Terpaksa Menikah Gadis Buta

Terpaksa Menikah Gadis Buta
Dimanfaatkan


__ADS_3

Miris tinggal di kota Jakarta, Kota Metropolitan yang semuanya sibuk dengan urusan masing-masing. Rasa kemanusian, saling tolong menolong hampir jarang ditemui. Acuh tak acuh, Lu-Lu Gue-Gue, urusan Lu bukan urusan Gue. I don't care.


Dewi hanya bisa menangis, kebingungan. Seharusnya dia tetap di kampus menuruti ucapan Pandu. Inilah akibatnya jika tidak menuruti ucapan suaminya. Meskipun jahat, kasar tidak peduli tetapi Pandu tetaplah suaminya.


Dia ingin berjalan kembali tetapi dia sendiri bingung tadi dirinya sedang menghadap ke mana karena berputar-putar mengejar preman.


Dengan bantuan tongkatnya dia melangkah ke depan. Ada satu tangga menurun, Dewi turun dengan langkah berhati-hati lalu mulai berjalan


Tiiiiiin


Suara klakson besar mengagetkannya. Ada sebuah truk yang melintas. Dewi langsung segera mundur tetapi kakinya tersandung tangga tadi dan jatuh.


Untung saja ada sebuah tangan yang memegang kedua lengannya dari belakang.


"Dew, Lu gak apa-apa kan?"


Suara pria yang paling dekat dengan Dewi, Rahmat.


"Eh Rahmat, makasih ya," ucap Dewi dengan wajah yang berantakan


"Lu abis nangis ya? Lu sama siapa?" tanya Rahmat seraya menuntun Dewi ke tepi trotoar.


"Gue abis di rampok. Hape sama tas gue lenyap. Gue sendirian," ucap Dewi


"Pandu mana sih bukannya nganterin Lu,"


"Pandu gak tahu kalo gue keluar, Gue cuma mau ke minimarket tapi gak tahu deh kang ojol malah nurunin gue disini. Rahmat.... hmmm Lu mau kan antar gue ke rumah," sahut Dewi.


Rahmat berpikir dengan akal liciknya.


Ini saatnya. Dendam belum terbalaskan Dew, Lu udah nolak cinta gue maka gue bakal bertindak, batin Rahmat seraya tersenyum licik.


Dewi tidak tahu jika Rahmat tersenyum padanya dengan segala rencana kotor di pikirannya.


"Yaudah aku antar, tapi kita mampir ke apotek dulu ya. Gak jauh dari sini kok," ucap Rahmat


"Loh siapa yang sakit?" tanya Dewi

__ADS_1


"Nyokap, tadi kan keluar mau beli obat eh malah ketemu kamu," ucap Rahmat


Rahmat sebenarnya berbohong, ibunya tidak sakit. Dia ke apotek karena ingin membeli obat tidur.


Sesampainya di apotek Rahmat menyuruh Dewi menunggunya di dekat motor saja karena dengan alasan tempat apoteknya ramai pembeli. Padahal yang sebenarnya adalah apotek itu tidak ramai dia berkata seperti itu agar Rahmat bisa leluasa bilang kepada apoteker, obat apa yang ingin dibelinya.


Di samping apotek, ada warung makan bakso. Rahmat ke membeli teh hangat agar bisa memasukkan obat tidur itu ke dalamnya. Lalu memberikannya pada Dewi.


"Dew, sorry ya lama nunggu antrian. Sambil nunggu antrian, ni gue beliin teh hangat. Gue lihat lu kecapekan gitu," ucap Rahmat yang memanfaatkan keadaan Dewi


"Duh makasih ya, lu tahu banget kalau gue haus. Lu beli dimana tehnya,"


"Ya tahu lah, gue kan cowok yang pengertian. Itu warung bakso sebelah apotek," ucap Rahmat


Dewi pun tersenyum tanpa menaruh curiga, dia meminum teh hangat dalam gelas.


