Terpaksa Menikah Gadis Buta

Terpaksa Menikah Gadis Buta
Kredit Duluan


__ADS_3

Siang ini, keramahan berubah menjadi amarah saat Dewi memecahkan tiga piring sekaligus yang sudah dicucinya. Dewi bukan ceroboh namun belum terbiasa dengan suasana kondisi rumah Pandu.


Letak tempat cucinya berada di luar rumah, dekat sumur dan ada pompa juga di sampingnya. Ibu Mila menyuruh Dewi untuk mencuci disana dengan duduk dengan kursi kecil yang disebut 'Dengklek'.


Begitu selesai Dewi membawa semua piring kedalam. Padahal Dewi sudah berhati-hati namun dia salah menghitung jalan hingga tidak tahu jika ada satu anak tangga di depannya. Beruntung Dewi tidak terjatuh namun tiga dari lima piring yang ia bawa terlepas dari tangannya dan jatuh.


Bu Mila terkejut mendengar suara piring pecah. Ia pun memarahi Dewi dengan menenteng kedua tangannya di pinggang.


"Dewi! Hati-hati dong, kalau tidak bisa jalan kan bisa panggil Ibu atau Pandu. Kalau kayak gini kan pecah semua? Walaupun ini piring bonus beli sabun tapi tetep aja kan rugi dew rugi, ahhh bikin kerjaan aja ini. Sini piringnya, sekarang kamu istirahat aja. Nanti sore kamu harus nyapu halaman depan rumah ya!"


Begitulah omelannya. Dewi hanya bisa meminta maaf. Setelah memberikan sisa piring yang dibawa Dewi kepada Bu Mila, ia pun ke kamarnya. Takut, bingung, dan serba tidak enak.


Kesan pertama dimata Bu Mila, Dewi adalah seorang yang ceroboh. Padahal sebenarnya dia ingin menunjukkan jika dirinya bisa, meskipun dengan kondisi yang tidak sempurna


Ia pun merebahkan dirinya dan menangis.


"Ini baru hari pertama, dan aku melakukan kesalahan. Bagaimana kalau aku melakukan kesalahan lainnya? Astaga, tidak aku tidak boleh lemah. Aku tidak boleh melakukan kesalahan," ucap Dewi memberi semangat pada dirinya sendiri.


Pandu masuk ke kamar. Dewi langsung menyeka air matanya. Dewi tidak tahu Pandu dimana, dia tidak membahas masalah piring pecah. Tetapi dari suaranya dia sedang membuka lemari.


"Siapa?" tanya Dewi seraya beranjak duduk


"Ya gue lah, siapa lagi," ucap Pandu


"Eh Kunti, Lu gak usah ngelakuin kerjaan, bikin repot. Tuh yang ada Ibu marah," ujar Pandu


"Kalau gue gak ngelakuin kerjaan nanti ibu Lu marah. Gue jadi serba salah,"


"Kalau gue bilang gak usah, ya tandanya gak usah," ucap Pandu.


"Dah ya, gue mau main bola," ujar Pandu kemudian pergi dari kamar setelah mengganti kaosnya menjadi seragam bola kebanggaannya yaitu Argentina.


Siang itu pun Dewi tidur.


.


.


"Dewiii" panggil Bu Mila dari balik pintu.


Beberapa kali panggilan Dewi tidak menjawabnya, dia masih menikmati tidur siangnya saking lelahnya karena sebelum subuh dia sudah bangun untuk di rias.


"Dewi, sudah sore ini malah mau Maghrib astaga punya menantu pemalas banget sih," teriak Bu Mila

__ADS_1


"Hoii bangun!" pekiknya sambil memukul paha Dewi dengan pelan.


Dewi terbangun, sadar jika ada yang memanggil namanya.


"Ya Bu," jawabnya lirih karena sehabis bangun tidur pasti lemas.


"Bangun ini sudah mau Maghrib, sana mandi trus sholat. Sore tadi Ibu suruh nyapu halaman kenapa gak disapu?"


"Maaf ya Bu, Dewi ketiduran. Mungkin karena lelah....," ucap Dewi yang langsung di potong Bu Mila


"Halah alesan , bilang aja males. Mandi sana, bisa gak jalannya?"


"Benar Bu, sumpah Dewi ketiduran bukan karena disengaja, iya Bu bisa, Dewi bisa jalan sendiri kok," jawab Dewi


"Yaudah Dewi mandi dulu ya Bu" Dewi meraba tongkat jalannya yang dia sampirkan di samping ranjang. Lalu beranjak berdiri kemudian berjalan pelan menuju kamar mandi.


