
"Hamil?" ucap Pandu dan Dewi berbarengan.
Dewi kemudian menggelengkan kepala, "Enggak kok Pak, Bu. Dewi ga hamil. Tadi cuma eneg sama bau ilernya Pandu," jelas Dewi
"Ih ngada-ngada sih bapak mana bisa hamil kalo gak gituan," seru Pandu dengan polosnya
"Jadi kamu belum belah duren?" tanya Pak Yoga, Bapaknya Pandu
"Lah kapan punya cucunya kalau belum gituan ck," desis Bu Mila
Tak berapa lama Bu Endah dan Pak Sam datang ke rumah Pandu pagi itu, mereka sedikit senang mendengar kabar kehamilan Dewi.
"Assalamu'alaikum, Dewi... kamu bener hamil nak? Kalian hamil diluar nikah??" ucap Bu Endah yang langsung masuk dan menghampiri anaknya yang sedang duduk di kursi ruang tamu bersama Pandu dan besannya
"Enggaklah Ma, Dewi masih virrrgin," ucap Dewi sedikit malu
"Lah trus tadi Bu Mila kok telepon Papa bilang kamu hamil?" tanya Pak Sam
"Cuma kesalah pahaman ternyata Pak Besan hehe," ucap Bu Mila menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal
"Hmm kirain beneran. Kalau beneran kan mama Bahagia banget bentar lagi punya cucu," ucap Bu Endah
Kalau si Kunti hamil berarti bukan ma gue dong, nyentuh aja kagak, apa lagi lihat dalemnya. Penasaran gue isinya... ihh apaan sih nduu, batin Pandu
"Yaudah karena Mama sama Papa udah terlanjur kesini jadi sekalian aja ajak kamu pindah ke rumah kamu sendiri ya, Mama udah beliin rumah buat kalian," ucap Endah
"Wah asik dong Ndu lu dapet rumah gedong, Ibu ikut ya?" bisik Mila yang duduk disamping Pandu
"Apaan sih, kalo ibu ikut yang ada ibu jadi pengganggu hehe," Pandu balas berbisik
Dan akhirnya setelah perbincangan cukup panjang. Dewi bergegas mandi karena dia akan tinggal di rumahnya sendiri.
"Hemm bebas juga dari Ibunya Pandu," pikir Dewi
Pandu yang juga terburu-buru mandi menabrak Dewi dengan sengaja.
"Eh kuntilanak, Gue duluan ya? Lu mandinya lama soalnya haha," ujar Pandu yang langsung menyerobot masuk ke kamar mandi yang ada di luar rumahnya.
__ADS_1
"Aduh, bisa gak sih gak pake acara nabrak?" ujar Dewi menyeimbangkan tubuhnya yang sempat limbung akibat di tabrak Pandu.
Ia pun berdiri di depan kamar mandi menunggu Pandu. Karena kalau kembali ke kamarnya dia harus melewati tempat cucian piring yang jalannya sedikit licin dan tidak rata. Karena tidak di keramik atau di tegel. Masih berbentuk tanah dan banyak batu dan beberapa di paving.
"Ndu masih lama gak?"
"Gue beol ya lama lah?" teriak Pandu.
Dewi menguping dibalik pintu kamar mandi, ada suara berisik berasal dari ponsel.
"Lu beol sambil main game ya?" tanya Dewi
You has been slained (kamu telah di bunuh)
"Arghh berisik lu, mati kan gue," ujar Pandu kemudian meletakkan ponselnya di atas bak kamar mandi dan membersihkan kotorannya.
Dia sudah mandi, dan sudah selesai buang air besar hanya saja belum di siram karena tanggung sedang main game.
Dengan kesal Pandu cepat-cepat keluar dari kamar mandi. Bau aroma busuk menyengat tercium oleh Dewi
"Astaga bau banget hueeek.. Pantesan lama banget sambil main game sih. Gue do'ain hape lu nyemplung," ujar Dewi
Bruuuk
Pandu terjatuh dan ponselnya terbang menuju sumur.
