
Malam pun tiba setelah Lana menghabiskan seluruh camilan pemberian Raul. Orang yabg katanya pelayan Raul, Lili, mengantar Lana ke sebuah kamar untuknya tinggal mulai sekarang.
Di sana semua barang-barang Lana sudah diletakkan saat dirinya berada di rumah sakit. Meski Lana mau terkejut melihat kamarnya yang baru, ia terlalu sibuk merenungi perkataan Raul.
Apa jangan-jangan Raul menyukainya sungguhan? Sebagai lawan jenis? Tapi kenapa? Mereka baru bertemu dan dia selalu memperlakukan Lana seperti hewan.
"Mungkin cuma iseng?" gumam Lana, memikirkan betapa banyak ucapan usil Raul padanya selama tiga hari mereka berinteraksi.
Benar. Ayo anggap itu iseng. Lagipula dia itu anak tiri Lana, walau Lana menolak mengakuinya. Pokoknya tidak. Lana cuma perlu bertahan hidup di sini sampai Luna bebas. Setelah itu, Lana pasti akan kabur. Ia tak sudi harus jadi istri pria tua itu.
Ayo tidur dan lupakan saja apa yang terjadi.
Dan mungkin besok Lana harus menyibukkan diri dengan beres-beres dan memasak agar menjaga jarak. Tidak baik jika benar Raul suka padanya padahal dia anak dari istri suaminya—sekali lagi, berat mengakuinya.
Besoknya :
"Lana." Raul melambaikan tangan persis setelah Lana bersih-bersih dan memasak. "Sini, Lana. Aku mau ngomong."
Terpaksa Lana datang sebab ia tak bisa melawan Raul. Pemuda itu baru saja pulang kuliah. Di tangannya ada bungkusan makanan dan minuman.
Entah kenapa, Lana sedikit goyah. Semua makanan yang diberikan Raul itu enak dan sangat berbeda dari ssmua makanan yang pernah Lana makan.
__ADS_1
Jadi sejujurnya ia tak menyesal soal itu.
"Mau boba enggak? Ini rasa baru. Terus, ini pizza."
Sepertinya Lana harus mengundur waktu menghindarinya jadi besok. Soalnya Lana adalah salah satu manusia yang belum pernah makan pizza seunur hidup.
"Kalo mau, Lana temenin aku nonton."
Eh?
Lana mengerjap bingung ketika tahu-tahu ia sudah duduk di depan televisi super besar dan ruangannya gelap. Raul memasangkan kacamata aneh padanya, lalu tiba-tiba seluruh tempat berubah.
Tapi Raul malah tertawa. "Ini film. Tenang aja. Itu cuma alat biar filmnya makin keliatan nyata."
Lana merasa sedikit tenang. Pada akhirnya ia duduk menonton. Mengira akan diberi film India—karena kemarin dia bercerita soal film India—tapi ternyata malah film kartun.
Frozen. Lebih tepatnya Frozen II.
Lana tidak protes. Ia suka film kartun dan tidak pernah menonton Frozen II.
Ketika film selesai .... Raul tertawa melihat Lana menangis.
__ADS_1
"Lana cengeng banget, yah? Masa nonton kartun malah nangis?"
Tangisan Lana menguat. Gadis itu memeluk dirinya sendiri dan terisak-isak jauh lebih keras daripada kemarin.
Tentu aaja itu membuat Raul mengusapnya. Melihat dia meringkuk ketakutan padahal barusan melihat ending bahagia.
"Kenapa, Lana? Filmnya jelek?"
Raul tersenyum merasakan tubuh Lana gemetaran. "Frozen itu bukan cerita soal perempuan punya kekuatan es," bisik pemuda itu.
Raul memeluk Lana. "Itu cerita soal perempuan yang dari kecil terkurung, pengen bebas, tapi enggak tau harus ke mana."
Raul menepuk-nepuk punggung Lana.
"Dia perempuan yang berusaha jadi ratu buat adeknya tapi diem-diem dia pengen pergi, sendirian, tanpa harus bikin siapa pun sedih."
Lana mencengkram pakaian Raul dan menumpahkan tangisan di sana. Ia juga ingin bebas. Ia menyesal melihat ini karena pada akhirnya, itu tidak nyata.
Kebebasan itu tidak nyata. Lana membencinya.
*
__ADS_1