Mungkin ini hari sialnya Dewi.


Malam hari pun tiba. Dewi membantu mertuanya menyiapkan makan malam. Tapi Bu Mila geregetan dengan sikapnya yang lamban. Jelas lamban, karena Dewi ingin berhati-hati tidak ingin memecahkan apapun lagi, dan ia pun berhasil menyiapkan makanan tanpa tumpah.


Pandu belum juga pulang, sebenarnya pria itu menghindari Dewi. Selesai makan malam pun dia tak kunjung pulang, lalu dimana Pandu?


Dia sedang bermain game dengan teman-temannya di pos depan gang.


"Ntar lagi tanggung ni,"


"Lu gak malam pertama Ndu?" tanya Maulana lagi


"Ahhh pikiran Lu. Ogah gue, lagian gue mau malam pertama kek, malam kedua, ketiga masak iya sih gue ceritain ke Elu,"


"Kan biar belajar gitu haha," sahut Ipul yang sedari tadi diam karena fokus main game di layar ponselnya


"Ah jadi kalah kan, Lu sih banyak tanya jadi ga fokus nih," protes Pandu


"Heleh pake nyalahin, emang dasarnya Lu gak bisa haha. dah sono pulang," sahut Maulana mengusir Pandu dengan mendorong punggungnya.


Akhirnya Pandu pun pulang bukan karena ia mau melakukan malam pertama, bukan. Melainkan karena lapar.


Pukul sebelas malam, pria itu baru sampai rumahnya. Pandu yang bekerja menjadi penjaga rental internet dan game di malam hari memiliki kunci cadangan sendiri.


Pandu menutup dan mengunci kembali setelah masuk ke dalam. Pria itu langsung lari ke dapur dan mengambil makanan. Lauk masih ada banyak di meja makan.


"Boros banget sih bikin lauk banyak-banyak, kenapa gak secukupnya aja," pikir Pandu sambil melahap makanannya.

__ADS_1


Setelah makan Pandu ke kamarnya.


Dewi sudah tidur duluan, namun ia tidak menyisakan tempat tempat untuk Pandu. Tempat tidurnya kecil hanya untuk satu orang sebenarnya.


"Duh gile ya, gue tidur dimana coba?" Akhirnya Pandu mengambil tikar dan menggelarnya di lantai.


Malam itu Pandu tidak menyentuh Dewi sama sekali.


Keesokannya, Dewi yang tidak tau jika Pandu tidur di bawah, di samping ranjangnya. Ia menginjak muka Pandu yang sedang tidur terlentang.


"Ahh," teriak Pandu


Dewi pun kaget, karena yang dia injak bukanlah ubin.


"Astaga, ngapain lu dibawah," ucap Dewi


"Pake nanya, gue tidur dibawah. Duh sakit banget idup gue Lu teken. Mana bauk lagi," gerutu Pandu


"Eh kaki gue wangi ya. Itu iler Lu tuh nempel di kaki gue jadi bauk kan, ish pantes aja ada basah-basah," sahut Dewi


Pandu pun mengusap pipinya yang sedikit basah


"Eh iya iler gue ini haha, mau lagi gak?" tawar Pandu kemudian meleletkan ilernya di wajah Dewi.


Dewi pun langsung menepis dengan mengibaskan tangannya kedepan meski dia tidak bisa melihat yang penting asal kibas aja.


"Awas ya kalau kena muka gue,"


"Nih makan nih, haha" tapi Pandu berhasil memberikan ilernya di pipi Dewi


Dewi sampai ingin muntah di buatnya


"Huek- huek,"


Sementara Pandu terkekeh lebar


"Loh Bu, denger gak tuh kok Dewi udah huek huek, mual. Jangan-jangan langsung isi tuh," ucap Ayahnya Pandu


"Mana ada pak baru nikah langsung isi?"


"Mungkin aja, kalau Pandu kredit duluan gimana?" duga Ayahnya Pandu


"Astaga, bener pak! Pandu itu kan Badung, siapa tahu dia udah nyicil duluan. Wah kita bakal punya cucu pak, harus dirayain ini,"

__ADS_1


"Bener Bu, sana kabarin sama besan kita," ucap Ayahnya Pandu yang saat itu mau siap-siap ke kerja di luar kota tetapi ia undur lagi karena mengira Dewi hamil.


__ADS_2