"Kok agak pait ya," ucap Dewi


"Mungkin tehnya kali Dew kan namanya juga orang jualan. Tehnya ya mungkin beli yang harga paling murah ehhee," jawab Rahmat


Setelah 15 menit kemudian, akhirnya Rahmat pergi segera sebelum Dewi tertidur. Karena reaksi obat tidur itu adalah setengah jam.


"Yuk Dew, gue antar pulang dah selesai nih," ucap Rahmat


"Oh ok," Dewi naik ke atas motor.


Ditengah perjalanan Dewi seperti mendengar namanya di panggil. Suara Pandu terdengar dari kejauhan tetapi Dewi tidak bisa melihatnya.


"Eh Rahmat, itu kok kayak ada yang manggil gue ya, itu Pandu bukan sih?" tanya Dewi


"Gue lihat di spion gak ada kok," ucap Rahmat


Duh kalau itu beneran Pandu bisa gagal rencana gue, batin Rahmat kemudian menambah kencang laju motornya.


Rahmat membawa Dewi ke rumah lamanya, terkadang Rahmat tidur disana sambil menunggu pembeli atau penyewa.


Tapi tidak mungkin jika dia beralasan mampir lagi jadi sebelum sampai ke rumah lamanya, Rahmat sengaja membuat motornya berjalan tersendat-sendat. Lalu mematikan mesinnya

__ADS_1


"Loh kenapa motor Lu, kok gini," tanya Dewi


"Aduh Dew... kayaknya kehabisan busi deh," ucap Rahmat


"Busi tu apaan?" tanya Dewi


"Busi tuh komponen penting dalam sistem pengapian di motor. Kalo Busi rusak, dia gak mampu menghasilkan percikan api yang cukup di ruang bakar, jadinya motor sulit dinyalakan, baik dengan kick starter maupun electric starter. Mau dipaksa gimana pun gak bakal bisa nyala. Intinya, tanpa busi, motor ga bisa di hidupin mesinnya," jelas Rahmat


"Oh gitu, trus gimana dong ni,"


"Turun dulu deh, kita cari bengkel, nah di depan ada bengkel kecik tuh," ucap Rahmat


Dewi menurut saja karena dia tidak bisa melihat. Tapi ada sedikit aneh karena jalanan yang dia lewati sepi kendaraan.


"Ini dimana sih, kok kayaknya gak serame tadi ya. Ini ga ada bunyi kendaraan gitu," ucap Dewi


"Ini jalan apa ya? gue juga ga tahu, tadi gue lewat jalan tembus sih biar cepat sampai," ucap Rahmat


"Bang motor gue rusak nih, kayaknya businya," pekik Rahmat seolah-olah ada orang di sana padahal dia mereka sudah berada di teras rumah lama Rahmat


"Oh iya bang siap, tunggu disana dulu bang," ucap Rahmat dengan suara yang dibuat berbeda


"Kita duduk dulu wi. Jadi ini tuh rumah tapi ada bengkelnya di samping gitu," jelas Rahmat


"Lu kenapa Dew? Kok diem aja," tanya Rahmat lagi


"Hemm enggak kok, cuma agak ngantuk aja, mungkin kecapekan,"


"Yaudah duduk dulu aja," ucap Rahmat tersenyum puas. Sebentar lagi rencananya untuk memperkosa Dewi berhasil.


Tak butuh beberapa lama Dewi sudah tertidur. Rahmat langsung membopongnya ke dalam rumahnya yang sepi. Tak ada perabotan apapun selain tempat tidur dan kursi.


Setelah merebahkan Dewi masuk kedalam kamarnya Rahmat cepat-cepat mengunci pintu rumahnya. Menutup tirainya rapat-rapat. Sandalnya dia pakai karena rumahnya sedikit berdebu.


Rahmat kembali ke kamar melihat Dewi yang sudah tertidur lelap, reaksi obat itu bekerja efektif. Bisa dipastikan dia akan tertidur hingga malam.


"Dew....Lu cantik banget," ucap Rahmat yang terus membasahi bibir dengan lidahnya. Rak sabar ingin segera membuka kain yang menutupi tubuh Dewi

__ADS_1


__ADS_2