
"Mereka siapanya kamu Dewi?" tanya Sinta
"Dia mertua saya Bu, dan yang sedang didalam itu adalah anak mereka, Pandu. Suami Saya," jawaban Dewi membuat Sinta sedikit bahagia.
Jadi.... Pandu adalah..... anakku. Astaga aku harus bahagia atau sedih... batin Sinta
"Kamu, jangan kasar sama dia," ucap Sinta menuding telunjuk ke arah Mila, dan menunjuk Dewi dengan dagunya.
"Aku mau bicara sama kamu mas," ucap Sinta yang langsung berjalan duluan ke sebuah tempat.
Mila hanya diam melihat suaminya yang menurut dan tidak menolak Sinta, mantan istrinya. Sementara Dewi dilanda kebingungan. Pandangannya kembali menghitam, pening mulai menjalar dan dia pun duduk kembali.
Kenapa Pandanganku gelap lagi...Semoga aku bisa melihat laginya Tuhan, batin Dewi
Di sebuah ruangan yang tak lain adalah ruang direktur.
"Kamu menikahkan Pandu di usianya yang muda? Kamu jangan seenaknya gitu dong, aku itu ibu kandungnya," seru Sinta
"Aku terpaksa, Pandu mencelakai Dewi hingga gadis itu buta. Lalu orang tuanya tidak bisa menuntut uang untuk kesembuhan Dewi, maka dari itu mereka hanya minta agar Pandu menikah dengan Dewi dan bisa menjadi mata untuk Dewi, orang tua Dewi takut jika tidak ada yang ingin menikah dengan anaknya karena tragedi kebutaannya adalah kesalahan Pandu," ucap Yoga menjelaskan
"Tapi tetep aja kamu salah. Untung aja Dewi anak yang baik,"
__ADS_1
"Gimana aku hubungin kamu? Rumah dan nomer telepon kamu selalu ganti Sin...,"
Memory masa lalu terulang kembali, setelah menikah kehidupan Sinta semakin memburuk. Yoga dipecat dari pekerjaannya karena tersingkir dengan karyawan yang jenjang pendidikannya lebih tinggi. Ia pindah menjadi kuli bangunan yang kebutuhan rumah tangganya selalu berkurang.
Ketika orang tua Sinta datang berkunjung, dia kasihan melihat kondisi Sinta. Ia pun dibawa paksa oleh orang tuanya yang kaya raya, untuk kembali ke rumahnya. Sementara Pandu ditinggalkan karena dianggap pembawa sial.
Sinta meraung dan menangis sejadi-jadinya, tetapi dia tidak dapat berbuat apapun. Bodyguard orang tuanya menghalangi aksi Sinta untuk kembali.
Hal itu terjadi ketika Yoga pergi bekerja sementara Pandu yang masih balita tidak ada yang menjaga dirumah . Pandu merangkak hingga ke jalan raya dan ditemukan oleh Mila. Untung saja Mila kenal dengan Pandu, tetapi ketika Mila sampai di rumah Pandu, tidak ada siapapun disana.
Rumahnya sepi, kosong tetapi pintunya terbuka. Akhirnya sore itu Mila memutuskan menjaga Pandu hingga orang tuanya pulang.
Setahun lamanya, Sinta baru bisa menemui Yoga, itu pun secara diam-diam, tetapi berbeda cerita. Yoga sudah menikah dengan Mila. Hati Sinta kecewa, tetapi semuanya bukan kesalahan Yoga sepenuhnya.
"Aku malu dengan orang tuaku, aku juga malu menunjukkan wajahku di depan kamu dan anakku karena aku meninggalkan kalian, hiks..., " Sinta mulai menangis
Buru-buru ia menyeka air matanya, tidak ada gunanya menyesali hal kemarin. Yang terpenting sekarang keadaan Pandu.
"Tolong rahasiakan jika Pandu adalah anak kandungku, biarlah dia tetap menganggap Mila Ibu kandungnya," ucap Sinta
"Pandu sudah tahu soal kamu, aku cerita semuanya tanpa ada yang ditutupi. Namun kembali lagi pada Pandu. Aku tidak tahu bagaimana sikapnya jika bertemu denganmu,"
__ADS_1
"Aku akan memberikan pelayanan yang terbaik di rumah sakit ini," Sinta tidak membalas ucapan Yoga. Dia langsung menelepon seseorang bagian radiologi, meminta mereka untuk masuk malam itu juga, agar pemeriksaan Pandu segera ditangani.
Sinta menawarkan bonus besar bagi yang bisa bekerja malam itu demi anaknya semata wayang.
Orangtuanya Sinta kini keduanya telah meninggal. tidak ada lagi yang melarangnya untuk bertemu dengan keluarga lamanya. Dia bisa saja kembali pada keluarganya tetapi ada Mila yang senantiasa menjadi pengganti dirinya.
Setelah beberapa menit berbincang, Yoga dan Sinta keluar dari ruangan. Mila masih terdiam di bangku, tidak berani memarahi Dewi karena ancaman Sinta. Dia tahu Sinta punya kendali karena dia punya banyak uang dan bodyguard yang bisa datang sewaktu-waktu.
"Kabar baiknya, Pandu bisa di periksa lebih lanjut malam ini. Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi," ucap Sinta
"Amiin semoga saja, tetapi kata bu Sinta bagian radiologi sudah tutup?" tanya Dewi
"Mereka akan buka sebentar lagi, jadi kamu tenang saja ya?" ucap Sinta kemudian dia memperhatikan Dewi yang semakin pucat.
"Dew... kamu baik-baik saja kan? Kenapa pucat sekali?" ucap Sinta
"Ya bu, sedikit pusing. Mungkin efek dari kecelakaan tadi,"
Tak berapa lama Bik Asih datang. Juga orang tua Dewi yang datang dengan berlari kecil. Semuanya berkumpul di ruang tunggu.
Baru saja Orang tua Dewi mendekat dan bertanya keadaan yang sebenarnya, Dewi jatuh pingsan.
__ADS_1