
Pandu menceritakan semua yang dialaminya pada pengacara yang baru saja bertemu dengannya secara tak sengaja bagaikan takdir menjawab do'anya.
Si pengacara pun menerima kasus Pandu, dia meminta Pandu untuk bertemu di kantornya pukul delapan pagi nanti untuk membahas permasalahannya dengan lebih detail , karena tidak mungkin Pengacara tersebut menyiapkan berkasnya dengan tangan kosong.
Sepulang dari masjid hati Pandu berbunga, bukan karena habis bertemu kekasih atau orang yang dicintainya melainkan sebentar lagi masalahnya akan selesai. Rencananya pagi itu Pandu akan bertemu dengan teman-temannya tetapi ia urungkan merasa masalahnya telah selesai.
"Mas Pandu pulang-pulang kok senyum-senyum," sapa Bik Asih
"Hehe soalnya tadi nih di masjid... " Belum juga Pandu selesai bicara Dewi sudah memotongnya karena ikut penasaran
"Memangnya di Masjid ada apa?" tanya Dewi
"Gue ketemu pengacara," ucap Pandu
Setelah itu dia mulai menceritakan awal pertemuannya dengan si pengacara
"Tapi kan kita harus keluar uang Ndu. Emang berapa dia minta?" tanya Dewi
"Dia bilang prodeo, alias tidak di bayar," ucap Pandu
"Ih harus yang jelas dong, nanti kalau tahu-tahu dia minta 10 juta gimana?" ucap Dewi
"Iya Kunti sayaang, nanti jam delapanan aku sama dia rencananya ketemu lagi sambil bicarain secara detail. Kamu juga ikut ya," pinta Pandu
Bik Asih kemudian tersenyum, tetapi Pandu abaikan
"Ya udah masih ada waktu beberapa jam, masih sempat buat masak," tanya Dewi
"Gak usah sayang, kamu gak usah masak aja, biar gak capek," ucap Pandu
Bik Asih kembali tersenyum dan terkekeh kecil. Lantas Pandu pun bertanya, "Kenapa sih bik? Kok ketawa gitu sama senyum-senyum?"
"Hehe gak ada apa-apa kok mas Pandu, cuma seneng aja Panggilan ke non Dewi udah bukan lu gue lagi. Trus pake embel-embel sayang lagi hehe," ucap Bik Asih
Dewi tersenyum malu ia juga baru menyadari apa yang diucapkan Bik Asih. Apalagi Pandu baru sadar dengan sikapnya.
"Masak sih ehehe, mungkin hawanya lagi baik aja bik kan abis dari masjid hehehe," jawab Pandu nyeleneh
Hari itu mereka tidak ada kegiatan di luar, karena kuliah akan aktif bulan depan. Jadi Pandu memilih mencuci motor bututnya di depan rumah.
Sementara Dewi memasukkan pakaian kotornya dan pakaian Pandu ke dalam mesin cuci. Sedangkan Bik Asih, berbelanja ke tukang sayur yang selalu nongkrong di dekat lapangan perumahan setelah subuh.
Sambil menunggu mesin cuci selesai menggiling pakaiannya, Dewi ke teras menghampiri Pandu yang sedang mencuci motor.
"Mas Pandu," panggil Dewi
"Haha tumben panggil Mas ahhaa pengen ketawa gue, panggil biasa ajalah kuntiii," Pandu malah tertawa mendengarnya
__ADS_1
"Hehhe, habis dari kantor pengacara itu anterin ke lab ya?" pinta Dewi
Mendengar kata Lab, Pandu menghentikan aktivitasnya dan menghampiri Dewi
"Lu sakit?" tanya Pandu lalu di jawab Dewi dengan menggelengkan kepalanya
"Enggak,"
"Trus?"
"Tadi sebelum mandi, gue nampung urin, biar bisa di cek lab apakah ada obat tidur atau enggak, kan bisa nambah data valid Ndu," jelas Dewi
"Wah pinter juga lu, nanti kita ke apotek dimana rahmat beli, disitu ada dua apotek nanti kita datangi satu-satu," ucap Pandu
"Gak perlu, kemarin itu dia beli minuman di samping Apotek katanya di warung bakso gitu. Jadi nanti tinggal cari Apoteknya yang di sampingnya ada jualan bakso,"
"Untung lu tahu ada jualan bakso disana, yaudah gue lanjut nyuci motor," ucap Pandu
Dewi juga harus kembali ke dalam melanjutkan cuciannya.
