Terpaksa Menikahi Pria Tua

Terpaksa Menikahi Pria Tua
TMPT - 38


__ADS_3

Lana pasti sudah terlalu jauh melintasi awan sampai lupa bahwa di bawah sana ia bisa terjatuh kapan saja. Dirinya yang tadi masih punya waktu memikirkan soal tubuhnya jadi gendut sekarang berlari pucat menuju gerbang, melihat Tante Imania datang bersama Luna.


"Luna."


Adiknya langsung datang memeluk Lana. "Kak Lana."


"Lana." Tante Imania ikut tersenyum. "Kamu apa kabar, Nak? Sehat kan di sini?"


"Iya, Tante." Lana merasa firasatnya jadi buruk karena kedatangan Tante Imania. Pasti niatnya bukan sekadar berkunjung. "Masuk dulu, Tante. Bentar aku bikinin minuman."


Dari kejauhan, Raul melihat pemandangan itu tak senang. Ia benci siapa pun yang mengganggu waktunya bersama Lana. Tapi Raul tahu ini pasti ulah Mama.


Raul tidak mengerti. Kenapa Mama harus mengganggunya? Padahal biasanya terserah Raul. Selalu terserah Raul.


Jangan bilang Mama ... tidak lagi peduli pada Raul?


Tidak mungkin. Mama bukan wanita yang bisa membuang anaknya begitu saja.


*


Sesuai perkiraan Lana, setelah ia menjamu bibinya sekaligus menunjukkan kamar agar dia bisa beristirahat, Tante Imania langsung menyuruh Luna pergi agar bisa bicara berdua dengan Lana.


Dan saat mereka sudah berdua ....


"Lana!" Wajah Tante Imania seketika dipenuhi kemarahan. "Kamu! Bisa-bisanya kamu main api sama anak Bu Dewi!"


Lana tersentak mendengar tuduhan itu. "Aku sama Raul enggak kayak yang Tante pikirin."

__ADS_1


"Enggak kayak gitu gimana?! Tante dateng ke sini karena Bu Dewi sendiri yang bilang! Dia bilang kamu godain anaknya bukannya ngurusin suami kamu!"


Lana mengatup mulutnya seketika. Ia memang memilih bersama Raul ketimbang mengurus suaminya, tapi Lana sedikitpun tidak bermain hati apalagi selingkuh dengan Raul.


Semuanya cuma permainan. Raul cuma sedang bermain rumah-rumahan dan Lana adalah boneka berbie yang dia letakkan di mana saja dia mau.


Jadi Lana tidak—


"Lana!" Tante mencengkram kuat lengan Lana. "Kamu masih perawan kan? Kamu enggak ngapa-ngapain sama anaknya Bu Dewi kan? Denger, Lana! Kalo sampe Bu Dewi nuntut kamu ke polisi, kita sekeluarga bisa malu!"


"Polisi?"


Sebagai orang desa, Lana selalu takut dengan kata polisi bahkan jika ia tak tahu apakah kasus ini benar-benar harus ditangani polisi atau tidak.


"Tapi, Tante, aku cuma—"


Berulang kali mencengkram dan meremas lengan Lana, mengguncangnya.


"Udah! Kamu enggak usah lagi deket-deket sama Nak Raul. Tante tau dia masih muda, ganteng, anak orang kaya tapi itu bukan bagian kamu. Yang kayak gitu seleranya juga bukan kayak kamu! Kamu fokus aja sama suami kamu!"


Lana berusaha keras untuk bernapas normal.


Tapi ia tidak pernah memandang Raul sebagai pasangan, adalah apa yang mau Lana katakan. Kalau ada selingkuhan yang ia punya, paling tidak selingkuhan batin, itu mungkin Yuda.


Lana memandang dia sebagai lawan jenis dan kalau Lana diberi pilihan, ia sangat mau jadi istri Yuda. Tapi Lana juga sadar tidak mungkin.


"Tante." Lana muak dengan ini. "Tante percaya sama aku," gumannya.

__ADS_1


"Lana, Nak, jangan kayak gini. Tante takut banget kalo sampe Bu Dewi bawa-bawa polisi."


"Enggak mungkin. Bu Dewi itu takut sama Raul!" balas Lana akhirnya, tak terima jika ia terus didesak. "Aku tau Tante takut, tapi aku juga enggak bodoh-bodoh banget."


"Aku enggak kayak gitu sama Raul. Dia itu cuma mainin aku jadi boneka! Jadi kayak anjing! Aku enggak ngarepin jadi siapa-siapanya!"


"Lana, dengerin Tante. Semuanya buat kamu."


"Enggak! Semuanya buat Tante!" Lana menutup wajahnya dan mulai terisak-isak.


Ia lelah bukan main. Kenapa harus selalu dirinya yang disuruh berkorban?


"Semuanya cuma buat Tante. Aku di sini enggak nikmatin apa-apa. Aku di sini malah harus usaha sendiri. Tante juga harusnya ngerti dong. Tolong, berenti nyuruh aku buat menuhin egonya Tante."


Tante Imania justru menatap Lana seolah-olah dialah yang paling tersiksa.


"Kalau kamu enggak jauhin Raul," Tante Imania tertunduk menangis, "Bu Dewi ngancem bakal ngirim orang ke rumah kita. Bu Dewi bilang bakal bakar rumah kita, kebun-kebun kita. Kalo kayak gitu, Lana, Luna gimana?"


Lana terbelalak.


Jadi maksudnya kalau ia tak pasrah ditekan lagi, maka Luna pun harus jadi korban?


"Tante jahat." Lana merintih pilu. "Tante jahat banget."


"Maaf. Maafin Tante. Kita mesti begini buat hidup, Lana."


Padahal yang hidup cuma dia!

__ADS_1


*


__ADS_2