan yang terjadi pada jaringan otak. Dan hasil yang kami dapatkan adalah Pasien Pandu ini dalam keadaan koma. Otaknya menunjukkan nol kesadaran atau proses kognitif yang akan terjadi saat bangun, dan tidak dapat menunjukkan respons terhadap rangsangan eksternal. Kesadaran dari Pak Pandu telah mati sementara, karena gangguan komunikasi otak antara batang otak dan otak besar yang mengendalikan fungsi kognitif," jelas dokter Alwi panjang lebar
"Bisa tetapi kami perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk melihat apakah ada pembengkakan pada otaknya. Untuk sementara kami hanya mengamankan pernapasan dan sirkulasi untuk memaksimalkan jumlah oksigen yang mencapai otak. Jika seumpama dalam pemeriksaan ditemukan ada pembengkakan otak, pembedahan mungkin diperlukan untuk mengurangi tekanan terhadap otak," ucap Dokter
"Pembedahan otak? Astaghfirullah semoga Pandu baik-baik saja. Jangan sampai kondisinya semakin memburuk," gumam Dewi
Sinta yang berada di sampingnya ikut syok mendengar hal itu. Cukup aneh memang, padahal dia bukan siapa-siapanya Dewi apalagi Pandu apakah ini hanya sekedar hatinya sebagai manusia yang ingin membantu? Sebenarnya sinta adalah pemilik rumah sakit tempat Pandu di rawat.
"Dewi... Pemeriksaan akan dilakukan besok karena malam ini bagian radiologi sudah tutup. Sementara kamu dan keluarga harus merundingkan jika hasil terburuknya nanti harus operasi kami harus bisa mengambil tindakan yang terbaik," ucap Sinta
"Maaf Ibu Sinta siapa ya? Kenapa bisa tahu jadwal radiologi?" tanya Dewi
"Saya pemilik rumah sakit ini, saya sebenarnya akan pulang saat salah satu keluarga kamu sudah ada yang menemani. Jujur saja saya ini orangnya tidak tegaan," ucap Sinta
"Betul Bu Dewi, Bu Sinta ini kerapkali mendampingi pasien atau keluarga korban yang sedang kesusahan terkadang dia memberikan bantuan secara cuma-cuma," ucap Dokter membenarkan
"Oh begitu, iya saya merasa sedikit tenang dengan kehadiran bu Sinta disini," ucap Dewi
"Ah dokter terlalu membesarkan, bukankah kita sebagai manusia harus saling tolong menolong?" ucap Sinta
__ADS_1
Semua tersenyum dan menganggukkan kepala, "Hemm berarti pasien masih harus berada di ruang ICU ya?" lanjut Sinta
"Benar, untuk sementara pasien masih di tempatkan di ruang ICU sampai mendapatkan cukup oksigen,"
Setelah perbincangan serius dengan Dokter Alwi, Dewi dan Sinta meninggalkan ruangannya dan duduk di ruang tunggu.
"Dewi sebentar ya, saya beli air mineral dahulu kamu pasti haus kan?" ucap Sinta
"Terimakasih bu, tidak usah repot-repot nanti saya bisa beli sendiri," ucap Dewi
"Tidak repot kok, Saya akan disini sampai ada yang menemani kamu. Hemm sebentar ya," ucap Sinta kemudian ia melangkah pergi membeli air mineral pada Vending Machine yang ada di ujung lorong.
Tak berapa lama orang tua Pandu datang.
"Gimana kondisi Pandu," tanya Mila dan Yoga
"Masih di ruang ICU Bu, besok akan dilakukan pemeriksaan lanjutan, kalau ditemukan pembengkakan maka Pandu harus di operasi," ucap Dewi menjelaskan
"Apa!" pekik Mila yang suaranya melengking hingga ujung koridor
Bahkan Bu Sinta yang sedang membeli air mineral pada mesin jual otomatis itu sampai menoleh ke arah Dewi.
"Ck siapa sih ibu itu, gak atau apa ya ini rumah sakit butuh ketenangan," ucap Sinta dari jauh
"Yaudah deh bu, tunggu Pandu aja berharap dia segera sadar dari komanya," ucap Yoga, Ayahnya Pandu
Sang Ayah melangkahkan kaki ingin duduk, dia juga menyuruh Istrinya dan Dewi untuk duduk bersamanya. Tetapi sebelum Yoga mendaratkan bokongnya ke kursi duduk Mila malah memaki Dewi
"Kamu tuh emang pembawa sial ya, Pandu udah disuruh nikah sama kamu yang buta, trus harus ganti handphone temannya yang di rusakin itu kan juga gara-gara kamu. Eh sekarang kecelakaan juga pasti karena kamu ada di dekat dia. Iya kan?" tuduh Mila yang membebankan semuanya karena Dewi pembawa sial
Mila ingin menarik rambut Dewi tetapi sebuah tangan menghentikannya,
"Ini rumah sakit tolong jangan membawa keributan," ucap Sinta
"Kamu!" Mila membelalakkan matanya sementara Sinta mengernyit karena merasa tidak kenal.
"Sinta," ucap Yoga yang langsung berjalan mendekati Mila
"Yoga Aditama?" Bola mata Sinta membulat penuh seakan-akan ingin keluar dari tempatnya
__ADS_1