Tak berapa lama ponselnya berdering, Ponsel jadul umat manusia sebelum ada Android. Nada dering yang sangat akrab di telinga jutaan manusia, nada dering Nokia.
Pandu sebenarnya enggan mengangkat setelah tahu penelepon itu adalah Nesty, dia tidak ingin ribut lagi dengan Dewi tapi apa mau dikata pria itu harus menepati janjinya.
"Ya,"
"Gak usah Nes, ntar gue usahain buat lunasin utang gue ke elu. Emang kenapa lu telepon?"
"Nanti anterin gue ya ke mall. Gue mau nonton ma temen-temen gue,"
"Jam berapa?" tanya Pandu singkat
"Jam sepuluh, bisa kan? Gak boleh nolak loh," ucap Nesty
"Gue ada urusan, gak janji ya bisa apa enggak," ucap Pandu kemudian kembali duduk di kursi teras rumah
"Ya pokoknya usahainlah bisa," sahut Nesty yang tidak mau tahu
Dewi mendengar Pandu yang berbicara sendiri kemudian ia sedikit mendengar rupanya Pandu sedang menerima telepon. Lalu Dewi menghampiri Pandu lagi, dia ingin bicara dengan Nesty.
"Siniin hape lu, gue mau ngomong," ucap Dewi meminta ponsel Pandu
Pandu langsung memberikan ponsel jadulnya kepada Dewi
"Hei Nesty," ucap Dewi
"Kuntii itu hapenya kebalik," bisik Pandu
__ADS_1
Dewi kemudian membalikkan ponselnya, karena tadi Dewi berbicara di tempat yang seharusnya di atas. Setelah dibalik ia pun kembali bicara.
"Eh Kuntilanak," sapa Nesty
"Berapa hutangnya Pandu, nanti gue lunasin. Setelah itu jangan ganggu ataupun deketin suami gue lagi," ucap Dewi langsung mematikan ponsel Pandu
"Maaf gue gak bermaksud ngerendahin lu dengan ngebayarin utang lu, tapi gue gak mau lu deket-deket Nesty,"
"Iya, gak apa-apa, nanti kalau hape Sabri yang kemarin gue rusakin udah bener di servis, langsung gue jual. Tapi serius lu mau nalangin,"
"Lu kan sekarang suami gue, masak gue gak bantu sih. Kalo hapenya selesai di servis, lu pake aja. Ganti uang gue kapan-kapan, kalau lu udah punya penghasilan sendiri," sahut Dewi
Sejujurnya Pandu merasa tidak enak, belum punya penghasilan untuk menghidupi keluarganya tapi, apa boleh buat keinginan untuk menikah dini juga bukan keinginannya. Mereka terpaksa menikah namun kini keduanya mulai menerima pernikahan dan belajar saling menyayangi.
"Kunti.... makasih ya,"
"Iya, yaudah gue mau balik nyuci,"
Dewi melangkah masuk, Pandu mengikutinya dan menutup pintunya. Mumpung tidak ada orang dirumah, dia ingin melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
"Astaga, kenapa tutup pintunya kenceng-kenceng sih," ucap Dewi berbalik
"Buru-buru,"
"Buru-buru emang kenapa sih?" tanya Dewi
Pandu kini berada tepat di hadapan Dewi, dia bisa melihat Dewi dari dekat sangat cantik dan menggoda meski hanya memakai daster. Sementara Dewi pandangannya gelap. Tak ada apapun yang dilihat. Semua gelap dan gelap.
Jantung Pandu berdegup kencang saat ia mulai menyentuh leher Dewi dan mengecup bibirnya, kecupan kecil dan berubah menjadi ciuman.
Pandu mengangkat Dewi dan berjalan menuju kamarnya.
"Ahh Pandu lu mau apain gue,"
"Gak gue apa-apain kok, cuma gendong trus jalan menuju kamar," bisik Pandu dengan suara napas sedikit tak terkontrol.
Sejujurnya Dewi belum siap, meski cinta sudah hadir didalam hatinya.
Pandu merebahkan Dewi di ranjang mereka yang besar dan kembali mengecup bibirnya.
"Kalau lu gak ijinin, gue bakal nunggu sampe lu bersedia," ucap Pandu
Dewi tak langsung memberikan jawaban dia seperti berpikir.
"Gue... hmmm,"
"Haha wajah lu lucu banget sih, ya kalau belum siap gak apa-apa, masih ada hari lain kan. Sorry ya," Pandu beranjak tetapi sebuah tangan menghentikannya
__ADS_1
"Lakukanlah, Gue... ijinin," ucap Dewi malu-malu dengan wajah merona