"Ajegileeeeee!!!! Hape Pandu Buu!" teriak Pandu
Padahal itu bukan ponsel Pandu, itu milik tetangganya, Sabri yang dia pinjam semalam. Terdengar suara sewotan Pandu dan Ibunya yang bertengkar dan berakhir dengan menyalahkan Dewi karen doanya mujarab. Sementara Dewi yang tidak bisa melihat kejadian itu pun tertawa terbahak-bahak didalam kamar mandi.
Selesai mandi, Pandu minta Dewi tanggung jawab untuk ganti ponselnya. Kalau tidak Dewi tidak boleh pergi ke rumahnya yang baru dibelikan Bu Endah.
"Pokoknya Lu ganti tu hape,"
"Kok gue sih, ya salah lu lah hape di bawa ke kamar mandi,"
"Kalau lu gak mau ganti, gue gak ijinin lh keluar dari rumah ini. Lu kan istri gue sekarang jadi harus nurut apa kata gue," Pandu seenaknya.
__ADS_1
"Kalau gitu lu bilang aja tu sama nyokap gue, berani kagak lu," tantang Dewi
"Hah gak berani kan lu," ucap Dewi mengambil bedak dari tas kecilnya. Tas khusus perlengkapan make up. Dewi tidak bisa melihat dirinya sekarang dan untuk berhias diri pun dia hanya meraba dan memperkirakan tebal tipis bedaknya
Pandu hanya diam di kamar, sambil mengeringkan ponsel temannya di bawah kipas angin, berharap hidup kembali.
"Udah, gue mau ke depan. Cepetan lu siap-siap," ucap Dewi
"Dew, lu yakin mau keluar dengan dandanan kayak gitu haha kayak badut tau gak," cibir Pandu
Kemudian dia mendekati Dewi, "Gue bantu bedakin deh," Pandu mengambil tas kecil milik Desi yang berisi barang-barang make up dan mengeluarkan bedaknya.
"Lu yakin bisa," tanya Dewi ragu
"Bisa lah sini muka lu," Pandu membenarkan posisi wajah Dewi agar melihat ke arahnya.
Ada sesuatu yang menyetrum dirinya saat melihat wajah Dewi dari dekat. Pandu membenahi wajahnya dengan spons bedak. Ketika bedak sudah merata Pandu bergumam, "Cantik,"
Tiba-tiba saja dia mengecup bibir Dewi. Jantungnya berdetak sangat kencang. Begitu juga dengan Dewi yang merasakan ada sesuatu yang menempel di bibirnya. Spontan saja Dewi mendorong Pandu. Dia lupa jika Pandu adalah suaminya.
"Kurang ajar, lu apain gue hah?" teriak Dewi.
Pandu yang terdorong namun tidak terjatuh itu pun salah tingkah.
"So-sory khilaf," ucap Pandu kemudian mengambil ponsel temannya serta tas ransel yang berisi baju-bajunya.
Pandu juga membawakan koper milik Dewi. Sebenarnya wajah pandu langsung memerah. Itu pertama kalinya dia mencium Dewi tanpa maksud apapun tetapi karena pesona Dewi mampu menarik Pandu.
Dewi juga sama halnya, baru kali itu seorang pria mencium bibirnya. Padahal sudah sah namun Dewi masih belum mengijinkan seseorang menyentuhnya.
"Duh, gue dosa gak ya nolak suami. Idih kenapa juga sih Pandu nyium gue?" pikir Dewi
Begitu Dewi keluar dengan tongkat miliknya, Pandu menuntunnya keluar.
"Dew, soal tadi sorry ya bener khilaf," bisik Pandu
Tiba-tiba saja muka Dewi merona, Pandu melihat wajah Dewi yang tersipu malu membuat dirinya makin gemas.
__ADS_1
Meski keduanya belum tumbuh rasa cinta, tetapi sepertinya Pandu akan lebih dulu terpikat oleh pesona Dewi