
Pandu dan Dewi sedang dalam perjalanan menuju kantor pengacara. Semakin mendekati kantor pengacara, Pandu sedikit gugup. Dia mengambil tangan Dewi yang berada di samping pinggangnya laku menariknya ke depan hingga tubuh Dewi jatuh di punggungnya.
"Sayang, deket-deket dong," ucap Pandu
"Hah apa?" Dewi tidak dengar karena dia memakai helm bermerek yang sedikit kedap suara.
"Deketan duduknya, peluk kek," pinta Pandu
"Hihi iya," Dewi langsung mendekat dan tangan satunya juga ikut mendekap Pandu dari belakang.
Dewi tidak menyangka Pandu yang terlihat kecil rupanya memiliki punggung yang besar. Ia pun menyandarkan dagunya di atas bahu Pandu.
Beda banget ya rasanya boncengin temen sama istri sendiri. Kerasa banget nyamannya, batin Pandu tersenyum sendiri ketika membandingkan saat membonceng Nesty dengan Dewi
Sesampainya di kantor pengacara, Pandu disambut baik oleh resepsionis.
"Saya mau bertemu dengan Pengacara Ronny," ucap Pandu
"Owh beliau sedang ada tamu silahkan menunggu di lobby dahulu. Maaf dengan siapa bisa tulis nama dan nomer teleponnya,"
Pandu menulis namanya di atas buku tamu. Lalu mereka untuk duduk di loby terlebih dahulu. Disisi lain kegugupan membuat Pandu ingin buang air kecil. Ini pertama kalinya dia berurusan dengan hukum
"Namanya siapa sih?" tanya Dewi
"Ronny Talapessy, kayaknya itu pengacara yang bantuin Barada E," ucap Pandu
"Tunggu-tunggu kamu ketemu di masjid kan katamu? Ronny pengacara Barada E itu Kristen yank, kamu salah mungkin," ucap Dewi
"Masak sih? Duh nanti aja deh dibahas aku kebelet pipis hehe," ucap Pandu beranjak dari duduknya kemudian bertanya lagi pada mbak-mbak resepsionis
__ADS_1
"Mbak, permisi, saya boleh pakai toiletnya?" tanya Pandu
"Oh ya jelas boleh dong. Ini lurus saja, melewati ruangan pengacara lalu belok ke kanan," ucap resepsionis mengarahkan
"Terimakasih mbak, " ucap Pandu pada Resepsionis kemudian ia pamit pada Dewi untuk menunggunya di lobby dan jangan kemana-mana.
"Aku gak lama, cuma buang air kecil kok. Kamu disini aja yank... jangan kemana-mana," sahut Pandu
"Iya, aku tunggu disini," jawab Dewi
Setelah itu Pandu berjalan ke toilet, melewati ruangan pengacara. Rupanya di pintu tergantung nama pengacaranya Ronny Tafessy.
"Ahh baru inget gue kalau orang Betawi kan ada yang ga bisa bilang huruf f, huruf f sering kebalik jadi P. ahahaha Pandu-pandu..," gumam Pandu sendirian dan melanjutkan jalannya tetapi ia sedikit mengintip dari jendela besar yang ada disana. Meski beberapa terlihat buram tetapi ada bagian jendela yang terlihat jelas dan Pandu melihat Rahmat ada disana.
Loh gimana sih ini pengacaranya katanya mau bantuin gue tapi kok ada Rahmat. Gue gebukin juga tuh orang, batin Pandu
Tetapi saat Pandu akan membuka pintu toilet, pintu itu terkunci. Ada seseorang di dalamnya.
"Pak atau buk, maaf buruan dikit dong kebelet nih," ucap Pandu sedikit menggedor-gedor pintu toilet
"Iye bentar," ucap seorang pria.
Tak berapa lama orang tersebut keluar namun fisiknya seperti wanita, memakai high heels, rok mini, baju terbuka memperlihatkan belahan dadanya tetapi bagian sangat putih juga lentur. Seorang pria yang sudah transgender cantiknya melebihi seorang wanita tetapi tetap saja membuat Pandu bergidik saat pria lentik itu menyapanya.
"Eh ganteng banget sih lu," ucap pria lentik itu sembari membelai dagu Pandu
Merinding cuuyy
Pandu cepat-cepat masuk ke dalam toilet dan membuang hajatnya.
__ADS_1
Legaaa
Langsung saja ia siram dengan air berwarna bening karena kerannya mati. Setelah itu Pandu ingin sekali melabrak pengacara yang sedang berbicara dengan Rahmat dan keluarganya.
Namun Rahmat dan keluarganya tidak ada didalam. Saat Pandu ingin masuk ke dalam dan memastikan, tiba-tiba saja ada suara ribut-ribut di depan.
Feeling Pandu jadi tak enak, ia lantas menuju ke lobby dimana Dewi menunggunya disana.
"Eh jangan sembarangan kamu ya nuduh Rahmat mau memperkosa kamu..!! Ngaca dong Ngaca," ucap Ibunya Rahmat seraya menyoroti kepala Dewi dengan telunjuknya.
Pandu datang meraih lengan ibunya Rahmat dan mencengkeramnya dengan erat hingga ibunya kesakitan
"Eh ngapain kamu pegang-pegang ibu aku," ucap Rahmat
"Ahh sakit, ini bisa saya tuntut loh, lepasin!" ucap ibunya Rahmat
Pandu hanya diam, dia hanya memperlihatkan kemarahannya karena istrinya ditindas.
"Heh kurang ajar kamu ya! Lepasin istri saya!" ucap Ayahnya Rahmat
Pandu dengan kasar melepaskannya. Dan sorot matanya kini beralih ke ayah Rahmat.
"Dengar Ya! Yang kurang ajar itu Istri Anda! Dia yang memulai menyoroti kepala Istri saya! Apa haknya! Jangan salahkan saya jika berbuat kasar karena dia yang memulai. Dan lagi Rahmat yang sok suci yang selalu anda bela tak lebih dari seekor binatang. Ingin memperkosa Dewi bilangnya tidak mengakui, cuih!" ucap Pandu yang meludah namun tak keluar ludahnya.
Satpam datang dan melerai keduanya, termasuk Pengacara tersebut.
"Ada apa ini kenapa ribut-ribut di kantor saya," ucap Ronny
"Ini dia orangnya yang mau memperkosa istri saya, memanfaatkan kebutaannya dan kepolosannya. Siapa yang tidak marah? Jika pak pengacara ingin membela pria itu silahkan! Semoga keadilan masih ada untuk istri saya," ucap Pandu, Dewi yang berdiri di sampingnya menyuruh Pandu untuk diam dan tidak berteriak-teriak.
__ADS_1